Aleya

Aleya
Chapter 13


__ADS_3

Bel tanda jam pelajaran pertama sudah selesai, dan waktunya sekarang untuk istirahat. Semua siswa-siswi telah meninggalkan kelas dan pada berbondong-bondong pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar.


Namun tidak dengan dua sejoli yang masih berada di ruang kepala sekolah.


Sejak kejadian di perpustakaan tadi, dimana Aleya dana Satya kepergok oleh Pak Candra saat posisi mereka dibilang cukup intim, mereka di bawak ke ruang kepala sekolah dan di introgasi disana.


Dan jangan lupakan kedua orang tua mereka yang juga berada disana atas permintaan bapak kepala sekolah.


Sedari tadi, aura menegangkan di ruangan itu tak kunjung reda.


Bapak kepala sekolah, Pak Akbar, memandang merek dengan tatapan sulit di artikan.


Aleya dan Satya memandang Pak Akbar dengan malas. Bisa-bisanya mereka dituduh melakukan perbuatan tak senonoh di perpustakaan.


Sedangkan kedua orang tua mereka, hanya memandang mereka dengan tatapan yang mengisyaratkan kekhawatiran.


"Jadi bagaimana kalian bisa berbuat mesum di perpustakaan?".


BRAKKK!

__ADS_1


Tanpa ditanya, kalian sudah pasti tahu siapa yang menggebrak meja itu.


"Maksud bapak apa sih!". Sentak Satya.


"Bapak mau di pecat hah!". Sambungnya membuat Pak Akbar hanya menghela napas berat.


Walaupun Satya anak pemilik sekolah ini, tetapi papahnya telah menegaskan untuk berbuat adil jika memang Satya melakukan pelanggaran. Oleh sebab itu Pak Akbar tak terlalu takut dengan ancaman Satya.


"Satya, duduk!". Titah sang papah tegas.


Satria Bagaskara. papah Satya, manatap putranya itu sambil menghela napas kasar. Ia cukup bingung mana yang harus ia percaya. Sebagai pemilik sekolah, Dirinya juga malu jika anaknya benar melakukan perbuatan tak senonoh di sekolahnya.


"Pa, Satya gak mungkin gitu pa, Papa percaya kan sama Satya?". Ucap Satya memelas. Satria tak kunjung menjawab, Ia hanya menatap Satya datar sambil sesekali menghela napas kasar.


"Ma, mama percaya kan sama Satya?".Tanyanya. Salma hanya tersenyum, mencoba menenangkan putranya yang gunda gulana.


"Pak Satria yang terhormat, saya serahkan kasus ini sepenuhnya pada anda selaku pemilik sekolah". Ucap Pak Akbar final.


Satria mengangguk lalu melangkah keluar dari ruangan kepala sekolah, disusul oleh istri tercintanya.

__ADS_1


Aleya menghela napas berat, kemudian gadis itu ikut melangkah keluar bersama kedua orang tuanya. Sesampainya di luar, mereka di kejutkan oleh pekikan Salma yang terlihat kegirangan.


"Nindiii! Yaampun mimpi apa aku semalem bisa ketemu kamu disini?". Ucap Salma sambil memeluk Nindi, mama Aleya.


Nindi juga tak kalah senang. Ibu tiga anak itu memeluk Salma tak kalah erat.


"Saya senang bisa bertemu dengan anda lagi, Pak Adit yang terhormat". Ucap Satria, papa Satya.


Mereka berjabat tangan ala pria, membuat Satya dan Aleya yang sedari tadi diam, hanya memandang mereka dengan alis terangkat.


Ada apa dengan orang tuanya ini?.


"Kalian saling kenal?". Tanya Satya dan Aleya berbarengan, membuat Salma dan Nindi terkekeh kecil.


"Mamanya Satya ini, temen kecil mami. Kami udah lama gak ketemu, dan kami seneng banget bisa ketemu lagi disini". Ucap mami Aleya.


"Terus papa".


"Pak Adit ini, kolega terbesar di bisnis perusahaan papa. Dia juga yang bantu papa saat kemajuan perusahaan papa menurun drastis. Papa berhutang budi pada Pak Adit". Ucap Satria sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


"Bagaimana kalau nanti malam kita adakan makan malam bersama, juga untuk membahas masalah Satya dan Aleya tentunya". Sambung Satria yang diangguki oleh semua yang ada di sana.


Kecuali Aleya dan Satya yang masih menatap mereka dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.


__ADS_2