Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat

Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat
Episode 57


__ADS_3

Di dalam rumah, di kediaman Internasional Kejora. Mendengar bahwa para pelayannya tidak mau makan semeja dengan Ibunya, Erfin mau tidak mau harus memanggil semua pelayan untuk menjelaskan bahwa para pelayan boleh makan semeja dengan majikannya.


Tidak..lebih tepatnya itu perintah, perintah untuk menemani ibunya makan saat dia tidak ada di rumah. Tidak terkecuali juga ketika dia masih ada di rumah sih.


Para pelayan itu datang dengan sangat buru-buru, mereka mengira telah membuat kesalahan sampai harus di panggil seperti ini.


Salah satu dari 10 pelayan itu tiba-tiba bertanya dengan ekspresi takut "Ada apa Tuan? apakah kami telah membuat kesalahan?"


"Kalian telah membuat kesalahan" ucap Erfin kemudian melihat ekspresi cemas dari para pelayannya ini.


Sedangkan para pelayan itu sudah saling memandang dan bertanya-tanya kesalahan apa yang telah mereka perbuat.


Kemudian Erfin menambahkan "Kalian tega membuat ibuku makan sendirian dimeja makan yang panjang ini, itu sebuah kesalahan!"


"Tapi Tuan-" pelayan itu belum menyelesaikan perkatannya tapi sudah di potong oleh Erfin "Ini perintah.!! kalian harus menemani ibuku makan di meja makan ini baik masih ada aku ataupun tidak ada"


Para pelayan itu takut sekaligus heran dengan majikannya, untuk pekerjaan mereka sebagai pelayan, hak apa yang mereka miliki untuk duduk setara dengan majikannya saat makan?


Tapi dengan begitu juga para pelayan itu merasa majikannya ini sangat baik hati sebagai orang kaya. Jika itu orang kaya pada umumnya mereka tidak perduli dengan pelayannya mau makan di mana.


Mereka pun mengangguk dan berkata "B..baik Tuan" kemudian salah satu dari para pelayan itu melanjutkan " Jika itu perintah, maka kami akan menjalankannya"


"Kalian sudah makan?" tanya Erfin. Jika mereka belum makan, mereka bisa makan bersama dengannya dan ibunya.


Para pelayan yang lain tidak berani menjawab dan memilih diam sebagai jawaban. Tapi salah seorang pelayan yang berkata tadi tiba-tiba menjawab "Belum Tuan, tadi kami baru saja menyiapkan makanan untuk para pengawal di luar"


Kebetulan sekali, mendengar itu Erfin langsung berkata sambil tersenyum "Ya baiklah..siapkan makanan kalian dan kita makan bersama"

__ADS_1


"Ini berlaku bukan hanya kali ini saja melainkan sampai seterusnya seperti ini. Mengerti?"


Para pelayan itu mengangguk dan menjawab dengan serentak "Mengerti Tuan" mereka mengatakan itu dengan senyum yang cerah di masing-masing wajahnya. Mengapa tidak, majikan mereka ini memperlakukan mereka bukan lagi seperti pelayan, melainkan seperti keluarga


....


Setelah makan dengan para pelayannya itu, Erfin langsung menuju kamarnya untuk tidur. Hari ini dia terlalu lelah sampai merasakan tubuhnya seperti bukan miliknya lagi, dia sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Bahkan saat makan tadi, dengan tenaganya yang tersisa itu dia makan sesuap demi sesuap untuk bisa mengisi perutnya yang keroncongan itu.


Dia tidak memainkan ponselnya lagi bahkan untuk sekedar melihat grub kelas, biasanya dia akan melihat grub kelas untuk melihat jadwal kelas untuk besok.


Selang beberapa menit dia memejamkan matanya, dia pun tertidur lelap sampai tidak merasakan air liurnya sudah mengalir sampai di pipinya.


Dalam tidur lelapnya itu, dia kemudian bermimpi bertemu lagi dengan pria tua yang pernah memberikan dia pilihan tangan kanan atau tangan kirinya.


Pria tua itu sedang memainkan pisau di tangannya sambil mengikuti Erfin untuk duduk, dia tidak memalingkan pandangannya dari Erfin seakan Erfin ini bisa lari kapan saja.


Setelah duduk, pria tua itu memberinya sebuah pilihan lagi "Untuk bisa menguasai sepenuhnya uang itu, kamu harus memilih salah satu dari kalimat ini 'Makan untuk hidup atau hidup untuk makan'"


Karena mimpi ini seperti nyata, Erfin tidak tau jika sekarang ini dia sedang bermimpi. Jadi dia memilih dengan teliti dan kemudian berkata "Aku memilih 'Hidup untuk makan'" ucap Erfin


Tapi sayang sekali pilihan yang dipilih oleh Erfin itu salah, pria tua itu langsung menikam Erfin dengan pisau yang dia mainkan di tangannya tadi


Seketika Erfin berteriak karena tidak ingin mati muda, dan lagi dia menyesal telah memilih pilihan yang salah.


Teriakannya itu sampai di dunia nyata "Aaaghhhh" sambil teriak, Erfin pun terbangun dengan nafas yang ter engah-engah dan berkata "Ternyata hanya mimpi" Erfin mengelus dadanya, merasa bersyukur karena dia hanya mati dalam mimpi, bukan dunia nyata

__ADS_1


Karena rumah itu sangat luas, tidak ada yang mendengar teriakannya barusan. Erfin duduk dan bersandar di kepala ranjangnya dan menenangkan pikirannya.


Tapi dia berpikir lagi, mengapa pria tua itu datang lagi di mimpinya? dan lagi dia memberi pilihan untuk bisa memiliki sepenuhnya uang yang diberikannya itu?


Karena mimpinya saat menerima uang itu nyata, berarti tidak terkecuali untuk kali ini. Jadi dia tidak meremehkan mimpinya kali ini.


Dia melihat jam di ponselnya dan waktu sudah menunjukkan pukul 3 subuh. Saat ini dia tidak bisa tidur walaupun dia sudah mengantuk. Dia terus memikirkan mimpinya tadi.


Sampai terbit matahari Erfin tidak tidur dan terus menatap kosong di atas tempat tidurnya. Terlihat di bawah matanya sudah membengkak karena menahan rasa kantuk, dia takut untuk tidur jangan sampai dia memimpikan hal yang sama lagi.


Dia melihat grub kelas dan mendapati pagi ini sampai jam 12 nanti tidak ada kelas. Hanya ada jam satu dan jam 3 nanti. Berarti pagi ini dia harus pergi kemarkas untuk latihan


Setelah berkemas, dia pun turun untuk sarapan. Dia melihat di meja makan, semua pelayannya dan juga ibunya sudah duduk di kursi masing-masing dan menunggunya


"Selamat pagi bu.." ucap Erfin lalu duduk dan bersiap makan.


"Selamat pagi" ucap Nuja dan di ikuti semua pelayan "Selamat pagi Tuan" ucap para pelayan itu serentak sambil menunjukan senyum manis mereka


Ketika Erfin hendak makan, dia melihat para pelayan itu masih ragu untuk menyentuh makanan mereka. Dia pun berkata "Tidak perlu sungkan, makan saja. Ibuku saja tidak mempermasalahkannya"


....


Setelah makan, Erfin keluar dan mengemudikan mobilnya ke markas. Seperti biasa dia berniat untuk menjadi kuat agar bisa melindungi orang tersayangnya.


Untuk Nisa dia tidak mau dulu untuk menemuinya karena dia masih belum tahan godaannya yang membuat hidung mimisan itu.


Untuk sekarang dia masih akan menghindar sampai saat dia bisa benar-benar kuat dan bisa melindungi orang-orang kesayangannya

__ADS_1


Tidak lama kemudian, dia sudah sampai di markas. Tapi dia mendapati di lapangan itu tidak ada anggota yang latihan, tidak seperti biasanya


__ADS_2