
Matahari sudah menampakkan sinarnya, hari sudah berganti. Hari yang terasa sangat mencengkam setelah merasa terancam oleh pesan pesan dari Arin. Rasanya tak ingin beranjak dan hanya ingin terdiam dalam kesunyian dan ketenangan. Jatiku terasa gundah gulana, membuat ragu dan anganku tak karuan. Bagai karang yang harus tegar dan kuat saat diterjang oleh ombak dilautan dalam. Bagai mentari yang harus tetap bersinar tanpa mempedulikan suasana sekitar. Membawa terang dalam kegelapan. Dan bagai lilin yang harus tetap menyala membawa terang untuk sekitar walau habis terbakar oleh apinya. Semua seolah berat dan sulit bagiku namun keadaan memaksaku untuk tetap baik baik saja dan bertahan dengan senyuman senyuman yang membawa kedamaian diantara mereka yang masih menyayangiku.
Bangun Ta bangun sudah pagi kamu harus segera beranjak dan hadapi semuanya. semangat kamu pasti bisa. kutanamkan semua energi positif dalam diri ini agar aku kembali ceria dan mampu jalani semuanya.
Segeraku beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk ke sekolah hari ini.
"pagi Meitha..." sambut Daniel yang sudah ada didepan rumab ketika aku keluar. sapanya penuh senyuman yang mampu menenangkan.
"pagi juga Niel.." balasku dengan senyuman tipis sembari melangkahkan kaki menghampirinya
Kita pun berangkat ke sekolah, dalam perjalanan hingga di gerbang sekolah pun tak ada obrolan berarti diantara aku dan Daniel. Hanya canda dan saling ledek saja, ya...kita memang selalu penuh dengan tawa begitu cara kita untuk saling membawa suasana selalu penuh keceriaan. Saat kita sudah berada didalam ruang kelas sudah ada Ayu dan juga Ima yang tengah melambaikan tangan kearahku dan Daniel.. mereka menyapa dan berniat mengajak kita bergabung duduk entah hanya untuk sekedar bercanda atau hanya mengosip belaka.
Duduk saling berhadap satu sama lain bercerita tentang hari hari dan cerita yang memicu tawa diantara kita berempat. Menceritakan teman sekelas bahkan kakak kelas pun tak luput dari sorotan si Ima semua kejadia seolah dia selalu kepo. Dan tiba saatnya si Ayu bertanya menyelidik seolah mengingatkannku pada paitnya cobaan ku.
"oh iya Ta.. gimana sama sahabatmu si Arin itu apa dia masih menganggumu dan mengusik hubungan kalian?"
"ahh lu yu ngomong apa sih? masih pagi ni masak uda gosip dari sabang ampe merauke hehe.." balasku dengan ledekan agar suasana tak saling pandang padaku. Daniel yang juga ikut menatapku membuatku harus bisa bersabar untuk menutupi ini semua selama tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
"Meit benar dia tak menganggumu?"
"iya Niel, semua masih baik baik saja sampai saat ini, kan ada kamu."
"ele mulai dehhh kalian... yuk Ma kita pergi aja ... ini mah dunia serasa milik mereka aja .. kita mah mahluk alus kali yang nggak keliatan haha" ledek ayu
__ADS_1
"apaan sih yuu.. nggak kokk... kalian tetap ada buatku...
"iya iya ta kita kan cuma becanda" saut Ima
Mereka pun larut dalam canda yang saling ledek satu sama lain. Masih sama seperti hari biasa.. saat jam istirahat oun mereka saling canda dengan tak berhenti mengunyah makanan ringan. Ayu adalah orang yang pandai dalam mengorek cerita apalagi ditambah dengan si Ima yang selalu kepo. Dalam tawa tiba tiba mereka membahas tentang Arin.. Namun ita hanya mengalihkan perhatian dan tak menjawab sama sekali.
Ita yang tiba tiba terdiam membuat Ima, Ayu dan juga Daniel menatap tajam kearah Ita. tanpa ita menyadari tingkah mereka.
"kalian kenapa?? ada cemot ya dimulutku?" tanya ita sambil kebingungan dengan mengusap mulutnya
"kamu yang kenapa?" saut Ima
"aa..aku? aku kenapa? aku nggak papa kalian nih yang aneh.. ngapain juga mlotot ke aku."
ita hanya terdiam mendengar pertanyaan Daniel. tanpa ia sadari ia kembali terdiam. Daniel semakin curiga namun masih bersabar untuk tetap diam menunggu waktu yang tepat untuknya berbicara hanya berdua.
Tak ada yang berani bertanya pada ita secara menyelidik karna jika ita terus terdiam dan masih tak mengatakan sesuatu berarti ita masih belum bisa memberitahu pada mereka apa yang terjadi. Sudah hal biasa bagi Ima, Ayu dan Daniel.. karna memang ita tak akan bercerita selama hatinya sendiri belum berdamai.
Hati ini memang berat tuk bercerita tapi tenanglah suatu hari nanti kalian pasti tau apa yang sedang ku tutupi. aku hanya tak ingin ada amarah yang semakin membara saja diantara kita semua, dan aku tak mau jika kalian tahu kalian akan menyalahkan Arin. Biar bagaimanapun dia tetap sahabatku..
Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi dan kita terpisah saat di depan gerbang sekolah karna Ayu dan Ima sudah dijemput dan aku bersama Daniel berjalan menuju parkiran. tak sengaja saat kita berjanda tiba tiba mas Arta kakak kelas kita menyapaku dan ingin bicara denganku hanya berdua. Aku bingung dan tak tau harus menjawab apa karna memang aku sedang bersama Daniel. Tiba tiba mas Arta langsung menarik tanganku dan membawaku seakan tak menghiraukan Daniel.
Aku tahu Daniel pasti tak terima namun Daniel masih bersikap wajar. Daniel mengikutiku dan mas Arta dan dia menungguku dan memantauku tak jauh dari tempatku dan mas Arta. aku sendiri bingung ada apa dengan mas Arta yang seakan tiba tiba seperti ini.. Padahal dia tau bahwa aku dan Daniel ada hubungan.
__ADS_1
"Ta jujur aku masih berharap denganmu...
mak deg rasanya hatiku... betapa tekejutnya saat aku mendengar kata itu.. belum selesai mas Arta ngomong aku udah tak karuan, bagaimana jika Daniel mendengarnya.. aduh mas Arta kenapa begini...
"Ta jujur aku masih berharap denganmu.. aku masih punya sedikit harapankan? ya aku tahu kamu pacaran sama si Daniel tapi aku tetap masih menyimpan rasa ini. Aku memang sudah berusaha tidak menghubungimu dan itu berhasil tapi tidak setelah kemarin aku dengar masalah mu dari Tria.. aku tak mau kamu menangis..
"maksud mas Arta apa mas? Tria? memang dia cerita apa? aku tak ada masalah sama sekali kok...
"aku tahu semua Ta... semua... memang aku tak pernah menghubungimu tapi bukan berarti aku berhenti dan membiarkanmu.. aku sudah tau semua masalahmu... bahkan apa chat yang kamu takutkan aku pun tahu...
"maksud mas Arta apa? aku benar benar tak paham.. chat apa mas?
mas Arta menatapku dan memegang kedua pipiku dengan tangannya seolah ingin aku menatap matanya. Aku tak tahu kenapa mas Arta seperti ini. dia seolah memang tahu semua.. tapi apa? Bagaimana pula Tria tau... Tria sudah lama menghilang.. lalu apa yg sebenarnya membuat mas Arta seolah tak mau aku mengangis..
Tiba tiba Daniel datang dan memukul mas Arta. entah mungkin dia cemburu karna memang tangan mas arta masih memegang kedua pipiku dan membiat wajah kami saling menatap.
bukk... suara hantaman Daniel yg mendarat diwajah mas Arta yang sontak membuatku kaget. aku berusaha meredam Daniel. Dan kala itu Daniel masih memukul mas Arta untuk yang kedua kalinya. hingga ada sedikit darah keluar dipinggir mulut mas Arta. Aku melihat mas Arta hanya tenang tak membalas sedikitpun pukulan dari Daniel.
aku tahu itu pasti sakit. sangat mungkin jika aku yang menerima pukulan itu.
Aku mengajak Daniel pergi dan meninggalkan mas Arta aku tak mau jika melihat ada hantaman lagi dari Daniel.
Mas Arta hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengiyakan aku pergi. Aku pun berlalu dengan Daniel. jujur aku ingin marah pada Daniel tapi aku tak bisa menyalahkan begitu saja. Karna memang mungkin sakit bagi Daniel. Akhirnya kita pulang dan tanpa ada pembicaraan diantara kita.
__ADS_1
Aku .merasakan ada rasa khawatir dari mas Arta terhadap diriku, namun semua malah berakhir dengan pukulan dari Daniel. Entah aku harus pada posisi yang mana.....