
Warga Desa disana ikut berkumpul melihat kepergian keluarga Fano, mereka juga sangat senang bisa mengenal orang baru dari kota, selama ini mereka salah menilai orang kota itu terlihat sombong dan angkuh, namun saat mengenal keluarga Fano mereka melihat ketulusan dari sana, tidak semua orang kota sombong ternyata, mereka baik dan ramah, begitulah kata warga disana
Semua sudah masuk ke dalam mobil nya masing-masing, warga melambaikan tangan dan di balas oleh Fano dan keluarga nya, Sampai mobil Fano dan yang lain nya tidak terlihat, akhir nya warga segera bubar dan melanjutkan pekerjaan mereka hari ini
Seperti ada yang hilang, setelah kelarga Fano kembali ke kota, jika kita bersikap baik, tidak perduli berapa banyak kekayaan mu dan tidak perduli sedikit apa kekayaan mu, jika saling menghormati maka akan ada ketulusan disana
Setengah perjalanan, sudah lebih dari tiga jam mobil melaju menyusuri jalanan
” Hah kenapa bahu saya terasa pegal, apa karena saya tidur tidak memakai bantal tadi malam, salah bantal nih, kata Tio
” Bantal di salahin, salah bapaklah kenapa ga pake bantal, aneh deh bantal ga salah apa-apa ko di salahin, kata Rini
” Kamu diam atau saya turunkan di jalan, kata Tio, Ya turunkan saja, nanti tidak akan ada lagi sekretaris di tempat kerja bapak yang seperti saya, begitu kata Rini
” Hahah saya bisa mencari sekretaris lebih sepuluh yang lebih berbakat darimu, kamu yakin mau saya turunkan, kata Tio, tidak pak saya hanya bercanda saja, kalau saya di tinggalkan disini, nanti bagaimana dengan hutang saya pada bapak, saya kan harus melunasi hutang motor itu, Rini berkata
*Apa dia benar-benar berpikir kalau aku memotong gajih nya untuk membayar hutang motor, hahahah, tidak apa-apa ini menyenangkan, karena dia tidak bisa seenaknya keluar dari tempat kerja* begitu batin Tio
Rini sudah tidak bisa menahan matanya yang sudah terasa ngantuk, Tio melihat karena Rini terus-terusan menguap di samping nya, dan hingga akhirnya Rini memejamkan mata nya yang sudah terasa berat
*Kamu terlihat manis saat tidur, tapi seperti nenek lampir saat terbangun* kata Tio dalam batin nya
Selama di perjalanan Rini masih terjaga di dalam tidur nya, hingga Tio membangunkan nya karena harus mampir ke restoran untuk makan siang
Rini sudah bangun, ternyata tidak sulit membangunkan Rini, tidak seperti dulu waktu dia mengantar nya ke rumah nya,apa dulu dia sengaja mengerjaiku, begitu pikir Tio
Mereka semua sudah singgah di restoran yang cukup mewah dan luas, untuk segera menyantap makan siang nya,
__ADS_1
Tio sudah memesan menu terbaik disana untuk Tuan dan yang lain nya, Dia meminta kepada pelayang di restoran itu untuk mendahului pesanan nya, dan mereka juga menyetujui nya karena memang keadaan Restoran disana belum cukup ramai
kudapan makan siang sudah beres, mereka segera menyantap makanan nya masing-masing,
” Makan dan kunyah dengan benar, kata Tio berbiacara pada Rini terlihat seperti orang yang tidak makan tiga hari, Maafkan saya pak, mungkin saya lapar, saya akan makan perlahan, jawab Rini
” Setelah makan saya yakin kamu akan tertidur lagi di dalam mobil, kata Tio
Mereka semua membereskan makan siang nya dan segera kembali melanjutkan perjalanan nya, Tio meminta salah satu pengawal untuk bergantain menyetir karena badan nya yang terasa sangat pegal hari ini,
” duduk di belakang bersamaku kata Tio pada Rini yang masih terduduk di kursi depan, di dalam mobil Tio terus saja memijat pundak dan leher belakang nya yang terasa pegal, ini pertama kalinya dia merasa sakit di bagian itu,
Rini yang melihat itu langsung menawarkan diri untuk meminta ijin membantu memijat nya, Saya akan membantu anda memijat nya pak, kata Rini
” Hmmmm Tio tidak menolak karena memang saat ini dia benar-benar butuh di pijat, seperti nya anda masuk angin pak, karena anda terus-terusan sendawa, Rini memberi Tio minyak kayu putih yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi,karena menurut nya itu sangat membantu,
Tio berterimakasih pada Rini karena dia sudah mau membantunya,
* aku tarik kata-kata tadi menyebutmu nenek lampir jadi gadis lampir* Batin Tio
” Sudahlah jangan merengek seperti itu, biasanya kan anda tahan banting, sosoan merengek disini tapi sebenarnya galak Kata Rini
” Kau memang nenek lampir, gumam Tio namun terdengar jelas oleh Rini, siapa nenek lampir?, Rini bertanya karena takut salah dengar
Aku mengenal nenek lampir sejak saat ini dan kurubah menjadi gadis lampir itu dirimu kata Tio
Lalu apa bedanya dengan anda, Baiklah anda seperti si grandong yang selalu bersama nenek lampir, Jawab Rini
__ADS_1
Aku tidak mau bersamamu dan aku bukan grandrong, aku Tio si gagah dan tampan, mulai narsis
Gagah dan tampan, sakit punggung saja menyalahkan bantal yang tidak punya salah apapun, begitu kata Rini
Dasar grandong payah,kamu nenek lampir jahat, balas Tio, Kenapa jadi nenek lampir? bukan nya sudah kau rubah jadi gadis lampir tanya Rini
Aku rubah perkataan ku karena kau memang pantas di sebut nenek lampir!, jelas Tio, Grandong payah, balas Rini, begitu saja terus mereka ulangi, hingga mereka melupakan sifat jaim selama ini, terutama Tio, dia kehilangan wibawa nya saat ini di depan Rini, bukan seperti Tio yang selalu bersikap dingin dan tegas. Tapi kini menjadi grandong yang payah dan merengek karena sakit punggung gara-gara si bantal, kasian bantal di salahin terus
Setelah perdebatan di antara keduanya, kini terasa sepi dan sunyi, nampaknya nenek lampir dan si grandong lelah hingga mereka tertidur dengan posisi menyender dan kepala saling beradu, bahkan sedang tidurpun mereka masih beradu,
Rini yang lebih dulu terbangun, Dia menyadari bahwa kepala nys sedang menyender pada kepala Tio, namun Tiba-tiba Tio juga terbangun dia menyadari Kalau kepalanya menempel pada kepala Rini
Apa tadi kepalamu menempel padaku, cari kesempatan aja kamu, Tio kembali ngomel padahal baru saja bangun,berantem sama Rini bukan membuat dia cape, namun membuat dia semakin semangat karena bisa terus memarahi Rini
Berbeda dengan Rini yang sudah menyerah karena tidak mau sama gilanya meladeni ocehan dari boss nya itu,
Mereka sampai di tempat tujuan, Rini turun dari dalam mobil nya, di bantu Tio menurunkan tas milik Rini,
Ibunya Rini sudah menunggu dan senang melihat nya baik-baik saja, Ibu Rini mengucapkan Terimakasih pada Tio yang sudah menjaga anak perempuan nya
” Saya permisi dulu bu, Tuan Fano sudah di depan dan saya harus segera menyusul, pamit Tio pada ibunya Rini
” Terimakasih pak, maaf bercandaan saya tadi yang berlebihan kata Rini
*Tapi saya serius dengan bercandaan itu, setidaknya posisi kerja saya aman kalau saya meminta maaf langsung* kata batin Rini
” kamu meminta maaf karena kamu takut saya memghukum mu, Tio seperti bisa membaca pikiran Rini, seketika Rini mematung karena Tio bisa menebak pikiran nya
__ADS_1
NEXT READER ❤