
Di kamar box di hotel Grand Paradise...
Karena Liven sudah berkata seperti itu, dia tidak perlu memikirkannya lagi.
Bukannya dia tidak mau memikirkannya tapi dia tidak berani memikirkannya karena Abi sedang tidak ada di sini.
Kemudian dia memesan makanan untuk dirinya dan menyuruh Nisa untuk tidak perlu sungkan untuk memesan.
....
Beberapa saat kemudian, malam sudah semakin larut dan mereka juga sudah selasai makan. Fiki keluar untuk menelpon ayahnya untuk menyuruhnya berkompromi dengan pemilik hotel.
Setelah memberi tahu ayahnya tentang itu, ayahnya juga langsung menelpon pemilik hotel.
Setelah beberapa menit, ayahnya menelponnya lagi dan berkata "Aku tadi menelpon temanku itu, dia akan menyuruh putrinya untuk menemuimu di depan kamar yang kamu pesan itu"
"Mengapa harus bertemu lagi? apakah tidak bisa langsung beres saja?" ucap Fiki dengan kesal
"Karena sudah lebih dari satu miliar, temanku itu juga tidak bisa mebiarkan masalah ini" ucap ayah Fiki lagi.
Fiki kesal lalu mematikan telepon. Dia hanya perlu bertemu dengan anak dari pemilik hotel itu kan?
Tidak lama setelah dia mematikan telepon, terlihat seorang wanita cantik yang menghampirinya. Dia terlihat cantik dengan riasan tipisnya bahkan tidak kalah cantik jika dibandingkan dengan Nisa.
Dia memakai cheongsam polos hitam yang membalut tubuh seksinya dan memakai sepatu hak tinggi. Terlihat jika dia anak orang kaya. Ya namanya Haru Makati, anak dari Rahul Makati. Orang terkaya nomor satu dikota puhul.
Dia mendekat kearah Fiki dan bertanya dengan ekspresi malas "Kamu yang bernama Fiki?"
Ayahnya menyuruhnya untuk sedikit memberikan muka kepadanya, mengingat ayahnya dan ayah Fiki adalah teman. Walaupun hanya sebatas teman kenalan saja.
Fiki baru tersadar dan berkata "I..iya benar saya Fiki, aku ingin sedikit berkompromi tentang tagihan dari pesanan dikamar yang aku sewa. Karena aku hanya membawa sedikit uang jadi tidak bisa membayar sepenuhnya"
__ADS_1
"Bagaimana jika lain kali saja aku membayarnya? nanti setelah proyek ayahku selesai aku akan membayarnya" ucap Fiki
Salahnya juga dia bertingkah sok keren di hadapan ketua kelasnya, jadi dia tidak membiarkan Erfin membayarnya.
Karena urusan ini ayahnya menyerahkan sepenuhnya padanya, jadi terserah dia jika meringankan tagihan Fiki ini atau tidak.
"Karena sudah lebih dari satu miliar, aku tidak bisa memberi waktu selama itu. Kamu harus membayar hari ini juga" ucap Haru
"Apakah tidak ada toleransi untuk itu? aku di sini mentraktir teman-temanku tapi si anak melarat itu memesan bir mahal. Makanya bisa lewat satu miliar" ucap Fiki lagi
"Tidak ada..kamu harus membayar hari ini juga. Kamu bisa saja meminjam dulu kepada teman-temanmu itu kan?" ucap Haru kemudian melanjutkan "Ayo masuk dan minta bantuan teman-temanmu itu"
'Sok-sok an mentraktir tapi tidak mampuh membayar tagihan, jika tidak mampuh jangan sok-sok an mentraktir' batin Haru kemudian mengikuti Fiki memasuki kamar box.
Setelah melihat Fiki masuk, Ica mendekat dan berkata "Fiki..terimakasih untuk traktiran malam ini, aku suka pria yang royal"
Mendengar itu Fiki semakin tidak tega dan malu jika meminta bantuan kepada teman-temannya.
Erfin berkata dengan nada mengejek "Bukan kah kamu sudah tidak mempermasalahkannya tadi? jika uangmu tidak cukup tinggal bilang saja dari awal, biar aku yang membayarnya"
Fiki juga merasa tingkahnya tadi sudah terlalu sombong, dia tidak mempermasalahkan Erfin memesan bir mahal itu dan malah akan memasukkannya ke tagihannya. Urusan selanjutnya dia serahkan kepada ayahnya, tapi ayahnya juga tidak bisa diandalkan.
"Aku tidak peduli, pokoknya kamu harus membayar sendiri tagihanmu itu" ucap Fiki lagi
Sementara teman-temannya yang lain merasa bahwa Fiki sudah melanggar perkataannya. Memang mereka sempat merasa Erfin terlalu berlebihan dan tidak tau malu sampai memesan bir mahal itu, tapi karena tadi Fiki saja tidak mempermasalahkannya, mereka juga tinggal membiarkannya saja.
Tapi sekarang Fiki dengan tidak tau malunya menarik perkataannya dan menyuruh Erfin membayarnya sendiri. Sepertinya Fiki ini tidak bisa dipercaya.
Ica juga menarik kembali pandangannya dan kembali ketempat duduknya. Fiki ini tidak bisa dipercaya dan tidak bisa diandalkan. Ica mengira dia sudah mendapatkan pria yang royal yang sesuai dengan seleranya, tapi ternyata dia hanya bersikap keren saja.
Erfin juga tidak berlama-lama, karena sudah membuat Fiki sedikit dibenci oleh teman-temannya setidaknya dia sudah puas.
__ADS_1
Dia mengeluarkan dompetnya dan mendapati Kartu Diamond dari hotel tempat dia memesan makanan.
Kemudian dia mengambilnya dan melihatnya, terlihat tulisan besar yang berlapis emas di atas kartu itu 'Grand Paradise'. "Bukankah ini kartu keanggotaan di hotel ini?" gumam Erfin
Haru sedang memperhatikan Erfin mengeluarkan dompet untuk membayar tagihannya, ketika dia melihat kartu keanggotaan Diamond dipegang oleh Erfin matanya terbelalak. "Kartu keanggotaan Diamond.!!"
Teman-teman Fiki yang lain baru menyadari jika ada orang didekat pintu, Ketika melihat wanita itu terkejut, mereka semua bertanya-tanya "Ada apa dengan kartu itu sampai bisa membuatnya terkejut seperti itu?"
"Dia itu pemilik hotel ini, jangan bicara sembarangan" ucap Fiki. Dia juga heran mengapa setelah melihat kartu yang dipegang oleh Erfin, haru ini tiba-tiba terkejut?
Haru mendekati Erfin dan bertanya "Dari mana kamu mendapatkan kartu ini?"
Erfin kemudian menjelaskan semuanya kepada Haru tentang bagaimana dia mendapatkan kartu itu.
Kemudian Haru berpiki dan membatin 'Memang kemarin malam ada yang memesan makanan online sampai puluhan miliar, jadi aku menyuruh manager untuk memberikan kartu keanggotaan diamond. Jadi pria ini yang memesannya?'
Walaupun dia sedikit tidak percaya karena pakaian Erfin hanya pakaian serba murah, tapi buktinya kartu itu ada padanya dan ceritanya itu juga benar karena dia sendiri yang menyuruh managernya untuk memberikannya.
"Jadi seperti itu?! baiklah aku akan memasukkannya kedalam tagihanmu" ucap Haru dengan senyum manisnya.
Baru kali ini dia melihat pria muda pemegang kartu keanggotaan diamon. Yang lainnya semuanya adalah orang-orang tua. Jadi dia sedikit tertarik dengan Erfin ini.
Sementara Fiki dan teman-temannya yang lain masih tidak paham dan merasa tidak percaya dengan perkataan Erfin barusan. Mereka hanya melihat Haru ini tiba-tiba mempercayainya begitu saja.
Kemudian Haru menyerahkan ponselnya kepada Erfin dan berkata "Kalau begitu, bolehkah aku mendapat nomor ponselmu?"
"Tunggu sebentar, aku tidak menghafalnya" kemudian Erfin mengeluarkan ponselnya untuk melihat nomor ponselnya.
Sementara Haru terkejut lagi dan berseru "Falcon Supernova iPhone 6 Pink Diamond.!!" Mulutnya sudah membentuk huruf O saking terkejutnya.
Fiki dan teman-teman kelas Erfin yang lain juga menganga lebar. Karena mereka sering membuka internet, mereka bisa mengetahui harga dari ponsel Erfin ini bahkan mereka tau juga jika ponsel ini adalah ponsel termahal di dunia yang harganya selangit.
__ADS_1