Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat

Anak Melarat Yang Menjadi Konglomerat
Episode 38


__ADS_3

Didepan rumah Nisa, dia melihat mobil Erfin dan tercengang sejenak dan kemudian berkata "Bukan kah ini mobil termahal di dunia yang hanya di produksi satu unit di dunia ini?"


Erfin mengerutkan kening dan tiba-tiba bertanya "Hah? kamu baru melihatnya sekarang?. Ini ayahmu yang mengurus pengirimannya untuk sampai disini"


Karena mobil ini Pak Kiki yang mengurus pengirimannya, seharusnya Nisa bisa lihat.


"Aku tidak melihat ayah membawa mobil ini, bahkan tidak memberu tahuku juga jika dia membawa mobil mahal seperti ini" ucap Nisa kemudian terpikir akan sesuatu dan berkata "Oohh mungkin saja dia menyimpannya diperusahaan, makanya aku tidak melihanya"


"Tidak perlu mempermasalahkan itu, ayo berangkat sekarang" ucap Erfin. Dia tidak mau membuang-buang waktu di sini.


....


Di sisi Riko, dia sudah sampai di hotel Grand Paradise. Ketika dia masuk ke kamar yang di sewa oleh Fiki, dia tidak melihat Erfin dan Nisa.


Tiba-tiba Fiki menanyainya "Dimana Erfin? apakah kalian tidak datang bersama?"


Riko juga heran, bahkan mereka bertanya padanya? "Aku baru saja menanyakannya padamu. Aku tidak datang bersamanya karena dia membawa pacarnya"


"Mungkin saja mereka masih dijalan" ucap Riko lagi


Sementara yang ada di kamar itu hanya ada Fiki dan teman-teman yang lain. Liven belum muncul, rencananya dia akan muncul ketika permainan dimulai.


Riko menelpon Erfin untuk menanyakan keberadaan mereka.


Setelah selesai menelpon, riko kemudian berbicara kepada teman-temannya "Oohh mereka lagi dijalan menuju kesini"


Sambil menunggu Erfin dan Nisa, Riko memainkan permainan di ponselnya. Sementara teman-temannya yang lain sudah sibuk memesan makanan dan bir.


Dia masih akan menunggu Erfin dan Nisa, tidak enak jika dia makan tanpa menunggu Erfin terlebih dahulu.


Sementara Fiki juga tidak makan, dia harus memastikan targetnya harus datang agar rencananya bisa berjalan dengan lancar. Jika rencananya lancar, dia bisa mendapatkan Ica si ketua kelas malam ini.


....


Kembali ke sisi Erfin dan Nisa. Setelah beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di Hotel Grand Paradise.

__ADS_1


"Ayo masuk..karena kita terlambat pasti mereka sudah menunggu" ucap Erfin sambil menarik tangan Nisa


Karena tangannya di tarik, Nisa merasa tidak nyaman dan berkata "Lebih lembut lagi kalau menarik wanita"


Nisa menarik lengan Erfin dan menggandengnya kemudian berkata "Nah seperti ini seharusnya"


Erfin juga hanya menurutinya kemudian berjalan ke kamar box yang dipesan Fiki.


Kebetulan adegan tadi dilihat oleh Liven diluar hotel. Tadinya dia sengaja terlambat agar bisa pas dengan mulainya permainan. Tapi malah melihat adegan yang menusuk hati seperti itu.


"Si Erfin kurang ajar ini..tunggu saja pembalasanku" ucap Liven sambil memarkir mobilnya.


Erfin dan Nisa sampai di kamar yang disewa Fiki. Mereka pun masuk dengan mesranya.


Sementara Fiki sedang bercerita dengan serius "Kau tau? tadi pagi aku berpapasan dengan mobil Bugatti Lavioture Niore, mobil yang paling mahal itu. Dikabarkan bahwa mobil itu adalah satu-satunya yang diproduksi di dunia ini" dia dengan senangnya menceritakan hal itu.


Dia kemudian melanjutkan "Aku sempat balapan dengan mobil itu, tapi sesuai dengan harganya, kecepatannya juga tidak bisa ditandingi, jadi aku di tinggal jauh olehnya. Tapi aku sudah merasa beruntung bisa balapan dengan mobil termahal didunia itu"


Ketika dia mendengar suara pintu di buka, dia kemudian berbalik dan mendapati Nisa menggandeng tangan Erfin dengan mesranya.


Anak dari keluarga kaya nomor dua di kota puhul jalan sama anak melarat yang mengandalkan beasiswa?


Jika para wartawan mengetahui berita ini, mereka akan sangat bahagia karena mendapatkan berita yang akan membuat gempar satu kota puhul. Bagaimana tidak? anak dari keluarga kaya yang menjadi keluarga nomor dua di kota puhul yang perusahaannya sudah masuk industri global malah jalan sama anak melarat yang mengandalkan beasiswa.


Karena Nisa terkenal karena menjadi bunga kampus, jadi semua teman kelas Erfin mengetahuinya.


Jadi rasanya tidak percaya jika melihatnya menggandeng tangan si anak melarat itu dengan mesranya.


Sementara Erfin tidak memperdulikan tatapan mereka dan menarik kursi dan duduk berdampingan dengan Nisa. Malam ini dia akan mengikuti permainan Liven, jadi dia sudah menyiapkan kartu andalannya yaitu Nisa.


Karena Liven tergila-gila dengan Nisa. Jika Erfin memprovikasinya sedikit itu bisa membuat Liven sakit hati.


Setelah mendapatkan tempat duduk, Erfin kemudian memandang Fiki dan berkata "Apakah kami sudah bisa memesan?"


Fiki langsung respek menjawab "Tentu saja, kalian pesan apa yang kalian suka" walapun dia sempat berpikir jika uangnya kurang, tapi mereka tidak mungkin bisa menghabiskan uang satu miliar dalam satu malam.

__ADS_1


Dia bertingkah seperti ini karena dia ingin terlihat keren dimata ketua kelasnya, Ica.


Erfin juga tidak sungkan-sungkan dan langsung memesan bir Space Barley 1970-an yang harganya bahkan sampai dua miliar. Dia tidak meminumnya, hanya memesannya saja untuk membuat Fiki tidak bisa membayarnya agar dia kapok.


Dia berani merencanakan sesuatu dengan Liven untuk membalas dendam padanya. Tentunya dia tidak akan membiarkannya.


Ketika Fiki melihat bir itu, matanya langsung melotot dan berkata dengan nada tinggi kepada Erfin "Apa-apaan ini? kamu sudah menghabiskan dua miliar sendirian? kamu gila?" ucap Fiki. Uang yang dia bawa saat ini hanya satu miliar saja. Itupun dia harus merengek dulu didepan ayahnya baru diberikan.


Erfin ini dengan santainya memesan bir yang paling mahal seniali dua miliar sendiri?


Tapi Erfin menjawabnya dengan tersenyum "Kamu bilang kami bisa pesan yang kami suka"


"Tapi tidak dengan bir ini juga, ini..." Fiki tidak tau mau berkata apa lagi, dia sudah tidak bisa membayar satu botol bir itu di tambah dengan pesanan teman-temannya yang lain.


Tapi Erfin berkata lagi sambil tersenyum "Ohh jadi kamu tidak bisa membayarnya? jika memang begitu seharusnya bilang dari tadi" Dia sengaja memprovokasi Fiki agar dia menghabiskan seluruh uangnya malam ini agar nantinya dia tidak sesombong ini lagi.


Fiki tidak terima dengan perkataan Erfin, dia kemudian berkata "Aku tidak bilang begitu" ucap Fiki dan berhenti sejenak kemudian berkata lagi "Baiklah..tidak masalah..nanti aku bayar semuanya"


Dia berpikir karena pemilik hotel ini berteman dengan ayahnya, dia bisa memohon kepada ayahnya untuk mengurus hal ini.


Walaupun Fiki berpikiran seperti itu, tapi sebenarnya mereka tidak seakrab yang Fiki pikirkan.


"Nah memang harusnya seperti itu jika ingin mentraktir" ucap Erfin sambil menunjukkan seringainya.


Tidak lama kemudian Liven masuk sambil memasukkan kedua tangannya didalam saku celananya.


Dia berjalan kearah Erfin dan Nisa dan berkata "Apa kabar Erfin, semoga malam ini kamu bisa pulang dengan selamat"


Erfin terkejut lalu berkata "Apa maksudmu?" Dia bisa paham dengan perkataan Liven ini. Dia pikir rencananya Liven ini hanya mempermalukannya didepan teman-temannya ternyata sudah sampai ditahap permainan fisik.


"Aku hanya mendoakan keselamatanmu, apa aku salah?" ucap Liven dengan seringainya.


Sementara perasaan Erfin sudah tidak enak, dia kesini tidak membawa Abi, jadi dia sedikit takut apa yang akan dilakukan Liven nanti.


"Tidak perlu takut seperti itu, aku kesini juga karena Fiki yang mengundangku" ucap Liven lagi.

__ADS_1


__ADS_2