
Aleya menurut, ia membuka kain lebar berwarna hitam itu dengan perlahan. Setelah tahu apa yang berada di hadapannya, gadis itu berteriak sambil berjengkit kesenangan.
Ia berlari ke senangan menghampiri ke arah abangnya dan langsung menubruk tubuh kekar itu hingga Aldo nyaris jatuh.
Ia mengecup pipi Aldo berulang-ulang dengan mata berbinarnya, membuat Satya panas ditempat hingga wajah dan lehernya memerah.
"Makasih banyak Abang". Ucap Aleya.
Pelukan kakak beradik itu terlepas kala Satya menarik pinggang Aleya dan kembali memeluknya erat.
"Sat, gue mau bawak ini aja deh ke sekolah. Gak jadi bawak Jungkrik". Ucap Aleya sambil mencoba menaiki sepeda gunung listriknya.
"Nggak, apa-apaan sih lo, kalau ada apa-apa di jalan gimana?". Tanya Satya.
"Kan lo ngikutin gue dari belakang, Sat". Ucap Aleya. Wajahnya memelas, berusaha mengambil simpati dari Satya.
"Bolehin aja kali Sat. Lo ikutin aja dari belakang". Ucap Aldo menimpali. Satya hanya bisa menghela nafas kasar sambil menyetujui permintaan istri bar-barnya ini.
"Yes, yaudah ayo berangkat". Aleya dengan semangat menaiki sepeda listrik hitam abu-abunya itu. Sepeda listriknya ini pasti akan menjadi sorotan di sekolahnya nanti. Aleya jadi tak sabar untuk membawa sepeda listrik barunya ini. Pasti teman-teman di sekolahnya pada iri melihat Aleya memakai sepeda listrik yang diincar siswa-siswi di sekolahannya itu.
__ADS_1
Satya kembali ke teras rumah menuju motornya dan menunggu Aleya di jok motornya. Setelahnya pria itu melihat Aleya mulai menaiki sepeda listrik barunya.
Aleya melajukan sepeda listriknya dengan kecepatan sedang. Dibelakangnya, Satya dengan motor sport berwarna hitam biru tengah mengikutinya dengan kecepatan yang setara dengannya.
Melihat jalanan sedikit sepi, Aleya mulai menambah kecepatan sepedanya di atas rata-rata. Gadis itu menyeringai saat merasakan andrenalin mulai mengalir dalam dirinya.
Satya melebarkan matanya saat melihat Aleya melajukan sepedanya dengan kecepatan tinggi.
Pria itu dengan sigap menambah kecepatan motor sport nya dan mengejar Aleya dengan wajah khawatir. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istri nakalnya itu.
"Aleya please". Satya bergumam dengan wajah memerah seolah-olah memohon pada Aleya agar berhenti bermain-main dengan nyawanya sendiri.
Satya nyaris menggila saat melihat Aleya menyalip mobil bermuatan lebih dengan kecepatan pengendara sepeda tak biasanya.
Tak lama kemudian, Aleya menurunkan kecepatan sepeda listriknya saat dirinya sudah sampai di pagar sekolahnya.
Melihat gerbang yang nyaris ditutup, Aleya kembali melajukan sepeda listriknya dan melewati gerbang itu dengan lancar tanpa hambatan.
Melihat Ari, Deden, dan Farhan tengah nongkrong di depan kelas, Aleya melajukan sepeda listriknya dan melakukan atraksi mengangkat ban depan sepedanya sambil berdiri dengan keadaan kaki ada di pedal sepeda.
Ari dan teman-temannya bersorak saat melihat Aleya datang dengan sepeda listrik barunya. Gadis itu memberhentikan sepedanya dengan gaya ngepot membuat debu berterbangan dimana-mana.
__ADS_1
"Gila, gila keren banget" Ucap Deden sambil menghampiri Aleya.
"Boleh lah dibawah naik ke gunung". Sahut Ari yang diangguki oleh kedua temannya.
"Kenapa enggak". Jawab Aleya sambil mengendikkan bahunya acuh.
Aleya terkejut saat merasakan lengannya dicengkraman kuat oleh seseorang. Aleya mengurungkan niatnya saat hendak mengumpat saat tahu siapa pelaku yang sudah mencengkram lengannya hingga memerah.
Satya.
Pria itu menarik lengan Aleya, membuat gadis itu terseret di sepanjang lorong. Banyak siswa-siswi yang memperhatikan mereka dengan berbagai macam tatapan.
Satya membawa Aleya keujung koridor. Ia membenturkan tubuh gadis itu ke dinding dan mengungkungnya dengan kedua tangan.
Satya mencium bibir Aleya kasar. Pria itu tak memberikan Aleya jeda untuk bernafas walau sedetik. Ia benar-benar khawatir akan keadaan Aleya hingga membuatnya seperti ini. Memang istrinya ini harus sesekali diberi pelajaran.
"Sat hmmmmpt". Aleya sekuat tenaga memberontak dari kungkungan Satya. Namun, tenaga kecilnya tak cukup untuk mengeluarkan dirinya dari tubuh kekar suaminya.
Satya melepaskan tautan bibirnya dan menatap Aleya tajam, membuat nyali gadis itu menciut.
Satya menjatuhkan kepalanya dipundak Aleya. Ia benar-benar. sangat khawatir pada gadisnya ini. Aleya membuat Satya nyaris gila karenanya.
__ADS_1
"Bodoh". Umpat Satya.
Aleya terdiam tanpa berniat membalasnya. Jujur saja, dibalik ketakutannya, ia masih bingung dengan sikap Satya. Mengapa pria itu tiba-tiba bersikap kasar padanya.