Aleya

Aleya
Chapter 48


__ADS_3

"Pasien kehilangan banyak darah dan tulang di bagian belakangnya retak karena benturan motor yang sangat keras, cedera di kepalanya pun sangat parah yang mengakibatkan pasien saat ini dinyatakan koma". Ujar sang dokter membuat Satya dan yang berada di sana mematung.


"Jika ingin menjenguk, Satu-satu saja dan dipastikan untuk menjaga ketenangan pasien. Setelah pasien di pindahkan ke ruang inap, baru boleh menjenguknya". Sambung sang dokter.


Setelahnya, dokter itu berlalu dari sana dengan suster-suster yang baru saja keluar mendorong brankar Aleya.


Satya menatap Istrinya yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan perban yang melilit di kepalanya. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat gadis yang biasanya beradu mulut dengannya kini terbaring tak berdaya. Dan semua itu karena kesalahan dirinya.


Andai saja ia bisa mengontrol emosinya, Aleya tak akan pergi dan berakhir disini. Andai saja ia tak berlaku kasar, istrinya tak akan koma saat ini. Andai saja ia mendengarkan penjelasan Aleya, mungkin semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Dan masih banyak andai-andai yang Satya sesali karena kegabahannya. Pria itu kemudian berjalan pelan mengikuti sang Mama dari belakang.


Perhatiannya teralihkan kepada tiga orang pria yang setia menatap brankar Aleya dengan pandangan khawatir.

__ADS_1


"Kenapa kalian bertiga bisa ada disini?" Tanya Satya membuat langkah tiga pria itu berhenti.


"Kita yang bawak Aleya kesini". Jawab Ari yang di angguki kedua temannya.


"Kenapa bisa?". Tanya Satya. Sepertinya ia mulai mendapatkan petunjuk tentang bagaimana Aleya bisa berakhir di rumah sakit.


"Aleya datang ke arema balap dan tiba-tiba minta ikut balap. Biasanya dia gak dateng kecuali lagi ada masalah dan butuh pelampiasan. Dan malam ini dia datang, kita gak tahu lawan Aleya siapa yang jelas ia licik dan curang. Dia tendang motor Aleya sampe Aleya jatuh terus nabrak pembatas jalan". ujar Farhan menjelaskan. Karena hanya dirinya yang tahu bagaimana keadaan Aleya, sedangkan Deden dan Ari sibuk mengejar si pelaku yang berhasil kabur.


Satya merutuki kebodohannya yang terbakar api cemburu. Hanya karena Bagas yang mengirimi Aleya pesan, membuatnya bersikap kasar pada Aleya hingga gadis itu memilih pergi ke arena balap dan berakhir di rumah sakit.


Satya berlalu pergi meninggalkan ketiga teman Aleya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu hanya ingin menemui istrinya. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja dan masih bisa tersenyum kepadanya.


Sesampainya di depan ruangan Aleya. Satya tak langsung masuk, Ia mentap Mami Aleya seolah meminta izin untuk menemui putrinya. Nindi mengangguk, mempersilahkan menantunya untuk menengok terlebih dahulu.

__ADS_1


Perlahan, Satya membuka pintu ruangan Aleya dan seketika netranya di sambut oleh gadis manis yang sedang terbaring dengan beberapa alat penunjang kehidupan yang menempel di tubuhnya.


Satya mendekat, Bahunya bergetar menahan tangis. Ia sungguh ingin menggantikan posisi istrinya saat ini. Hatinya benar-benar sakit melihat Aleya yang biasanya petakilan, kini terbaring lemah dihadapannya.


"Hai istriku". Sapa Satya sambil mengelus pipi Aleya yang sedikit bengkak.


"Maaf, maafin aku sayang". Satya sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar.


Ia menggenggam tangan Aleya dan mengelusnya secara pelan, seolah-olah takut jika sentuhannya menyakiti tangan Aleya yang sedang di infus.


"Wake up, honey". Ujar Satya yang tentu tak akan di jawab oleh Aleya. Gadis itu masih setia memejamkan matanya, ia enggan membuka matanya walau hanya untuk sekedar menyapa Satya.


"Jangan tidur lama-lama, aku butuh kamu". Sambungnya sambil mengecup kening Aleya lama. Setelahnya, pria itu pergi keluar dari ruangan Aleya dan membiarkan keluarganya untuk menjenguk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2