
Fauzan masih memikirkan tentang dia memprovokasi Erfin sebelumnya, untungnya dia tidak sampai membuat Erfin terluka, jika saja dia membuatnya terluka entah apa yang terjadi kepadanya dan keluarganya.
Tapi dia juga malu karena telah bertingkah sombong dihadapan Erfin, seperti anak kecil yang sombong kepada orang tuanya bahwa dia bisa berjalan. Terkesan lucu bukan?
Pantas saja Nisa lebih lengket kepada Erfin, ternyata Erfin ini anak orang kaya. Memang pantas sih, bunga kampus bersanding dengan anak orang kaya.
Dirinya hanya orang berada saja, tidak bisa di sebut kaya jika dihadapan Erfin bahkan dihadapan Nisa sekalipun.
Fauzan berdri sambil merapikan pakaiannya dan menarik napas dalam-dalam. Setelah ini dia tidak akan berani lagi memprovokasi Erfin ini. Jika bisa, dia akan menjalin pertemanan dengannya.
Fauzan termenung sejenak kemudian bergumam "Sepertinya aku juga harus memakai pakaian biasa kedepannya. Rasanya jika aku berpakaian seperti ini terlihat seperti anak kecil yang memamerkan ototnya kepada orang yang sering fitness"
Orang yang benar-benar kaya saja hanya memakai pakaian biasa untuk ke kampus, dia yang hanya berada saja tingkahnya sok-sok an terlihat kaya.
Sepertinya ada baiknya Erfin tadi bersikap sombong di depan Fauzan, karena sikap sombongnya itu bisa menyadarkan Fauzan bahwa laut di kota puhul sangat dalam.
Orang kaya yang menyombongkan kekayaannya ya wajar. Orang miskin yang sok kaya sombong? percuma!!
Setelah merapikan pakaiannya, Fauzan bersiap ke kelas untuk mengikuti perkuliahan. Walaupun ayahnya salah satu penyokong dana di kampus ini, tidak berarti dia malas-malasan dan terlambat dengan sengaja.
....
Setelah beberapa saat, kuliah pagi pun selesai dan Erfin menuju taman untuk menunggu kelas berikutnya.
Tapi tiba-tiba dia merasa ada yang aneh, saat dia berjalan semua pasang mata sedang menatapnya dan sepertibya ada seseorang yang sedang mengikutinya.
Erfin tidak berbalik dan terus berjalan ke taman untuk istirahat sejenak. Tapi punggungnya merinding seperti sedang di incar binatang buas, Erfin pun mempercepat langkahnya.
Walaupun dia merasa tidak ada binatang buas di kampus, tapi perasaannya mengatakan seperti itu. Dia takut untuk berbalik jangan sampai itu memang binatang buas.
Jadi Erfin menegakkan badannya dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Setelah sampai di gazebo taman, sambil menunggu waktu kelas berikutnya, dia memainkan ponselnya.
__ADS_1
Perasaan itu semakin kuat, dia merasakan binatang buas itu semakin mendekat kearahnya. Erfin tidak tahan lagi dan langsung berbalik.
Jika memang ini binatang buas, dia hanya perlu berlari sekencang-kencangnya dan menelpon staf di kebun binatang untuk menangkapnya.
Tapi setelah menoleh kebelakang, dia tidak melihat binatang buas apa pun, dia hanya melihat Anita, dosen killer yang terkenal di kampus ini sedang berjalan kearahnya.
Tidak salah jika perasaan yang Erfin rasakan tadi tentang binatang buas yang sedang mengintainya, karena dosen killer ini juga sama buasnya.
Erfin mengelus dadanya dan beralih memandang Anita dan berkata "Ada perlu denganku bu?"
Anita tidak langsung menjawabnya malah duduk disamping Erfin, bahkan sampai rapat.
Melihat ini tiba-tiba Erfin berbisik didalam hatinya 'Gazebo ini luas dan juga tempat duduknya panjang, mengapa dosen buas ini malah duduk disampingku?'
Setelah duduk, Anita kemudian tersenyum memandang Erfin. Ini kali pertama dia menunjukkan senyum manisnya kepada mahasiswanya, Erfin juga tau itu. Jadi ketika Erfin melihat senyumannya ini, terkesan seram bagai seringai binatang buas yang sudah menyudutkannya.
Sambil tersenyum, Anita membuka suaranya "Apakah mobil itu benar-benar milikmu?"
Tapi jika dilihat lagi Anita ini tidak kalah cantik jika dibandingkan dengan Nisa, hanya saja Anita sudah sedikit berumur.
Meskipun begitu dia tetap terlihat sangat cantik. Erfin benci mengakuinya tapi memang ada sedikit rasa suka kepada dosen killernya ini.
Walaupun rasa suka itu hanya sebatas mengagumi kecantikannya saja. Semua wanita cantik di dunia ini kita hanya bisa mengaguminya saja tanpa bisa memilikinya. Suka tak harus memiliki.
Erfin berpikir sejenak kemudian berkata "Jika itu mobilku, memangnya kenapa?"
"Kamu suka kan sama aku? selama ini aku memperhatikanmu selalu mencuri pandang terhadapku saat dikelas"
"Tapi tidak masalah, aku bisa membalas rasa sukamu itu" ucap Anita
Sepertinya dia sudah mendapat pujaan hatinya, Erfin berhasil membuatnya merasakan cinta lagi setelah sekian lama.
__ADS_1
Ketika mendengar perkataan dosen killernya ini, sontak Erfin mimisan dan muntah darah. Dosennya ini tidak sungkan-sungkan dan langsung pada intinya.
Jika satu kampus ini mengetahui bahwa dosen yang terkenal killer ini menyukainya, mungkin kampus ini akan mengalami perombakan besar-besaran dan mengangkat kembali julukan dosen killer baru.
Tapi tiba-tiba Erfin menyeringai dan berkata "Tapi sayangnya mobil itu bukan milikku, itu milik anak bosku, karena aku tinggal dirumahnya aku bisa akrab dengannya, nah anak bosku itu meminjamkan mobilnya untuk aku kekampus saja" Erfin berpikir setelah dia mengatakan ini, Dosen killer ini akan berhenti mengejarnya
Tapi sayangnya Anita tidak pergi atau membencinya sama sekali, dia malah berkata "Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, tapi karena kamu belum punya kerjaan aku tidak bisa mengungkapkannya"
"Sekarang karena aku melihatmu turun dari mobil itu, itu bisa menjadi alasanku untuk mengungkapkannya. Walaupun itu bukan mobilmu tapi sekarang kamu sudah bekerja, jadi aku tetap bisa mengungkapkannya"
"Buagghhh" Erfin memuntahkan seteguk darah, dia tidak tahan mendengar deretan kalimat bucin dari dosen killer ini.
Jika Nisa mendengar bucinan dosen killer ini, dia akan melapor kepada ayahnya untuk memecatnya.
Dan lagi, julukannya bukan lagi dosen killer melainkan dosen bucin, budak cinta.
Erfin tidak tahan lagi dan melihat jam di ponselnya ternyata sudah waktunya kelas berikutnya. Dia pun punya alasan untuk kabur "Sudah waktu masuk kelas berikutnya bu, aku pergi dulu"
"Haah?? begitu ya?" ucap Anita. Dia tidak ikhlas di tinggakkan seperti ini oleh Erfin
"Dan lagi..jangan panggil 'Bu' jika hanya kita berdua" ucap Anita lagi
Sementara Erfin tidak berbalik dan terus berjalan menuju kelasnya. Dia melambaikan tangannya sebagi jawabannya.
Diperjalanan menuju kelasnya, Erfin mengusap dadanya dan berkata "Sungguh berbahaya iblis jahat itu hadeh..untung saja aku tidak terhipnotis olehnya"
Dia tidak menyangka bahkan merasa tidak percaya jika iblis itu suka kepadanya. Apakah karena dia tampan? harus di akui bahwa dia memang sedikit tampan jika dibandingkan mahasiswa kebanyakan.
Tapi jika hanya tampan saja tidak bisa membuat wanita bahagia kan? Erfin tidak tau lagi jalan pikiran dosen killernya itu.
***
__ADS_1