Aleya

Aleya
Chapter 25


__ADS_3

"Aleya berhenti, gue bisa jelasin". Teriak Satya


Aleya terus berlari tanpa menghiraukan ucapan Satya. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini keluar juga. Aleya merasa harga dirinya sebagai seorang perempuan, dipermainkan oleh Satya. Calon suaminya sendiri.


"Gue gak akan mau nikah sama lo, Satya. Gue gak mau lo nyakitin hati gue lebih dalam lagi". Gumam Aleya sambil terus berlari.


Kini ia sudah berada di luar sekolahnya. Tanpa menghiraukan teriakan satpam penjaga gerbang, Aleya terus berlari menyusuri jalan. Beberapa kali kakinya tersandung karena dia berlari dengan tak hati-hati, Aleya terus belari walaupun sedikit tertatih-tatih.


"Ish". Aleya menoleh kebelakang terlihat disana Satya masih mengejarnya.


Satya semakin mendekat. Sementara Aleya semakin kesulitan berlari. Karena kakinya kesakitan.


"Aleya gue mohon lo berhenti dulu, Please Le gue bisa jelasin". Lirih Satya. Tangannya hendak menggapai lengan Aleya namun ditepis kasar oleh gadis itu.


"Sampai kapan pun gue gak sudi jadi istri lo". Ucap ketus Aleya sambil terus berlari.


"Aleya lo salah paham". Suara Satya kian melemah. Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ia tak ingin mengacuhkannya seperti ini.

__ADS_1


Aleya tak mempedulikan ucapan Satya. Gadis itu hendak menyebrang, membuat Satya kelimpungan.


"Aleya stop, gue mohon". Lirih Satya berusaha meraih pergelangan tangan Aleya namun gadis itu sudah terlanjur menyebrang.


"ALEYA!". Satya berteriak histeris saat melihat Aleya terserempet mobil kijang biru.


Aleya tergeletak lemah di asapal dengan kendaraan yang melaju kencang di kanan kirinya. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan terdengar jelas di telinganya.


Ia sempat menoleh kebelakang, terlihat Satya yang menatapnya penuh cemas. Pria itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, tak percaya dengan kondisi mengenaskan Aleya. Terlihat dari gelagat Satya yang hendak menghampiri Aleya, namun terhalang oleh kendaraan yang berlalu lalang di depannya.


Melihat Satya yang sulit menyebrang, Aleya menggunakan kesempatan itu untuk segera berlari menjauh dari Satya. Ia berlari dengan tertatih-tatih karena luka di kakinya yang lumayan parah, membuatnya kesulitan untuk berjalan.


Hingga saat jalanan mulai sedikit sepi, Satya menajamkan penglihatannya ke seberang. Namun, Aleya telah menghilang.


"Aleya". Lirih Satya bersamaan dengan buliran bening yang jatuh dari pelupuk matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sore hari di bawah teriknya matahari, Seorang gadis dengan seragam pramuka yang lusuh tengah berjalan dengan tertatih-tatih. Kakinya yang mengeluarkan banyak darah karena tergores badan mobil, ia seret sepanjang perjalanan. Membuat bekas darah berceceran dimana-mana.


Gadis itu adalah Aleya. Walau merasakan sakit yang teramat sangat, Aleya tetap menguatkan dirinya untuk terus melangkah walau keadaannya bisa dibilang cukup parah.


Aleya menghentikan langkahnya dibawah pohon rindang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya disana dan menyandarkan kepalanya ke batang pohon. Ia. memejamkan matanya, Aleya menangis tanpa mengeluarkan isakan.


Ia kembali membuka kelopak matanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jjur dirinya tak tahu dimana ia berada sekarang. Di sekelilingnya hanya hutan dengan bebeberapa rumah kecil. Sepertinya ia berada di sebuah desa dikotanya.


Cukup beristirahat, Aleya kembali melanjutkan langkahnya dengan tertatih-tatih dan kepala yang menunduk. Kakinya ia paksa berjalan walaupun sakit, lengannya yang terus mengeluarkan darah ia tekan dengan kuat.


Aleya berhenti sejenak. Ia melepas dasi pramuka yang melingkar di lehernya lalu ia melilitkan dasi itu ke lengan kanannya. Sekarang dasi merah putih itu sudah berubah menjadi merah gelap.


Aleya kembali melanjutkan langkahnya. Hingga ia merasa tubuhnya mulai melemah, kepalanya berkunang-kunang, lengan dan kakinya semakin terasa sakit.


......................


Next:)

__ADS_1


__ADS_2