Aleya

Aleya
Chapter 16


__ADS_3

Jadi gimana keputusan kalian berdua?". Tanya Satria pada Aleya dan Satya.


Aleya berdehem, berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Disampingnya, ada maminya yang senantiasa menenangkan Aleya sambil tersenyum.


Aleya menatap maminya, terlihat sekai jika maminya menatapnya penuh harap. Dan itu membuat Aleya tak perlu memikirkan jawabannya berulang kali.


"Saya bersedia om, menerima perjodohan ini!". Ucapnya, menatap Satria tegas dan tak terbantahkan. Senyum Nindi dan Adit semakin melebar mendengar jawaban Aleya.


"Yes, Alhamdulillah mama punya menantu juga akhirnya". Salma jingkrak-jingkrak sambil terus bersyukur, membuat Aleya dan yang lainnya menatapnya cengo. Terkecuali Satria yang meringis karena tingkah sang istri.


"Satya?". Tanya Satria, menunggu jawaban dari sang putra.


Satya mengangguk tegas lalu kembali menatap Aleya yang hanya menunduk sambil memainkan jari-jemarinya.


"Aleya, di lihatin Satya tuh". Goda Nindi membuat Satya segera berpaling dan menunduk.


Aleya mendongak menatap Satya dengan alis terangkat membuat Satya mati kutu.


"Ehem, mungkin mereka perlu waktu berdua". Ucap Nindi yang di angguki oleh semuanya. Nindi dan Adit beranjak, diikuti oleh Salma dan Satria. Mereka pergi meninggalkan Aleya dan Satya berdua.

__ADS_1


Aleya dan Satya sama-sama bungkam. Mereka memilih diam, bingung untuk memulainya darimana. Padahal mereka baru saja mengobrol berdua beberapa menit yang lalu, sekarang sudah ditinggal berdua lagi.


Beberapa bulan lagi, hubungan keduanya akan memasuki jenjang yang lebih serius lagi, pertunangan.


Tidak terpikir oleh Aleya bahwa dirinya akan bertunangan dengan Satya, pria paling menyebalkan dalam hidupnya.


"Aleya". Panggil Satya.


Aleya mendongak dengan satu alis terangkat. Satya berdehem. Sial, kenapa dirinya bisa segugup ini? Ini jelas bukan satya yang biasanya bersikap dingin dan cuek.


"Lo gak keberatan kan dengan perjodohan ini?". Tanya Satya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Aleya.


Biasanya jika di dekat Satya, Aleya akan berteriak-teriak tak jelas, mengumpat, atau bahkan melempar barang di sekitarnya ke arah Satya. Tapi tidak seperti sekarang, Aleya seperti orang asing. Tatapannya, gerak-geriknya, cara bicaranya, berbeda sekali dengan Aleya yang biasanya. Dan entah kenapa Satya benci itu.


Ada perasaan aneh dalam dirinya saat melihat raut asing di wajah Aleya. Semacam perasaan khawatir, Maybe?


"Aleya". Panggilnya lagi.


Aleya mendongak dan menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Kenapa lo diam aja dari tadi? Lo kayak bukan Aleya yang gue kenal, lo keberatan dengan perjodohan ini?". Tanya Satya.


Sesat selelah Satya bertanya seperti itu, Aleya mendongak dan menatap Satya sepenuhnya dengan raut wajah serius. Kemudian gadis itu menghela napas berat dan kembali menunduk.


"Gue cuman takut setelah ini gue gak bahagia, gue gak ngerasain yang namanya kebebasan, gue gak bisa main sama temen-temen gue, gue gak bisa ikut balapan lagi, gue gak bisa hangout, dan gue gak bisa pergi kemana pun dengan bebas lagi. Gue takut, gue takut dikekang". Keluh Aleya panjang lebar.


Satya terkekeh, membuat Aleya mengerutkan keningnya. Apa yang lucu?.


Setelahnya, pria itu memandang Aleya hangat membuat darah Aleya berdesir. ****, apalagi ini kenapa jantung gue selalu berdetak ketika Satya menatap gue? Batin Aleya.


"Lo tenang aja, gue gak akan ngerebut kebebasan lo selagi itu masih masih di batas wajar, lo gak perlu khawatir". Ucap Satya dengan senyum tipisnya.


"Gue juga mau satu hal". Sambung Aleya. Satya mengangkat alisnya, menunggu jawaban dari gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi tunangannya itu.


"Gue mau lo rahasiain ini dari siapapun itu cukup keluarga kita aja yang tahu".


"Oke, gak masalah".


......................

__ADS_1


Next:)


__ADS_2