
Jujur saja aku masih bingung dengan mas Arta apa maksud dia bicara kalau dia tau semuanya. Tapi aku juga tak mungkin terus melanjutkan pembicaraan dengan mas Arta apalagi Daniel sedang dalam keadaan emosi. saat di rumah pun aku hanya terdiam melihat Daniel yang masih kesal. Aku tak berani berkata karna aku takut dia masih dalam keadaan marahnya. Namun aku juga tak bisa hanya diam dengan tindakannya pada mas Arta ya walau aku tahu mungkin dia memang cemburu.
Berani tak berani ingin sekali ku memulai pembicaraan dengan Daniel sebelum akhirnya dia pulang.
"Niel.. maaf ya aku telah membuatmu semarah ini..
"kamu tak perlu minta maaf, aku yang salah harusnya aku tidak langsung memukul Arta, aku tahu kamu tadi tidak terima dengan tindakan ku tadi karna jelas sekali terlihat diwajahmu Meit... maafkan aku...
"kalau aku menolak dan berontak pada mas Arta mungkin semua tak seperti ini...
"sudahlah...
Dan obrolan kita pun berhenti saat Daniel memegang tanganku dan mengengamnya erat. Seolah tak ingin membahas ini berlarut lagi.. Daniel pun pulang dan aku terdiam di dalam kamar. Aku terus terdiam bukan hanya sejenak namun berlarut.. Lamunanku terhenti oleh deringan ponselku, ku lihat ada nama mas Arta yang menelfonku.. aku terdiam dan akhirnya aku tersadar kembali oleh deringan ponselku tadi. Namun aku mengabaikannya saja tanpa ingin mengangkat telfonnya. Beberapa saat dia mengirimkan pesan.
Ta.. ini aku Arta maaf jika aku menganggumu.. aku benar benar khawatir dengan keadaanmu.. aku berharap kamu baik baik saja. dan maaf atas apa yang terjadi tadi...
sebenarnya apa sih yang Mas Arta khawatirkan.. Seperti ada yang menganjal.. setelah sekian lama dia tak pernah menghubungiku kini dia kembali dan dengan rasa khawatirnya. Dia yang sangat berbeda dari Daniel, mas Arta yang sangat dingin dan tanpa ia menunjukkan sedikit rasa pada seseorang namun saat dia merasakan kekawatiran semua sifat aslinya sangat hangat.
iya mas Arta, tak apa... tak ada yang perlu dimintai maaf.. Dan apa yang membuat mas Arta begitu kawatir dengan keadaanku? sedangkan mas Arta tau bahwa aku dalam keadaan baik.
akhirnya kukirimkan balasan pesan ini pada mas Arta...
Aku sudah tahu semuanya Ta ku harap kamu jujur denganku. Aku akan selalu ada dipihakmu dan akan melindungimu dari segala ancaman Arin. balas mas Arta
__ADS_1
Dari balasan pesannya aku sungguh tak tahu apa yang sebenarnya dia khawatirkan, dan apa yang dia tahu. Lama aku tak membalas pesannya dan hingga aku lupa untuk membalasnya.
Hariku makin penuh dengan hal hal baru... antara masalah yang bertubi tubi belum juga selesai dan sudah ditambah pula dengan yang lainnya Rindu akan nyamannya hati.. Rindu akan suasana ketenangan diri. Rindu dengan hal hal membahagiakan yang membawaku pada suasana kedamaian hati.
Ta dalam minggu ini aku mau ketemu dengan kamu, untuk tempat dan jamnya sebisamu. kamu bisa kabari aku.. ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu. pesan dari mas Arta kembali
Mas Arta ngajak ketemu lagi.. kalau Daniel tau yang ada dia pasti marah. Tapi jika dia tak kukasih tau dikiranya aku yang gak jujur dengannya. aku harus apa... apa aku memberi kabar pada Daniel. Ah besok saja jika Daniel kesini aku bicarakan ini. Semoga esok Daniel sudah tak ada lagi rasa amarah...
*****keesokan hari. ...
Seperti hari hari biasanya Daniel menjemput Ita untuk berangkat sekolah. Ada sapa dan senyuman yang menandakan dia baik baik saja. Tak ada sepatah kata yang keluar untuk memulai pembicaraan. ita hanya terdiam lantaran bingung ingin berkata pada Daniel, bahwa Arta ingin bertemu dengannya.
huft.... ku hembuskan nafas yang begitu berat... rasanya aku bingung harus berkata apa. apa Daniel mengijinkan ku jika aku memberitahunya jika aku akan bertemu dengan mas Arta. Apa Daniel tak kan marah jika aku tetap menemui mas Arta atau aku harus apa... aku diam namun pada akhirnya aku takut aku salah dan membuat Daniel marah. Kemarin saja Daniel sudah marah apalagi nanti jika aku terus terang bilang jika aku bertemu dengan mas Arta. argh... aku kan yang jadi serba salah dan terjepit dalam posisi yang serasa kubuat buat sendiri. Harus bagaimana ini... ah sebaiknya nanti aku cerita sama Ayu saja.. dia pasti ngerti asal jangan ada Ima pasti dia tak bisa jaga rahasia.
"Meit aku ke ruang P.Abi dulu.. kamu sama mereka aja dulu ke kelasnya ya...
"emm... iya Niel...
Daniel pun terpisah denganku dan Ima dengan sigapnya berlari menghampiriku seolah bagai anak kecil yang mendapat hadiah
"Ta .. Ta... Ita..... teriak ima sambil berlari menghampiriku.
"apa? jawabku datar
__ADS_1
"eh Ta.. yang bener berita kemarin? tanya Ayu
"berita berita apaan Yu?
"itu loh Ta katanya Daniel nonjok muka kakak kelas, sahut Ima
"oh.. iya benar kenapa emang??
"hah.. yang bener.. sahut Ima dan Ayu serentak
"basi tau gosip kalian. jawabku sambil berlalu
sepanjang jalan menuju ke kelas banyak sekali yang memandangku sinis. menatap dengan tatapan tajam seolah melihat hal yang membuat terkejut hati saja.
apa apaan sih mereka.. ngapain juga harus ngeliatnya gitu.. emang gue ******* apa... ah ngapain juga gue mikirin mereka. Anggap aja mereka sirik. hahaaa
Ku berjalan mendahului Ayu dan Ima dan tanpa ku sadari mas Arta sudah ada disampingku. Aku terkaget saat dia langsung menanyakan kapan aku ada waktu untuknya.. aku mulai gelagapan bingung tak karuan.. aku harus jawab apa.. aku hanya tersenyum saja tanpa memberi sebuah jawaban yang pasti untuk mas Arta. Aku benar benar tak tahu .. disisi lain aku tak mau membuat Daniel marah kembali namun disisi satunya aku penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh mas Arta.
"aku hanya butuh jawabanmu ta... tak perlu kamu memberi alasan atau tak perlu kamu bilang kapan itu waktunya. aku hanya butuh jawaban Ya atau Tidak saja. untuk waktu ataupun alasanmu aku tak peduli dan aku tak mau tahu. Bagaimana Ta apa kamu bisa kapan kapan keluar dan ngobrol denganku??
aku hanya terdiam dan tanpa ada jawaban apapun. aku tak tahu...
"aku hanya butuh kepastianmu... aku tak mau memaksamu, aku juga tak akan menganggumu berlarut, aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja itu sudah lebih dari cukup untukku.
__ADS_1
"jika kamu belum bisa memberi kepastiannya aku siap menunggu. kapan pun itu. kamu bisa kirimkan pesan cukup Ya atau Tidak...