
Hari sudah siang, matahari yang sangat terik namun tidak membuat mereka kepanasan karena cuaca nya masih terasa dingin
Mereka sampai di tempat tujuan, *WILUJEUNG SUMPING DI DESA SAUYUNAN*, begitulah kira-kira tulisan di yang di pajang di gapura depan, gapura itu menunjukan bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan yang akan mereka datangi hari ini
Semua warga disana berhamburan melihat rombongan mobil yang mewah memasuki tempat mereka tinggal
Karena kampung yang sangat pelosok, jarang ada kendaraan pribadi masuk ke sana, hanya ada satu dua mobil yang mengangkut padi sama sayuran saja, motorpun masih sangat jarang di gunakan disana, hanya sebagian orang saja yang memiliki motor
Warga disana memanggil kepala desa karena melihat rombongan mobil memasuki perkampungan mereka
” barudak itu mobil saha meni alus kitu, tempo gera,
Itu mobil siapa yah sangat bangus
” Wah cigah namah eta mah mobil jelema beunghar
wah kayak nya itu mobil orang kaya
” Naha jelema beunghar teh datang ka kampung urang, aya naon nya
kenapa orang kaya datang ke kampung kita, ada apa yah?
Begitulah percakapan warga kampung disana,
Fano dan keluarga nya keluar dari dalam mobil bersama para pengawal yang segera menjaga mereka
Semua warga bersorak bertepuk tangan melihat kedatangan mereka, nampak nya warga disana sangat senang kedatangan tamu yang tiba-tiba saja datang
Kepala desa disana segera menghampiri keluarga Fano dan segera bertanya apa tujuan nya kesana,
” Hapunten ibu sareng bapa, timana sareng bade kamana?
maaf bu,pak, darimana dan mau kemana?
Tanya kepala desa, tidak ada seorangpun yang mengerti bahasa mereka, hanya Dina yang mengerti dan Dina menjawab nya
” Hapunten bapak, abi Dina, bade ka bumi na bapak Edin, abi munrangkalih na nu kapungkur di candak ka kota, Kata Dina
Maaf pak, saya Dina mau kerumah nya pak Edin, saya yang dulu di bawa ke kota, kata Dina
” Alaah gening ieu teh neng Dina, Astagfirullah ya Alloh, meni tos ageung tos geulis, hayu atuh urang jajap ka bumina bapa,
Aduh ternyata ini Dina, sudah besar sudah cantik, ayo kita antar ke rumah nya bapak, KATA KEPALA DESA
” hatur nuhun sateucan na pak, janten ngarepotkeun jawab Dina,
__ADS_1
Terimakasih sebelumnya nya pak, jadi ngerepotin,
Semua warga Desa Sauyunan heboh, mereka semua mengenal Dina yang dulu nya masih sangat kecil, namun sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang cantik, teman Dina di masa kecil nya semua ingat pada Dina, Dina juga masih mengingat mereka dengan jelas, namun dia nampak malu-malu untuk menyapa temannya,
Semua orang mendekati ke arah Dina karena ingin melihat jelas dan ingin memeluk Anak Desa yang dulu kecil sekarang sudah tumbuh dewasa, Namun mereka di hadang oleh pengawal nya Fano
” Cukup-cukup jangan terlalu dekat dengan Nona, nanti dia terluka, kata Tio pada warga Disana
” Naon na cukup ari si aa meni kasep iyeuh aa ulah ngahalangan atuh, Nami nage da sanes Nona tapi neng Dina, eh ari si aa
Apanya yang cukup, kamu ganteng banget,jangan ngalangin dong, Namanya juga bukan Nona tapi Dina, kata Warga Desa disana yang dulu mengenal Dina
” Panggil Dia Nona bukan Dina, kata Tio
” Nyarios naon nya nu kasep teh,
ngomong apa yah yang ganteng, Kata Warga
Orang-orang yang mengenal Dina tidak bisa menghampiri nya karena di hadang oleh para pengawal dan Tio, namun warga Desa disana tidak menghiraukan nya,
Dari kejauhan penghuni Rumah yang tepat nya di tengah-tengah sawah, melihat gerombolan banyak orang sedang berjalan tepat ke arah nya,
” Itu teh aya naon nya meni rame, bade kamarana atuh jalmi teh,
Ada apa yah rame banget, orang-orang mau pada kemana, Kata penghuni rumah tersebut dia adalah nenek nya Dina sambil melihat ke arah warga dari pintu jendela
” Ni Sumi, punten itu aya neng Dina kadieu, sareng kulawarga na nu di kota
Nek Sumi maaf itu ada Dina kesini, sama keluarga nya, yang di kota, Kata salah satu warga disana
” Anu leres ujang,ulah ngabohong,
Yang bener dek, jangan bohong ,kata Nenek Din
Semua warga Desa dan kepala desa sudah sampai tepat di rumah nya orangtua Dina,
Tiba-tiba tangis haru pecah saat nenek Dina berlari melihat cucunya yang sedari bersama nya, kini sudah tumbuh menjadi sangat cantik dan dewasa
” Dina incu emak, kamana wae geulis emak teh ngarep-ngarep, emak meni atoh pisan ayeuna tiasa ninggal deui anjeun
Dina cucuk nenek, kemana aja cantik, nenek senang banget bisa lihat kamu lagi, Pelukan dari nenek nya sangat erat di banjiri air mata, tidak ada henti-henti nya Dina menangis saat bisa bertemu lagi dengan nenek nya yang sangat menyayangi nya
Keluarga Fano dan Jayapun sama-sama meneteskan air mata, menyaksikan nenek dan cucunya saling mengungkapkan rasa rindu yang mereka pendam selama ini,
Di sela-sela haru akhirnya yang Dina tunggu datang juga, ya Ayah Badri, Ayah nya Dina yang sangat dia rindukan juga
__ADS_1
” Ayah, Dina memeluk ayah nya yang sudah terduduk lemas menangis melihat anak nya ada di hadapan nya saat ini
Dulu Badri sangat tega menyerahkan anak nya begitu saja pada orang lain, tapi disaat sudah semakin lama anak nya tidak ada, Badri sangat merindukan putri itu, Dia menyesal karena tidak bisa menjadi ayah yang baik dan malah memberikan anak nya pada orang lain
Suasana yang haru sudah kembali lagi menjadi suasana yang membahagiakan, dimana semua keluarga berkumpul, warga disana yang masih berkerumun di luar rumah menyaksikan suasana itu, tidak ada satupun yang tidak menangis, mereka semua menangis karena mereka juga merindukan anak desa yang dulu pernah tinggal disana
” Apa kabar pak, Sapa Badri pada jaya
” Baik, bagaimana kabar kamu? tanya Jaya
” Saya juga baik,
Badri memberi salam pada semua keluarga baru nya,
” salam pak, perkenalkan saya Fano suami nya anak bapak, Sapa Fano
” Hah Kamu sudah menikah nak? Tanya Badri
” Iyah ayah aku sudah menikah, jawab Dina
Badri ikut senang dengan kabar ini, meskipun banyak pertanyaan yang dia ingin tanyakan pada anak nya, tapi dia mengurungkan niat nya dulu karena tidak mau merusak suasana ini
Semua warga membatu menyiapkan masakan untuk para tamu mereka, mereka menyumbang makanan dan cemilan khas daerah nya untuk di suguhkan pada tamu mereka,
” Hey eta calik atuh meni nanggung wae emang na teu cangkeul, kadieu urang ngopi,
hey duduk dong, jangan berdiri terus, emang nya ga pegel, kesini kita ngopi, Kata warga disana pada para pengawal
Dina yang melihat itu langsung memberitahu pada para pengawal nya untuk masuk dan duduk saja di dalam rumah
” Ayo duduk saja, jangan bersikap berlebihan disini, ini desa berbeda dengan kota, jika kita bersikap seperti ini nanti mereka akan mengira kita sombong, jadi bersikap sewajar nya saja, nikmati liburan kalian dulu selama disini
Para pengawal pun duduk Karena Dina yang meminta nya, Tio yang melihat itu merasa heran karena ini semua memang tugas mereka, namun mau tidak mau dia harus bisa mengimbangi dirinya dengan warga disana
Jamuan makan siang sudah siap, mereka di suguhkan dengan menu masakan sunda khas kampung merek, Sambal yang terlihat medok, ikan asin dan ayam goreng kampung, kerupuk serta tidak lupa dengan lalapan seperti jengkol,
Mereka semua segera menikmati makan siang nya, nampak nya mereka sangat kalap dan tidak berhenti saat makan masakan menu sunda,
” Huuuh Haaaaa ini sangat pedas tapi aku tidak bisa berhenti memakan nya, kata Fano sambil mengusap keringat nya yang bercucuran
” menu makanan disini sangat nikmat, kata ibu nya Fano
” Ya benar, apa ini yang bulat, Tanya Fano
” Itu semur jengkol, kamu harus mencoba nya itu sangat enak, jawab Ayah Fano
__ADS_1
Fano mencoba nya lagi dan lagi, begitupun dengan Tio dan Rini mereka sama-sama mengeluarkan keringat karena saking kepedesan namun nikmat dan tidak mau berhenti,
Warga disana sangat senang,melihat para tamu nya sangat menyukai masakan mereka, bahkan tidak berhenti untuk memuji masakan yang mereka buat itu