Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat

Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat
Episode 61


__ADS_3

Kembali ke sisi Erfin, setelah istrahat sejenak dia pun pulang dan membersihkan diri karena siang ini dia ada kelas sampai sore.


Sesampainya di rumah, Erfin langsung membersihkan diri dan kebetulan juga sudah waktunya makan siang, jadi dia turun untuk makan siang bersama ibu dan para pelayannya.


Para pelayan itu juga sudah tidak sungkan-sungkan lagi karena sudah mendapat perintah dari Erfin dan di setujui oleh Nyonya besar, jadi setelah menyiapkan makanan mereka juga ikut makan di meja makan.


....


Setelah makan siang, Erfin langsung mengemudikan mobilnya menuju kampus.


Di kampus, Erfin tidak melihat lagi wanita-wanita yang pernah tergila-gila dengan mobilnya. Bukannya mereka tidak suka lagi terhadap Erfin tapi mereka sudah tau bahwa dia adalah pacar bunga kampus, Nisa.


Apalagi Nisa sudah menjadi orang terkaya nomor satu di kota puhul ini, jadi mereka tidak berani untuk mengganggu Erfin


Tidak hanya itu, para wanita itu juga sadar bahwa kecantikan mereka tidak bisa dibandingkan dengan Nisa sang bunga kampus.


Untungnya Haru Makati tidak kuliah di sini, jika itu terjadi maka Nisa akan kerepotan untuk menanganinya.


Setelah sampai di parkiran depan, Erfin melihat mobil Ferrari melewatinya. Mobil itu tadinya mau parkir di situ, tapi setelah melihat Erfin keluar dari Mobilnya, dia langsung menuju parkiran belakang.


Pemilik mobil itu tidak lain adalah Nisa, dia berpura-pura untuk terlihat cuek dihadapan Erfin. Tapi di dalam hatinya dia sangat menyesali hal itu.


Dia ingin menjalankan sikap wanita pada umumnya yang cuek terhadap pria, nanti pria itu akan penasaran dan mengejarnya. Dia ingin juga seperti itu, dia sudah membayangkan Erfin meminta maaf kepadanya dan baikkan seperti sebelumnya lagi.


Dia sengaja membuka sedikit kaca mobilnya agar Erfin bisa melihatnya.

__ADS_1


Tapi ketika Erfin melihat bahwa Nisa mulai menjauhinya, dia terkekeh pelan dan bergumam "Sepertinya dia sudah mulai normal sedikit"


Untuk sekarang biarlah seperti itu, lagian dia juga tidak akan lari. Nisa sudah di takdirkan untuknya, jadi tidak perlu mengkhawatirkannya


Setelah melihat mobil Ferrari Nisa sudah menjauh, dia pun pergi ke kelasnya untuk mengikuti kelas siang. Kebetulan dosen yang akan masuk kali ini adalah dosen killer..tidak, namanya sudah di ganti menjadi dosen bucin.


Anita masuk dengan muka memerah seperti tomat masak, para mahasiswa didalam kelas itu merasa ada yang berbeda hari ini. Biasanya ketika Anita masuk, dia akan menunjukkan wajah garangnya itu sampai para mahasiswa tidak berani menatapnya.


Tapi sekarang malah Anita yang menunduk seakan dialah yang malu melihat mahasiswanya. Seandainya para mahasiswa ini tau bahwa Erfinlah yang membuat dosen killer ini seperti ini, mungkin Erfin sudah menjadi idola mereka di kampus ini.


Bagaimana tidak, dosen yang terkenal killer yang sudah menolak ratusan pria yang melmarnya bisa takhluk di hadapan Erfin.


....


Di sisi Nisa, dia masih belum turun dari mobilnya dan masih memikirkan sikapnya tadi yang sok cuek. Dia bisa cuek kepada siapapun, tapi tidak kepada Erfin. Dia tidak bisa melawan rasa sukanya sendiri kepada Erfin.


"Dulu aku lebih suka buah anggur, tapi setelah bertemu Erfin aku langsung benci dengan buah anggur dan lebih memilih buah apel"


"Aku lebih suka di apelin dari pada di anggurin seperti ini oleh Erfin. Jika itu pria lain, malah aku yang akan nganggurin mereka, tapi tidak dengan Erfin" ucap Nisa sedih.


Sedih karena di anggurin oleh Erfin, jika itu pria lain apakah berani untuk nganggurin wanita secantik Nisa?. Tentu tidak. Malah mereka merasa berkah saat mendapat Nisa sebagai pacarnya


Tapi mengapa Erfin ini menganggurkannya? Nisa sudah tidak tahan lagi di gantung seperti ini, rasanya kakinya sudah tidak sampai di tanah. Perasaannya yang di gantung tapi malah kakinya yang ke angkat.


Tapi jika Erfin menjauhinya untuk masa depannya, maka dia hanya bisa memakluminya dan akan berusaha lebih keras lagi untuk belajar berbisnis agar kedepannya dia bisa bersanding dengan Erfin dalam dunia bisnis.

__ADS_1


Nisa turun dari mobilnya sambil mengehela nafas panjang, dia melihat waktu dan itu sudah terlambat 15 menit. Tapi dia tidak panik, dia hanya berjalan santai sampai di kelasnya.


Dia masuk seperti orang yang tidak punya dosa, dia mengabaikan dosen yang sedang mengajar dan berjalan di kursi sudut untuk duduk.


Sementara teman-temannya yang lain sudah terperangah dengan sikap Nisa barusan, biasanya jika Nisa terlambat dia akan meminta izin terlebih dahulu kepada dosen untuk masuk. Tapi sekarang dia masuk seakan tidak ada dosen di depan kelas yang sedang mengajar.


Sementara dosen itu juga terperangah sejenak tapi tetap melanjutkan apa yang sedang dia jelaskan sebelumnya.


Dia tidak berani menegur anak dari pemberi anggaran terbesar di kampus ini, jika saja tadi dia berani blak-blakkan memarahi Nisa , maka pekerjaannya sebagai dosen tidak bisa dipertahankan lagi di kampus ini, bahkan mungkin di kampus-kampus lain juga.


Siapa yang mau melawan orang yang berkuasa? uang adalah segalanya. Jika kamu ada uang maka kamu bisa dihormati.


Ketika Nisa masuk tadi rasanya waktu berhenti sejenak yang membuat ruangan itu sunyi hampa tak bersuara. Hanya mata yang bergerak mengikuti langkah Nisa sampai di tempat duduknya.


Orang yang selalu baik dan ramah tiba-tiba menjadi seorang yang tidak peduli dan malas pusing. Bagaimana orang-orang di dalam kelas itu tidak heran dengan sikap Nisa ini?!.


Tapi itu hanya sejenak karena mereka memakluminya, untuk anak orang kaya seperti Nisa, sudah sewajarnya dia bersikap seperti itu. Mungkin karena baru-baru ini keluarganya sudah menjadi orang terkaya nomor satu di kota puhul ini yang membuat sikapnya berubah.


Kelaspun berlangsung tanpa ada masalah. Karena tadi Nisa masuknya terlambat, jadi dia hanya duduk beberapa menit saja di dalam kelas sampai kelas selesai.


Biasanya setelah kelas siang ini selesai dia akan mengajak Erfin jalan sambil menunggu waktu kelas berikutnya, tapi yang Nisa pikir Erfin lagi sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia hanya pergi di taman kampus untuk istrahat.


Sesampainya di taman, dia pun duduk dan langsung memainkan ponselnya. Tapi tiba-tiba ada yang aneh di sekitat taman itu. Dia merasa semua mata berfokus padanya, dia pun hanya menundukkan kepala untuk menghindari para pasang mata itu.


Tapi pasang mata itu masih tetap menatap kearahnya, dia pun menatapnya balik tapi dia mendapati tatapan mereka sedikit melenceng darinya, berarti bukan sedang menatap dirinya. Dia berbalik melihat kebelakangnya dan mendapati dosen killer Anita itu sedang duduk ngobrol dengan Erfin.

__ADS_1


Jarak mereka sangat dekat, bukan lagi seperti antara dosen dan mahasiswa. Ini sudah seperti sepasang kekasih yang sedang bercengkrama.


__ADS_2