
Hari semakin malam dan awan biru sudah berubah menjadi gelap, membuat penglihatan Satya sedikit terganggu. Pria itu dari tadi ketar ketir karena tak kunjung menemukan istrinya yang menghilang.
Tangannya yang mencengkram stir motor mulai berkeringat. Bahkan wajahnya pun memerah menahan tangis. Apapun yang bersangkutan dengan Aleya, memang sensitif bagi Satya.
Saat tengah melajukan motornya dengan kecepatan sedang, fokus Satya dialihkan ke ponselnya yang berdering. Ia pun menepikan motornya di halte.
Terlihat nama Mamanya yang memenuhi layar ponselnya. Satya menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari Mamanya. Baru saja pria itu hendak mengucap salam, perkataannya terpotong oleh ucapan Mamanya yang nyaris membuat detak jantung Satya berhenti saat itu juga.
"Mika koma".
Dua kata yang berhasil membuat Satya mematung detik itu juga. Bahkan air matanya mulai mengalir diiringi dengan isakan kecil dari bibir tipisnya
__ADS_1
Satya menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang hinggap disana. Ia yakin istrinya itu gadis yang kuat, ia yakin istrinya pasti akan selamat dan bangun dari koma. Saat ini, bukan waktu yang tepat untuk Satya meratapi kesalahannya.
"Sayang, maaf". Gumam Satya sambil kembali melajukan motornya menuju rumah sakit.
Tangan pria itu bergetar hebat. Cengkramannya pada stri motor semakin menguat. Memperlihatkan betapa takutnya dia saat ini.
Bahkan ia beberapa kali kehilangan fokus mengemudinya, membuat beberapa pengendara mengklakason kendaraan mereka karena kesal dengan Satya yang ugal-ugalan membawa motornya.
Selang beberapa menit, Satya tiba di rumah sakit tempat Aleya di rawat. Beruntung Mamanya dengan cepat mengirimkan lokasi padanya, membuat ia tak susah-susah melacak keberadaannya. Karena Satya tahu, jika sang Mama sudah khawatir maka wanita itu tak akan memperdulikan sekitarnya, bahkan anaknya sekalipun.
Hingga netranya terpaku pada dua keluarga yang sedang berada di ruang ICU. Disana ada kedua orang tua Aleya dan juga kedua orang tuanya. Satya memejamkan matanya, mencoba mengingat nama ketiga teman Aleya. Kalau tak salah namanya Ari, Deden dan Farhan. Pikir Satya.
__ADS_1
Setelahnya, pria itu tak memperdulikan kehadiran teman-teman Aleya. Ia langsung beranjak menghampiri sang Mama sambil bertanya bagaimana keadaan istrinya.
"Ma, Aleya baik-baik aja kan? Satya cuman pengen denger kalau Aleya baik-baik aja di dalam". Ujar Satya. Suaranya melirih, membuat Salma tak tega dan langsung memeluk putra sulungnya itu.
"Berdoa ya nak". Ujar Salma menguatkan.
Mereka pun kembali hening tanpa suara. Hingga tiga jam lamanya, seorang dokter dengan pakaian berwarna putih baru saja keluar dari ruangan itu.
Satya langsung berdiri tegak dan menghampiri sang dokter dengan jantung yang berdegup kencang.
"Dok istri saya gak papa kan dok? Dia baik-baik aja kan di dalam?". Tanya Satya sambil mengguncang bahu sang dokter.
__ADS_1
Demi apapun, ia hanya ingin mendengar bahwa Aleya baik-baik saja. Hanya itu gak ada yang lain.
"Pasien kehilangan banyak darah dan tulang di bagian belakangnya retak karena benturan motor yang sangat keras, cedera di kepalanya pun sangat parah yang mengakibatkan pasien saat ini dinyatakan koma". Ujar sang dokter membuat Satya dan yang berada di sana mematung.