
Aleya menatap Satya dengan pandangan tak percaya. Pria di depannya ini seperti bukan Satya yang ia kenal. Pria itu terlalu mudah termakan omongan daripada memilih mendengarkan penjelasan.
"Sat". Panggil Aleya lirih. Ia kembali mendekati Satya agar pria itu lebih tenang. Namun lagi-lagi, pria itu menyentaknya hingga Aleya terjatuh dengan siku terluka karena goresan lantai.
Aleya yang awalnya menatap Satya lemah, kini menajamkan pandangannya pada pria itu. Cukup sudah, dia punya harga diri, tak semudah itu untuk menjatuhkannya.
"BAGAS CUMAN BANTUIN GUE SATYA! KALO BUKAN KARENA BAGAS, GUE GAK AKAN PULANG SEKARANG, MUNGKIN GUE MASIH ADA DI DEPAN GERBANG SEKOLAHAN". Sentak Aleya sudah kelewatan emosi.
Satya semakin menajamkan matanya. Ia mendekati Aleya dan mencengkram baju Aleya kuat hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"OH JADI LO LEBIH BELAIN COWOK ITU DI BANDING GUE SUAMI LO SENDIRI?!!". Ucap Satya tak mau kalah.
Aleya menghempaskan cengkraman Satya di bahunya dengan kasar. Gadis itu berlalu menabrak bahu Satya dan mengambil jaket serta kunci motornya du samping TV.
Ia menatap Satya sekilas, sebelum akhirnya mengacuhkan jari tengahnya sambil berlalu dari sana. Meninggalkan Satya yang kini tengah berteriak di dalam apartemen.
"ARGHH BODOH LO SAT!!". Maki Satya sambil memukul kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
Pria itu mengambil jaketnya yang berada di lemari, dan berlalu dari kamarnya untuk menyusul Aleya.
Sepanjang perjalanan, Satya terus menggumamkan kata maaf. Ia benar-benar menyesal sudah berisikap kasar kepada istrinya itu.
Disisi lain, Aleya tengah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia melampiaskan kekesalannya itu di suatu tempat yang sudah menjadi tujuannya sejak awal.
Selang 30 menit, akhirnya ia sampai di tempat tujuannya yang sudah di penuhi oleh gerombolan pria yang tengah nongkrong di atas jok motornya.
Biasanya, Aleya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai kesini. Namun karena ia mengendarai motornya bak orang kesetanan, akhirnya dirinya hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba ditempat yang membuatnya tenang.
"Woi Le, tumben nih lo kesini. Biasanya harus di bujuk dulu baru mau kesini". Ujar salah satu pria yang tak lain adalah Ari. Dibelakangnya ada Deden dan Farhan yang tengah fokus dengan ponselnya.
Ari mengangguk. Ia paham maksud dari ucapan Aleya.
"Musuh lo anak motor geng sebelah. Sebenarnya dia lawan Farhan kali ini, tapi kayaknya Farhan juga gak minat". Ucap Ari.
Aleya mengangguk. Gadis itu mulai melajukan motornya, mendekati garis start yang berada di tengah jalan dengan seorang pria yang sudah siap di sebelahnya.
__ADS_1
Aleya memasang helmnya dan mulai men-stater motornya. Ia melirik sekilas ke arah sang lawan, lalu kembali memfokuskan pandangannya lurus ke depan.
Seorang wanita berpakaian seksi dengan bendera di tangannya mulai berjalan ke tengah-tengah arena. Wanita itu mengangkat benderanya ke atas. Dan dalam hitungan ketiga, bendera itu ia jatuhkan ke tanah.
Dan detik itu pun, suara motor terdengar memekakan telinga. Aleya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan sang lawan yang tertinggal jauh di belakang.
Gadis itu menajamkan penglihatannya ke jalanan di depan. Alisnya mengkerut, nyaris menyatu, membuktikan betapa fokusnya ia saat ini. Ia terus menarik pedal gas hingga membuat kecepatan motornya semakin meninggi.
Saat tengah fokus dengan jalanan di depannya, bayang-bayang Satya menatapnya tajam tiba-tiba melintas di pikirannya. Otaknya dipenuhi dengan sifat kasar Satya. Mulai dari pria itu membentaknya, hingga melakukan kekerasan fisik kepadanya.
Aleya memejamkan matanya saat merasa bayangan Satya mulai menguasai dirinya. Tanpa sadar, gadis itu mulai menurunkan kecepatannya, membuat sang lawan setara dengan posisinya ini.
Aleya tetap tak bergeming. Gadis itu masih terpaku dengan pikiran kosong. Hingga kesadarannya kembli pulih saat merasakan motornya oleng karena tendangan dari seseorang.
Aleya mencoba menyeimbangkan kembali motornya, namun gagal. Gadis itu terseret dan terpental jauh hingga punggunggnya terbentur pembatas jalan.
Aleya merasakan sakit yang teramat sangat. Seluruh badannya terasa remuk. Sayup-sayup, gadis itu membuka matanya perlahan. Kepalanya yang masih terbungkus helm, membuatnya kesulitan bernafas dengan baik. Hanya satu kata yang terlintas di benaknya saat ini.
__ADS_1
"Satya". Lirih Aleya sebelum akhirnya mata indahnya terpejam dengan sempurna.