
Erfin bangun sudah pukul enam sore, malam ini dia akan meladeni Liven untuk memainkan sebuah permainan. Dia sangat bersemangat sampai berlari kekamar mandi untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah mandi dan berpakaian, dia bersiap untuk pergi menjemput Nisa kerumahnya. Karena Fiki membawa Liven, maka Erfin akan membawa Nisa, hanya untuk memprovokasi Liven.
Erfin memasuki mobilnya, menginjak pedal gas dan melaju di kegelapan malam.
Setelah beberapa menit kemudian melaju, Erfin sudah sampai di depan rumah Nisa. Erfin langsung masuk seperti memasuki rumahnya sendiri.
Kebetulan Nisa dan ayahnya sedang duduk di kursi sofa. Pak Kiki terlihat sedang membaca sesuatu di tabletnya sedangkan Nisa sedang memainkan ponselnya. Sepertinya dia sedang bermain sebuah permainan di ponselnya.
Setelah melihat Erfin masuk Pak Kiki berdiri dan kemudian berkata "Ada apa nak Erfin? sepertinya buru-buru sekali"
Nisa juga berhenti sejenak memainkan ponselnya dan berkata "Mengapa tidak mengabariku dulu jika kamu mau ke sini? tiba-tiba sekali"
"Ahh mohon maaf Pak Kiki, aku terlalu bersemangat. Aku mau pinjam Nisa sebentar, aku ada acara kelas di hotel Grand Paradise" ucap Erfin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Karena terlalu bersemangat, dia bahkan lupa jika ini bukan rumahnya dan malah menerobos masuk saja seperti tidak punya salah.
Tapi Pak Kiki juga tidak mempermasalahkannya karena nantinya dia juga akan menjadi bagian dari keluarganya. Tapi alasan utamanya adalah karena dia tidak berani memarahi Erfin. Sudah berkah baginya jika anak konglomerat dari keluarga tersembunyi bisa masuk kerumah kecilnya ini.
"Tidak masalah..anggap saja rumah sendiri" ucap Pak Seno dengan menunjukkan senyum ramahnya dan melanjutkan "Dan untuk Nisa, aku memang harus mengizinkannya jika itu denganmu"
Nisa juga baru tersadar dan tambah semangat "Mengajakku untuk mengikuti acara kelasmu? aku mau..aku mau"
"Baiklah..kita berangkat sekarang" ucap Erfin kemudian menarik tangan Nisa untuk pergi.
Tapi Nisa tiba-tiba berhenti dan berkata "Bukankah lebih baik aku berdandan dulu? aku tidak mau mempermalukanmu didepan teman-temanmu"
Erfin berpikir sejenak dan merasa perkataan Nisa ini benar juga. Dia akan memprovokasi Liven, tentunya Nisa harus terlihat cantik.
Dia pun berkata "Benar juga, itu lebih baik" kemudian dia duduk dikursi diseberang Pak Kiki lalu melanjutkan "Aku akan menunggumu, jangan pakai lama"
"Baik" ucap Nisa. Setelah meninggalkan kalimat itu, dia berlari kekamarnya untuk merias dirinya agar terlihat cantik.
Sementara Erfin hanya duduk diam sambil menunggu, tidak mengeluarkan suara apapun.
Melihat Erfin yang selalu diam, Pak Kiki ingin mencairkan suasana dan berkata "Nak Erfin, bagaimana dengan rencana kerja sama kita di masa depan?"
__ADS_1
"Aku dengar Pak Kiki pernah menawarkan kerja sama dengan pihak warung di samping gang itu?" Erfin bertanya balik
Pak Kiki mengerutkan kening, lalu kemudian bertanya "Nak Erfin mendengar itu dari mana?" Dia tidak mempublikasikan itu karena nantinya dia bisa malu. Bagaimana tidak? orang terkaya nomor dua di kota puhul kerja samanya di tolak oleh pihak warung yang kecil.
"Pak Kiki meremehkan sumber informasiku?" tanya Erfin kemudian melanjutkan "Pak Kiki lupa jika aku banyak bawahan?" Dia tidak memberi tahunya bahwa informasi itu dia dengar dari Nisa karena dia tidak mau melibatkan Nisa dalam hal ini.
Karena ini adalah hal yang di tutupi oleh Pak Kiki sendiri, karena tidak mau reputasinya hancur hanya karena kerja samanya di tolak oleh warung kecil itu.
"Maaf sebelumnya Nak Erfin, aku tidak meremehkan sumber informasimu. Tapi menurutku informasi ini sudah ku tutup rapat-rapat bahkan seorang hacker saja tidak bisa membukanya" ucap Pak Kiki
Erfin tersenyum menatap Pak Kiki. Dia tidak menjawab perkataan Pak Kiki lagi, karena dia akan paham sendiri.
Pada saat ini tepat seperti pikiran Erfin. Pak Kiki tiba-tiba tersadar dan memukul dahinya dan berkata "Aduh..maafkan perkataanku tadi Nak Erfin, aku lupa jika Nak Erfin dari keluarga konglomerat yang tersembunyi. Tidak heran jika Nak Erfin bisa mendapatkan informasi itu" Pak Kiki mengusap dahinya, takut jika Erfin ini tersinggung.
"Tidak perlu sampai seperti itu, aku hanya berencana membantumu mendapatkan kerja sama dengan pemilik warung itu"
"Karena orangnya baik, mungkin aku bisa berbicara dengannya. Pada waktu itu dia menolongku dari para gengster"
"Jadi mungkin aku bisa bicarakan ini dengannya" ucap Erfin
Mendengar ini Pak Kiki merasa semangat dan berkata "Nak Erfin..sungguh kamu bisa membantuku?" Karena peluang suksesnya restoran adalah ada pada chef nya. Jika dia mau bekerja sama, restoran yang akan dia bangun akan dengan cepat sukses.
Erfin punya firasat bahwa dia bisa membuat pemilik warung itu bisa bekerja sama dengan Pak Kiki. Walaupun itu membutuhkan uang yang banyak, dia tetap harus merekrutnya karena peluang untuk sukses sudah ada didepan mata.
Dia bisa membuat makanan enak setara hotel bingang lima. Tidak..bahkan lebih enak dari itu.
Erfin belum mengetahui jika pemilik warung itu adalah bawahannya dari organisasi The Dragon King. Tapi karena dia berencana untuk mendatanginya membicarakan kerja sama, dia akan tau setelah itu.
"Walaupun begitu, aku harus tetap harus berterima kasih" ucap Pak Kiki dengan sepenuh hati.
Sungguh beruntung dia bisa dibantu oleh anak konglomerat. Dia bisa dengan lancar menjalankan bisnis tanpa hambatan.
Tidak lama setelah mereka berbincang, Nisa sudah selesai merias dirinya dan berkata "Apakah sudah bagus seperti ini?"
Erfin membatu untuk sejenak dan tidak mendengar pertanyaan Nisa barusan. Untuk pertama kalinya dia melihat Nisa secantik ini.
Sebelumnya Nisa hanya memakai pakaian yang biasa dipakainya ke kampus. Karena sekarang dia mengajaknya pergi ke acaranya di hotel, Nisa berpakaian modis dan sangat terlihat cantik.
__ADS_1
Nisa tampil anggun dalam balutan dress cantik, koleksi dari brand ternama. Dress itu membuat tubuhnya terlihat sempurna dengan warna putih yang sesuai dengan warna kulitnya.
Nisa mengipas-ngipaskan tangannya di depan mata Erfin dan berkata "Erfin?! apakah ada yang salah?"
Tiba-tiba Erfin tersadar dan berkata "Ahh..c..c..cantik sekali" dia berkata seperti itu dan hatinya berdegup kencang. Ternyata ini Nisa setelah sungguh-sungguh merias dirinya.
Sementara Pak Kiki senyum-senyum di sudut kursi melihat tingkah Erfin barusan.
Nisa bisa cantik seperti itu karena ibunya juga cantik. Bukan hanya itu, ayahnya juga tidak kalah tampan.
Tiba-tiba Nyonya Maria muncul, karena dia melihat anaknya merias dirinya dengan begitu modis, dia heran mengapa anaknya bisa merias dirinya seperti ini? tumben sekali, baru kali ini dia melihatnya.
Jadi dia mengekor di belakang Nisa, setelah sampai di ruang tamu dia mendapati seorang pria yang pakaiannya biasa saja. Terlihat seperti seorang berandalan.
Karena pada saat Erfin kemari, dia tidak keluar dari kamarnya karena semalam dia habis di buat lelah oleh Pak Kiki. Jadi dia tidak bertemu dengan Erfin.
Melihat pria yang seperti gelandangan itu, Nyonya Maria berteriak kepada Nisa "Jadi karena dia alasan kamu merias diri seperti ini? geladangan dari mana ini?"
Kemudian dia melihat ke arah Erfin dan berkata "Nak..kamu tidak pantas mendekati putriku, orang miskin sepertimu bisa apa untuk menghidupi putriku?"
Mendengar ini, sekerika Pak Kiki naik darah dan berteriak "Maria.!! kurang ajar! cepat minta maaf sama nak Erfin" Pak Kiki tidak memanggil istrinya dengan panggilan sayang lagi.
Nyonya Maria masih mengelak "Minta maaf untuk apa? dia hanya pria miskin yang hanya ingin memanjat sosial"
Pak Kiki melihat ekspresi Erfin ternyata biasa-biasa saja. Dia pun menjelaskan dengan perlahan "Kamu tau mengapa perusahaanku bisa memasuk industri global?"
"Apakah karena dia?" Nyonya Maria bisa menebak arah pembicaraan suaminya ini.
"Benar..dia lah yang membuat perusahaanku masuk di Industri global" ucap Pak Kiki kemudian menjelaskan semuanya tentang Erfin yang dari keluarga konglomerat yang tersembunyi.
Seketika Nyonya Maria panik dan meminta maaf "Aduh..nak Erfin..ibu tadi tidak tau maafkan ibu yah?" Nyonya Maria menangkupkan kedua tangannya untuk meminta maaf.
Kemudian dia melanjutkan lagi "Kamu bisa membawa Nisa pergi, aku tidak akan melarangnya. Jadi maafkan ibu yah?"
Erfin tersenyum dan berkata "Tidak perlu mempermasalahkan hal itu bu, aku juga tidak memikirkannya"
Mendengar itu, Nyonya Maria mengelus dadanya. Dia bersyukur tidak membuat masalah dengan anak dari keluarga konglomerat ini.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Erfin kemudian berpamitan dan pergi kehotel Grand Paradise bersama Nisa.