Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat

Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat
Episode 26


__ADS_3

Kediaman Internasional Kejora


Ika malu dengan kelakuannya sendiri yang menghina Erfin sebagai orang miskin. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena memutuskan Erfin ini selaku anak konglomerat yang juga mencintainya, dan malah memilih Liven yang tidak bertanggung jawab itu.


Ika membuang rasa malunya dan mendekati Erfin, dia pun berkata "Erfin, jujur kamu masih mencintaiku kan? kenapa hubungan kita tidak lanjut saja?"


Erfin merinding mendengarnya, Ika ini dengan tidak tau malunya mengubah sikapnya tiga ratus enam puluh derajat.


"Maaf tapi aku sudah punya pacar" ucap Erfin singkat


"Apa?? bahkan sekarang kamu sudah punya pacar?" ucap Ika lesu. Memang pantas anak orang kaya cepat mendapat pacar.


Tapi Ika berkata lagi dengan tidak tahu malu "Kalau begitu, bisakah malam ini kita makan malam bersama? tapi jangan bawa pacarmu, aku hanya ingin membahas sesuatu saja denganmu" ucapnya lagi.


Malam ini dia akan merencanakan sesuatu untuk menjebak Erfin. Apa pun yang terjadi, Erfin harus menjadi miliknya.


"Sayang sekali, malam ini pacarku mau main kerumahku, jadi aku harus menemaninya" ucap Erfin


Dia tidak tau apa yang direncanakan Ika kali ini, tapi dia masih menjaga perasaan Nisa. Dia tidak mau membuat Nisa kecewa padanya


"Kalau begitu ambil nomor whatsapp ku, hubungi aku jika kamu ada waktu" ucap Ika sambil menulis nomornya diselembar kertas lalu memberikannya


Tapi apakah Erfin akan menerimanya? Dia hanya mengambilnya dan berpura-pura memasukkannya kedalam ponselnya


Orang gila seperti Ika ini, dia tidak mau berurusan lagi dengannya. Apalagi dia mau menjadi pacarnya, apakah dia sakit jiwa? dia mau memberikan Erfin barang bekas? sungguh tidak tahu malu.


...


Di sisi lain, Nisa sedang berbaring diatas tempat tidurnya, dia hanya memakai atasan tank top dan bawahan top short, memperlihatkan paha mulusnya yang jenjang, dan dadanya yang hampir tidak bisa bernafas karena ketatnya tank top yang dia pakai.


Dia sedang melihat jurnal perekonomian toko baju yang didatanginya bersama Erfin tempo hari. Ayahnya memberikannya untuk mengelolanya sendiri.


Sebenarnya dia tidak mau dipusingkan dengan hal-hal semacam ini, tapi ayahnya memaksanya untuk tetap menjalankannya hanya untuk melatih Nisa agar kedepannya dia tidak mempermalukan Erfin ketika menjadi istrinya.

__ADS_1


Pak Kiki sudah menganggap Erfin sebagai anak mantunya, jadi tidak salah jika dia menyuruh Nisa untuk belajar berbisnis agar bisa membantu Erfin kedepannya dan tidak memperlambatnya dalam berbisnis.


"Aahh membosankan sekali harus mempelajari sendiri jurnal ini, aku harus ke vilanya Erfin malam ini untuk menenangkan diri" gumam Nisa


Menurutnya tempat ternyamannya hanya pada saat bersama Erfin saja, jadi malam ini dia harus ke vilanya


Matahari pun perlahan ditelan bumi, senja kini berganti malam dan Nisa pergi ke vilanya Erfin untuk menenangkan diri.


Biasanya dia pulang dijemput supir pirbadi pada tengah malam, walaupun dia membawa mobil sendiri tapi karena Nisa perempuan, ayahnya tetap harus menyuruh supir dan pengawalnya untuk menjemputnya. Sementara mobil Ferrari Nisa dibawa oleh pengawalnya.


...


Keesokan harinya, karena rumah di Kediaman Internasional Kejora sudah di beli. Jadi Erfin berencana memanggil ibu nya untuk tinggal bersama.


Erfin menelpon Riko untuk mengabsenkannya untuk beberapa hari ini, untuk mahasiswa titip absen itu sudah biasa, bahkan sampai menyingkatnya dengan kata 'Tipsen'. Sungguh anak jaman sekarang ini sukanya mempersimpel kata-kata dengan mempersingkatnya.


Pagi ini dia naik taxi untuk kepelabuhan, dia tidak mau merepotkan Abi untuk hal-hal kecil seperti ini.


Dikapal, butuh kurang lebih lima jam untuk sandar di kota Tanjung.


Desa yang terlihat sangat damai di luar, tetapi di dalamnya masyarakatnya saling memaerkan materi. Para orang tua saling membanggakan anaknya yang bekerja di kota diperusahaan besar.


Erfin sampai di depan pintu rumahnya, rumahnya ini hanya menggunakan dinding papan yang sudah sedikit lapuk. Sementara atapnya memakai seng standar, terlihat jika Erfin dulunya sangat miskin.


Itupun untuk membangun rumah ini, kakak tertua Erfin yang membantu sedikit uang. Karena dia juga hanya karyawan biasa diperusahaan kecil di kota, dia juga harus menanggung istri dan anaknya.


Jadi untuk menghindari kemiskinan dimasa depan, ibunya menyuruh kakaknya ini menguruskannya beasiswa pada saat Erfin masuk kuliah, karena diantara saudaranya yang lain, tidak ada yang melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang universitas.


Jadi Erfin lah harapan ibunya satu-satunya, agar mendapat pekerjaan yang lebih layak dan bisa hidup dengan nyaman.


Erfin mengetuk pintu beberapa kali tanpa mengeluarkan suara. Terdengar suara berat didalam rumah, tentunya itu ibu Erfin


"Siapa?" tanya ibunya sambil membuka pintu

__ADS_1


Setelah membuka pintu, ibunya terkejut sejenak lalu berkata "Mengapa kamu pulang? memangnya kamu tidak kuliah?"


Sementara Erfin sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia dengan tiba-tiba memeluk ibunya dengan erat


"Ibu..aku pulang" ucap Erfin


Mendengar perkataan Erfin barusan, ibunya semakin khawatir "Kenapa? apakah kamu dikeluarkan dari penerima beasiswa?" tanya ibunya semakin khawatir


Erfin yang mendengar ibunya yang khawatir, dia langsung melepaskan pelukannya dan berkata "Tidak bu, aku hanya rindu ibu dan kasihan melihat ibu tinggal digubuk seperti ini"


"Tenang saja bu, aku sudah membeli rumah di kota puhul, jadi kita tinggal di sana saja" ucap Erfin menenangkan


"Kamu dapat uang dari mana? bahkan untuk mengumpulkan semua uang beasiswamu saja tidak akan cukup untuk membeli satu rumah, kamu tidak mencuri kan?" tanya ibunya khawatir lagi. Dia lebih baik hidup melarat dengan keadaannya yang biasa dari pada harus mencuri.


"Tidak bu, aku baru saja memenangkan lotre. Dan aku menginvestasikannya ke ayah teman aku, jadi aku sekarang berbisnis bu"


"Rumah itu aku beli dari sisa uang yang aku investasikan" ucap Erfin lagi. Dia tidak mau ibunya memikirkan yang tidak tidak.


"Sudahlah..aku hanya ingin kamu menjalani hari-hari kuliahmu dengan baik"


"Aku sudah senang mendengar kamu tidak dikeluarkan dari penerima beasiawa" ucap ibunya. Tentunya dia tidak akan percaya omongan Erfin


Erfin juga tahu bahwa kejadian seperti ini akan terjadi, jadi dia berniat membawa ibunya ke toko-toko yang ada di kota. Dia ingin memanjakan ibu nya kali ini dan juga agar ibunya bisa percaya kepada Erfin


"Bu..ikut aku ke kota, aku akan membelikanmu pakaian dan tas mahal" ucap Erfin


"Tidak perlu, ibu masih banyak pakian yang belum terpakai. Kamu janganmenggunakan uang beasiswamu itu boros-boros ya" ucap ibunya


Erfin hanya bisa pasrah melihat ibunya yang tidak memercayainya, dia pun berkata "Bu..apakah ibu pernah mendengarku berbohong?"


Jelas tidak lah, jika dia pernah mendengar Erfin berbohong itu tidak akan menjadi kebohongan lagi.


Tapi ibunya berkata dengan nada pasrah "Ya sudah..sekalian kita jalan-jalan juga" ucap ibunya dan masih tidak percaya

__ADS_1


Erfin hanya mendengarnya dan tidak melanjutkan untuk membuatnya percaya lagi


__ADS_2