Aleya

Aleya
Chapter 41


__ADS_3

"Yaudah, bentar lagi abang kamu kesini. Mami suruh dia buat nemenin Satya". Sahut Nindi.


Aleya menganggukkan kepalanya. Gadis itu mengambil kunci sepedanya untuk bersiap berangkat ke sekolah.


"Mami, Papi. Aleya pamit berangkat ke sekolah dulu yah". Pamit Aleya sambil usil ke Papinya.


Nindi hanya menggelengkan kepalanya saat melihat interaksi ayah dan anak. Berbeda dengan suaminya, pria itu berdehem sambil membenarkan kerah kemejanya, bersiap membalas keusilan putrinya.


"Anak sama bapak, sama aja". Gumam Nindi tak habis fikir melihat kelakuan suami dan anaknya.


Setelahnya, Aleya pamit dan meninggalkan kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa, gadis itu membawa sepeda listrik barunya ke sekolah.


Sejujurnya kemarin, Aleya sudah merencanakan akan naik ke gunung. Namun karena kondisi Satya yang sedang sakit, gadis itu membatalkan niatnya dan lebih memelih untuk merawat Satya daripada ikut balapan.


15 menit berlalu, akhirnya Aleya sudah sampai di sekolahnya walau hampir saja telat. Gadis itu bersiul kecil tanpa memperdulikan siswa-siswi yang sedang menatapnya sepanjang jalan.


Saat baru saja tiba, Aleya langsung di sambut dengan celotehan Tari yang super cerewet. Gadis itu menarik lengan Aleya dan membawanya duduk di kursi sebelahnya..


"Aduh gawat nih Al". Ujar Tari sambil menggigit jarinya cemas.


"Gawat kenapa". Tanya Aleya heran.


"Lo tahu gak, hari ini Buk Susi masuk. Dan dia ngadain kuis dadakan sekarang. Mana di jam pertama lagi, lo tahu kan gue paling gak bisa mikir kalo mendadak kayak gini". Ucap Tari heboh.

__ADS_1


Aleya menjitak kepala Tari cukup keras hingga sang empuh mengaduh. Gadis itu menatap kesal kearah sahabatnya.


"Gui gik bisi mikir". Ucap Aleya menyenye.


"Bacot lo, Tar". Sambung Aleya.


Tari terkekeh sambil menatap Aleya dengan wajah polosnya. Gadis itu mengeluarkan buku dari tasnya tanpa berniat membalas ucapan Aleya. Untuk saat ini, ia kalah telak.


"Woi woi, Buk Susi sudah dateng". Seruan Ari membuat kelasnya yang awalnya berisik, mendadak sunyi seketika.


Selang berapa detik, seorang wanita berusia sekisaran 45 tahun memasuki kelas Aleya dengan atribut serba putih. Dan jangan lupakan berbagai bentuk benang dan jarum karung memenuhi tangannya.


Sebut saja Buk Susi. Nama aslinya Susila Handayani


"Selamat pagi Buk Susi". Sahut siswa-siswi dengan malas.


"Seperti yang kalian ketahui, hari ini kita akan mengadakan kuis dadakan. Karena minggu lalu kita sudah membahas materi-materi yang belum kalian mengerti. Dan hari ini ibu ingin mengetes kalian dengan materi yang udah Ibu jelasin minggu lalu. Apakah kalian masih ingat atau tidak? Kita lihat nanti". Ujar Buk Susi


Para siswa-siswi yang mendengarkan perkataan Buk Susi mendengus malas sambil mereka mengeluarkan buku dan pulpen untuk mereka catat.


"Ibu panggil dari absen terakhir yah". Na'as. Siswa-siswi yang awalnya mengira Buk Susi akan mengabsen mereka, nyatanya salah. Buk Susi malah semakin membut siswa-siswinya semakin ketar-ketir. Pasalnya, menjawab kuis itu tidak mudah, apalagi kuis soalan ekonomi.


Belum lagi Buk Susi yang menyebalkan luar biasa. Tidak bisa menjawab kuisnya, maka mereka akan mendapatkan hukuman.

__ADS_1


"Absen terakhir, Zikri Abdillah".


Terlihat dari bangku belakang, Zikri berjalan maju kedepan dengan percaya diri. Wajar saja, ia merupakan deretan siswa pintar di kelas Aleya. Pasti ia sudah mempersiapkan jawaban pertanyaan dari Buk Susi dengan baik.


Zikri mulai menjawab kuis yang diberikan oleh Buk Susi kepadanya. Jawaban Zikri mampu membuat teman sekelasnya berdecak kagum karena jawabannya benar semua dan di jawab oleh Zikri dengan lantang tanpa hambatan.


Setelahnya, beberapa siswi kembali di panggil. Hingga giliran nama Tari yang di panggil dan itu membuat dia semakin panik di tempat.


Pertanyaan adalah \= Production Possibility Curve (PPC) adalah kurva yang menunjukkan?


Tari semakin panik ketika Buk Susi menyebutkan soal kuisnya.


"Jawab Tari kamu jangan diam saja". Ucap Buk Susi.


"Itu eeh...". Ucap Tari bingung


"Itu eeh apa Tari, kamu ini gimana bisa jawab apa tidak?". Ucap Buk Susi ngegas.


"Bi-bisa buk". Ucap Tari gugup.


Jawabannya adalah \= Berbagai kemungkinan kombinasi output/produksi barang maksimum yang dapat dihasilkan pada saat sumber daya ekonomi dan teknologi digunakan sepenuhnya


"Yasudah kamu duduk sana, sekarang absen nomor urutan ke tiga Aleya Anatasya Putri .W. Silakan maju kedepan sekarang!". Ucap Buk Susi lantang.

__ADS_1


Dan tibalah giliran nama Aleya yang di panggil, untungnya dia termasuk murid yang pintar walaupun nakal. Dan dia menjawab pertanyaan kuis itu dengan benar dan santai, tidak seperti Tari yang lama dan gugup.


__ADS_2