
Sesampainya di depan ruangan Aleya, ia menoleh sejenak ke arah orang tuanya dan mertuanya yang sedang menunggu di luar. Mami Aleya mengangguk, mempersilakan Satya untuk masuk menjenguk putrinya.
Satya membuka pintu ruangan Aleya dengan perlahan. Terlihat disana, gadis yang dicintainya tengah bersandar sambil menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong.
Hati Satya semakin teriris kala melihat Aleya yang enggan menoleh ke arahnya. Pria itu melangkah mendekati sang istri sambil terus menatapnya dalam.
Saat berada tepat di depan Aleya, Satya menggenggam tangan hangat sang istri sambil menarik dagu Aleya agar menatap ke arahnya.
Aleya menatap Satya dengan pandangan datar. Namun tak berselang lama, bibir pucatnya melengkung sempurna diiringi dengan isak tangis yang terdengar pilu di telinga Satya.
Satya langsung memeluk Aleya erat. Ia menyandarkan kepala Aleya di dada bidangnya, berusaha membuat gadis itu nyaman di dekapannya.
"J-jahat". Ujar Aleya sesenggukan. Gadis itu memberontak di pelukan Satya sambil terus memukul dada pria itu berulang kali.
"Sorry honey, sorry". Ujar Satya lirih. Ia menenggelamkan kepalanya dilekukan leher Aleya sambil terus menggumamkan kata maan pada istrinya itu.
__ADS_1
"Sakit ya?". Tanya Satya sambil menyentuh kepala Aleya yang di perban, Aleya tak menjawab. Gadis itu hanya menatap Satya dengan sisa-sisa air matanya.
"Maaf honey". Ujar Satya dengan tulus. Ia kembali membawa Aleya kedalam pelukannya.
Awalnya, gadis itu enggan membalas. Namun, karena rasa rindunya lebih besar dari egonya, ia memberanikan diri untuk membalas pelukan Satya dengan erat dan nyaman.
"Jahat! Dasar suami jahat lo, Sat". Aleya menangis tertahan, membuat Satya mengerahkan telunjuknya ke bibir Aleya sebagai isyarat agar gadis itu berhenti menangis.
"Stop, jangan nangis lagi sayang. Kamu harus sembuh biar bisa cepet-cepet pulang ke rumah kita lagi". Ujarnya.
Satya sedikit menggeser tubuh Aleya agar tersisa sedikit ruang di brankar itu untuknya merebahkan tubuhnya. Ia membalik posisi Aleya agar gadis itu menghadapnya dan setelahnya, ia memeluk tubuh Aleya erat.
Satya menenggelamkan kepalanya dilekukan leher Aleya sambil terus bergumam. Mengatakan bahwa ia sangat menyayangi gadis yang menjadi istrinya ini.
"Sat, jangan gitu geli". Ujar Aleya saat Satya memberikan kecupan-kecupan dileher putihnya.
__ADS_1
"Beb aku mau tanya". Satya menghentikan aksinya mengecup leher Aleya, dan beralih minta izin untuk bertanya sesuatu pada gadis itu.
"Mau tanya apa?". Tanya Aleya.
"Sebelum kamu kecelakaan, kamu tahu gak siapa orang yang sudah nendang motor kamu?". Tanya Satya serius.
Aleya tak kunjung menjawab. Gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong, seolah menutupi siapa dalang yang menyebabkan ia kecelakaan.
"Kalau kamu gak mau jawab gak papa kok". Satya kembali bersuara, membuat Aleya tersadar dari lamunannya.
"Aku gak tahu siapa orang itu Sat, yang aku tahu dari postur tubuhnya dia laki-laki dan dia lawan aku balap. Selebihnya aku gak tahu sama sekali dia itu siapa dan niat dia buat bikin aku kecelakaan itu maksudnya apa?!". Ucap Aleya.
"Yaudah kalo kamu gak tahu, aku cuman pengen tahu aja siapa dalang dari kecelakaan kamu ini. Aku bisa cari sendiri minta bantuan sama anak-anak yang lain!". Ucap Satya dengan tatapan masih curiga ke Aleya. Ia yakin Aleya tahu siapa dalang yang buat dia kecelakaan tapi Aleya gak mau kasih tahu ke dia.
Deghh
__ADS_1
Jantung Aleya berdegup kencang setelah mendengar perkataan Satya barusan.