
Erfin membawa ibunya ke kota dengan menggunakan taxi.
Hari ini dia harus mengajar ibunya untuk terbiasa hidup kaya, agar pada saat dia membawanya ke kota puhul, dia akan terlihat lebih bermartabat dan orang-orang mengiranya bahwa memang ibunya ini dari keluarga kaya yang tersembunyi.
Sebenarnya niat Erfin bukan itu, intinya dia harus membuat ibunya bahagia dengan perbuatannya.
Dia akan membuat ibunya seperti ratu dari sebuah kerajaan yang besar nan luas.
Didalam taxi, Erfin menatap muka ibunya yang mulai muncul keriput, harus diakui bahwa ibunya ini sudah tidak muda lagi dan dia akan membahagiakannya di sisa hidupnya ini.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu?" tanya ibunya. Setelah pulang dari kota puhul, anaknya ini sudah banyak berubah.
"Nyonya Nuja yang terhormat..sebentar lagi nama itu akan ibu dengar dari orang-orang" ucap Erfin sambil tersenyum
"Bodoh!..kamu memang harus menghormatiku karena kamu anakku, memang pantas kamu memanggilku seperti itu" ucap ibunya, Nuja. sambil tersenyum
Erfin juga tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dia akan menjadikan ibunya seperti ratu.
Tidak lama kemudian, kurang lebih satu jam naik taxi, sampailah keduanya di kota tepatnya didepan sebuah toko aksesoris. Setelah membayar taxi, Erfin menarik ibunya untuk masuk kedalam toko.
Didalam toko aksesoris itu sudah lengkap dengan semua aksesoris wanita seperti gaun, baju, rok dan lain sebagainya
Pelayan toko itu atau disebut dengan 'pramuniaga' itu mendekati Erfin dan ibunya, dia melihat pakaian Erfin dan ibunya. Dia mendapati bahwa pakaian mereka tidak sampai tiga ratus ribu.
Dia pun berkata "Ada perlu apa ya?" tanya pramuniaga itu dengan wajah mengkerut. Dia yakin mereka tidak bisa membeli pakaian disini, berarti ada perlu lain
"Bukan kah ini toko aksesoris? jelas mau membeli sesuatu lah" ucap Erfin dengan kesal. Baru masuk sudah di suguhkan dengan wajah jelek pramuniaga ini.
Pramuniaga itu tidak memperdulikan Erfin akan membeli sesuatu dan malah mengejeknya "Apa kamu tau harga pakaian disini? orang miskin sepertimu tidak akan bisa membeli satupun pakaian disini" ucap pramuniaga itu dengan tatapan menghina
Ibunya Erfin juga tidak tahan lagi karena dihina, dia pun menunjuk muka pramuniaga itu dan berkata "Jaga omonganmu ya! apakah kamu harus tau kami punya uang atau tidak?"
__ADS_1
Pramuniaga itu memasang wajah galaknya dan berkata kepada ibunya Erfin "Heh wanita tua, kalau tidak punya uang jangan datang disini, cari saja pakaian obralan yang dipinggir jalan"
Erfin yang mendengar ibunya di hina langsung menampar pramuniaga itu dan berkata "Kurang ajar! panggil bosmu kesini, aku akan membeli toko ini"
Pramuniaga itu tercengang sejenak, dia tida percaya akan ditampar oleh pemuda miskin ini.
"Dasar pria gila..tunggu saja..aku akan menelpon bosku untuk memberi pelajaran kepada kalian" ucap pramuniaga itu sambil menarik ponselnya dari dalam sakunya
Sementara Erfin menelpon Pak Kiki, siapa tau dia mengenal pemilik toko ini karena dia juga berbisnis dibidang aksesoris bahkan salah satu tokonya di berikan kepada Nisa untuk mengelolanya
"Halo Pak Kiki, apakah kamu punya koneksi dengan toko-toko aksesoris di kota Tanjung?" tanya Erfin setelah panggilannya diangkat.
Karena sebagian besar usaha Pak Kiki adalah dibidang aksesoris, apa lagi perusahaannya sudah masuk Indilustri Global. Tentunya usahanya sudah meluas, dan untuk kota tanjung yang dekat ini pasti dia sudah menakhlukkannya.
Pak Kiki berpikir sejenak, apa yang akan dilakukan Erfin ini? Tapi dia tetap menjawab "Aku punya beberapa cabang di kota Tanjung, memangnya ada apa?
Erfin menceritakan perihal dia membelikan ibunya pakaian mahal serta kejadian dengan pramunjaga tadi.
"Nama tokonya adalah 'Accessories Jaya Purnama' yang berada di timur kota Tanjung ini" ucap Erfin
"Tapi aku punya saham terbanyak di setiap tokonya, termasuk toko itu juga, aku akan menelpon sahabatku terlebih dahulu" ucap Pak Kiki dan langsung memutuskan panggilan
...
Sementara itu di sisi pramuniaga tadi. Dia juga sudah menelpon bosnya untuk datang memberi pelajaran kepada Erfin
Dia juga memanggil teman-teman pramuniaga yang lain untuk menyaksikan ibu dan anak miskin ini diberi pelajaran.
Dia memanggil teman-temannya hanya untuk membelanya nanti di depan bosnya.
"Kalian tunggu saja, kalian akan membayar penghinaan ini" ucap Pramunjaga itu
__ADS_1
Erfin tersenyum, tidak ada yang tau maksud dari senyumnya ini. Tapi jika Seno atau Abi yang melihat senyuman ini, mereka akan merinding sampai dibulu bawahnya.
Itu adalah senyum yang akan menghancurkan segalanya. Karena pramuniaga ini sudah menghina ibunya dan menyebunya wanita tua, dia akan mendapat balasannya hari ini juga.
"Kita belum tau akhirnya akan seperti apa, jadi jangan senang dulu" ucap Erfin dengan seringainya
Sementara ibunya sudah tidak nyaman lagi berlama-lama disini. Disatu sisi dia sudah mulai jengkel dengan perilaku pramuniaga ini, di sisi lain dia juga takut bosnya akan memberi pelajaran kepada mereka.
"Sudahlah nak kita pulang saja, tidak perlu membuat masalah yang tidak perlu. Kamu taukan ibu tidak pernah cari masalah sebelumnya?" ucap Ibunya Erfin cemas
Ketika pramuniaga itu mendengar bahwa mereka akan pergi, dia cepat-cepat berkata "Kalian tidak bisa kabur kemana-mana, bosku tidak akan membiarkan kejadian ini begitu saja"
Erfin juga menjawab dengan santainya, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.
"Siapa bilang kita akan kabur? kami akan menunggu tontonan yang bagus" kemudian dia berbalik melihat ibunya dan berkata "Ibu tenang saja, aku akan mengurus ini"
Tidak lama setelah kata-kata itu keluar, masuk seorang pria paruh baya yang memakai setelan jas mahal dengan memakai sepatu kulit. Tentunya pakaian yang dipakainya serba mahal. Kebetulan tadi dia berada disekitar sini.
Pramuniaga itu mendekati pria paruh baya itu dan berkata "Bos..dia lah yang menampar saya, lihat pipi saya sudah merah dibuatnya" kelakuan pramuniaga ini seakan seorang istri bersikap manja kepada suaminya.
Sementara pramuniaga yang lain hanya berdiam di sudut ruangan, mereka juga dari keluarga miskin dan mereka adalah orang baik-baik.
Pria paruh baya itu beralih menatap Erfin dan ibunya, dia melihat pakaian keduanya dari atas kebawah, dan dia juga mendapati Erfin dan ibunya ini hanya memakai pakaian biasa saja.
Tapi untuk seorang yang sudah merasakan asin manis kehidupan berbisnis, dia jelas tau bahwa orang tidak dinilai dari pakaian. Apalagi Pak Kiki tadi sudah menelponnya untuk melayani pemuda dan ibunya ini dengan baik.
Berarti pemuda ini bukan orang sembarangan, bisa saja dia orang kaya yang hanya ingin berprofil rendah.
"Tuan Erfin bukan?" tanya pria paruh baya itu
Erfin susah mengetahui bahwa Pak Kiki sudah menelpon pria paruh baya ini. Dia pun menjawabnya dengan angkuh "Iya saya Erfin, aku ingin membeli tokomu ini, perihal saham dari Pak Kiki tidak perlu khawatir karena aku juga sudah bekerja sama dengannya"
__ADS_1
"Tapi sebelum itu aku ingin kamu memberi pelajaran pada pramuniagamu itu, dia telah menghina ibuku" ucap Erfin
Pramuniaga itu melihat bosnya dan tidak mengerti mengapa Erfin bisa berbicara seperri itu "Bos Ethan, orang miskin ini bicaranya sangat sombong, itu seakan menghina anda, anda tidak boleh membiarkannya" Pramuniaga itu melihat kearah teman-temannya dan tidak ada sama sekali yang membantunya berbicara