
awalnya semua memang baik baik saja, tidak ada perdebatan antara mereka. namun masalah sepertinya mulai menerpa hubungan mereka entah angin apa yang berhembus hingga memecah keheningan.Tak ada yang tahu bahwa badai bisa datang kapan pun dia mau, seperti kedatangan Arin yang tiba tiba muncul dihadapan Ita. Hari ini Arin datang ke rumah Ita. Ita saat itu hanya terdiam melihat Arin, dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
apa Arin sudah tau ya tentang postingan Daniel. apa dia marah sama aku jika dia salah mengira. oh Tuhan harus apakah aku.. apa aku salah dengan rasa ini.
Arin hanya diam sesaat dan menghampiri Ita dengan pelukan. seperti tidak ada hal buruk yang terjadi. mereka masuk kedalam dan bercerita banyak hal tanpa disadari Arin masih menanyakan Daniel.
hahh.. apa apa apa Arin benar benar belum tau soal postingan Daniel waktu itu. kenapa seolah dia tidak tau bahwa aku kekasih daniel. apa iya dia benar benar tak tahu.. atau ini hanya pertanyaannya untuk memancingku..
eh Ta.. kok kamu diem sih... kesambet tar..
hehe.. nggak kok Rin.. emm emm sebenarnyaa....
sebenarnya apa sih. kamu ini kok kayak orang linglung aja..
sebenernya tu cowo yang kamu maksud selama ini itu..dia.. dia..
apaan sih.. dia kenapa..
dengan penuh keberanian ita meberanikan diri untuk menjawab dan menegaskan pada arin bahwa daniel adalah pacarnya.
dia itu Daniel. jawab ita yang belum sempat terselesaikan namun sudah terpotong oleh arin..
oh namanya daniel..
iya Rin namanya Daniel dan dia yang kamu maksud adalah pacar aku Rin." dengan penuh keberanian ita mengucapkan kebenaran pada Arin hatinya bergejolak, tubuhnya serasa bergetar.
__ADS_1
Apaa? maksud kamu apa Ta?
Maaf Rin.. memang itu yang sebenarnya, karena aku tidak tahu siapa cowok yang kamu maksud itu. Dan aku sudah lama perpacaran dengan Daniel, bahkan saat kamu mengajak aku ketempat nongkrongnya aku sudah jadian sama Daniel Rin." jelas Ita sambil menunjukkan postingan Daniel yang menandainya.
Ita pun kembali menjelaskan semua pada Arin dari ketakutan yang pernah dia rasakan dan bahkan terbayang akan pembicaraannya dengan Arin kala itu.
ini Rin.. ini foto yang Daniel unggah saat itu, ia cantumkan juga berapa lama hubungan kita saat itu berjalan, dengan maksud kamu juga tahu yang sebenarnya, tapi justru kamu belum mengetahuinya hingga saat ini. Maafkan aku aku tak tahu jika Daniel adalah orang yang kamu maksud, dan sebelum kamu pindah rumah aku sudah mengenalnya saat itu aku baru dipindah ke kelasnya. Maaf Rin bulan maksudku untuk menyakiti perasaanmu, aku sudah begitu sering ingin mengenalkanmu pada Daniel, namun saat itu Daniel tengah sibuk dengan latihan basketnya untuk persiapan pertandingan.
kenapa kamu nggak bilang sih Ta! kenapa baru sekarang? apa susahnya sih kamu bilang siapa pacarmu.
Maaf Rin... maaf.. aku akui aku juga salah, aku baru menyadari dan memahami saat kamu sudah mengirimkan foto Daniel. dan saat itu aku bersama Daniel. aku benar benar tak tahu dari awal siapa yang kamu maksudkan. dan semua sudah terjadi dan aku sudah lama menjadi pacar Daniel dan itu sebelum kamu bercerita bahwa kamu memyukainya.
Arin semakin merasa marah pada Ita bahkan Arin sudah melangkah keluar. Ita hanya pasrah dengan amarah Arin. Dan disaat bersamaan Daniel tiba. saat arin sudah berada diluar disitu ada Daniel yang baru saja tiba. Daniel tidak tahu bahwa itu adalah Arin sahabat yang sering diceritakan oleh Ita.
emm..maaf apa Meitha ada di rumah? tanya Daniel pada Arin denga senyuman bersahaja.
seperti biasa Daniel masuk kedalam ruang tamu dan dengan cara yang berbeda dia menelgon ita untuk menyuruhnya keluar kamar.
kringggg... kringggg....
Daniel.. ngapain dia telfon..
hallo.. iya Niel.. kenapa?
keluar dong Meith...
__ADS_1
ada apa?? belum sempat ota mengucapkan kata lagi telfonnya sudah dimatikan oleh Daniel. tutt...tut..tuttt...
Ita yang keheranan pun beranjak dari tempat tidurnya dan menuju cermin terlebih dahulu untuk memastikan bahwa dia baik baik saja. masih terlihat jelas pada mata ita bahwa ita baru saja menangis. Ita langsung keluar dan memdapati Daniel tengah duduk di ruang tamu.
kamu Niel.. kok kamu disini? kenapa nggak pulang dulu kamu habis pulang latihan kan?
iya sengaja aku mampir.. entah kenapa aku ingin ketemu kamu haha.. rasanya pengen ketemu aja..
Arin masuk kedalam rumah dan mendengar ucaan Daniel barusan. Arin terus melangkah tanpa menghiraukan. begitu Aris sampai didekat Ita dan hendak ke kamar Ita menghentikan langkah Arin dengan memanggilnya.
eh.. Rin sini deh duduk disini,
Arin berhenti dan membalikkan badannya berjalan menuju kursi depan Ita dan Daniel.
oh iya Niel.. kenalin ini Arin.. ucap ita dengan senyuman tipis
oh jadi kamu yang namanya Arin, salam kenal ya Rin aku pacarnya Meitha. oh iya Meitha sering loh nyeritain kamu. katanya kalian sahabatan uda cukup lama. ucap daniel sambil menjulurkan tangan berjabatan dengan Arin.
iya aku Arin. ucap Arin singkat
setelah Arin dan daniel bersalaman dan ita mengenalkan mereka secara langsung keadaan semakin hening dan membisu satu sama lain. Ita merasa seolah dirinya telah melukai perasaan sahabatnya. dan Daniel yang melihat Ita dan juga Arin merasakan ada sesuatu yang janggal diantara mereka. akhirnya daniel memecah keheningan yang sempat terjadi dengan mengambil gitar disudut ruang tamu dan memainkannya serta menyanyi. Dani tak ingin suasana semakin sunyi dan sepi. Daniel merasa bahwa hubungan persahabatan mereka tengah ada masalah. dan Daniel menyimpulkan bahwa kemungkinan semua terjadi karnanya.
maaf ya rin.. aku telah melukai hatimu, tapi aku sudah begitu sayang dengan daniel.. alu tak ingin melepaskannya. mungkin aku egois kali ini tapi maaf rin... aku sungguh menyayangi daniel.. daniel milikku saat ini... dan aku akan tetap memertahankan ini.
disatu sisi Arin pun terdiam dengan lamunnya dan hatinya sumpah daniel ini memang tak kuragukan. mungkin ini salah satu alasan kenapa aku bisa suka dengannya bahkan aku rela jika pindah kesekolah ita. dia memang berbakat, ganteng banget lagi. harusnya dia jadi milikku bukan ita.
__ADS_1
Waktu terus berputar daniel sudah menyanyikan dua lagu namun keadaannya masih sama sama membisu antara ita dan arin. mereka sama sama terdiam dengan pikiran mereka sendiri. daniel memutuskan untuk pulang. Namun ita dan arin tetap tak ada kata apapun hingga malam tiba mereka bagai berada ditempat yang berbeda.
jika perasaan sudah menetap pada kenyamanan maka rasa itu ingin selalu bertahan dan tetap beriringan bersama, berjalan dalam keadaan apapun, kokoh bagai karang yang diterjang oleh ombak yang menerpa ingin mengikisnya..