
Setelah aku pergi dengan mas Arta aku sangan berat dengan apa yang kan ku ambil nantinya. Keputusan yang seperti apa lagi dan bagaimana lagi. Berat untukku memilih, sulit untukku melepas, tapi semua keputusan yang kan ku ambil semua beresiko.
Usai pertandingan Daniel tak langsung pulang namun dia kerumah Ita. Tak ia dapati kekasihnya dirumah, tak ada yang tau keberadaan Ita, ponsel Ita tertinggal dirumah, Daniel menghubungi Ima namun Ima juga tak tahu keberadaan Ita. Dan Daniel menghubungi Ayu untuk menanyakan apakah Ayu tahu keberadaan Ita. Sebenarnya Ayu tahu namun ayu menutupi semuanya, dan Ayu hanya menjawab dengan sebuah perkiraan saja.
"hai Dan.. ada apa tumben telfon aku"
"iya nih Yu, lu tau nggak Ita kemana? gue dirumahnya tapi dia nggak tau kemana, orang ruma juga nggak tau dan ponselnya malah nggak dibawa nih.. mungkin aja lu tau..
"eleh lu Dan pacar lagi ngilang bentar aja uda panik haha.. mungkin dia lagi ke mini market tau sendirikan pacarmu itu..
maaf ya Dan sebenernya gue tau kalau Ita lagi keluar sama mas Arta tapi aku nggak bisa kasi tau kamu. Aku tahu Ita punya alasan yang kuat kenapa dia tak memberitahumu. gumam Ayu
"oh iya mungkin ya... yaudah Yu gue tunggu Meitha aja deh ... makasih ya."
Tak ada yang serba kebetulan namun mungkin memang sudah seperti diseting begini. Dani masih menunggu dan Ita masih bersama Arta. Saat Ita pulang bersama Arta disitu ada Daniel. Panik dan penuh emosi saat itu..
Daniel hanya terdiam melihat Ita. Wajahnya memang sudah merah dan terlihat kesal. Ita sendiri merasa cemas takut akan ada baku hantam. Dan Arta melihat Daniel dengan wajah kesalnya, Arta memilih pergi dan diam tak ingin ikut campur.
Setelah Arta pergi dari rumah Ita, Ita berjalan mendekati Daniel. Mereka saling terdiam tanpa kata. Ita takut... dan Daniel pun masih meluap dengan kesalnya sendiri dan masih terdiam..
__ADS_1
"kenapa kamu tak bilang kalau kamu keluar sama Arta Meit?" tanya Daniel dengan raut muka yang memang menyimpan amarah namun mencoba tuk mengendalikannya.
"maaf Niel... aku cuma takut kamu makin marah dengan mas Arta dan akan terjadi lagi baku hantam."
"jadi kamu memilih diam diam dari pada aku memukulnya?"
"bukan begitu Niel.. bukan...
"lalu apa apa Meit!.. potong Daniel dengan nada sedikit tinggi
"aku memang salah iya aku yang salah Niel.. tapi semua yang kulakukan itu masih menyangkut dirimu dan hubungan kita. aku bertemu mas Arta bukan karna tak ada alasan. Dan mas Arta waktu itu menarikku paksa itu juga karna dia punya alasan kuat dan dia juga tau apa resikonya, dan saat kamu tonjok dia pun tak membalasnya karna yang terpenting buat dia adalah aku, dia tak ingin aku kenapa kenapa!"
"stop Niel stop .. bukan ini mauku dan bukan ini maksudku! kamu tak ngerti dan kamu belum ngerti!"
"aku? kamu bilang aku? aku tak ngerti kamu bagaimana lagi Meit? aku berusaha yang terbaik buatmu, tapi nyatanya hari ini kamu bertemu dengan Adnan dibelakangku"
Daniel oh Daniel kamu tak tahu semua ini tentang kita, aku belum bisa memberitahumu apapun itu. Yang kurasa ini sudah tepat. Mungkin ini juga waktu yang tepat agar aku merenggang dengan Daniel. Dan aku bisa lihat rencana Arin yang dikatakan oleh mas Arta benar atau tidak.
"maaf Niel... aku capek.. aku tak ingin debat denganmu."
__ADS_1
"Meit aku belum selesai bicara denganmu, aku juga belum mendapatkan jawaban dari apa yang telah kupertanyakan padamu."
"jawaban apa lagi yang kamu mau. bukankah semua sudah jelas? kamu melihatku keluar dengan mas Arta? dan jika aku mengelak apakah kamu akan percaya dengan ucapanku, bukan kah tidak? apa iya kamu akan percaya? yang ada kamu tak kan mempercayainya bukan.. dan akan ada pertanyaan pertanyaan lagi untuk ku yang ingin kau pertimbangkan jawabannya bukan?"
"apa maksudmu Meit bukan aku tak percaya denganmu, tapi kenapa kamu harus bohong dan tak memintaiku pendapat untuk bertemu dengan Arta?"
"untuk apa lagi Niel?? bukankah kemarin kamu sendiri yang mendaratkan pukulan pada mas Arta? dan itu sudah cukup jelas untukku Niel.. dan dengan pukulan itu aku sudah jelas tau jawabanmu jika aku meminta ijin padamu."
"apa aku salah jika aku memukulnya karna aku cemburu? apa aku salah cemburu dengan kekasihku sendiri?"
"sudahlah Niel.. aku tak mau debat hari ini. Aku nggak mau semakin panjang. aku capek."
"maaf Meit.. aku terlalu egois untukmu, tapi jujur aku memang cemburu dan marah melihatmu dengan Arta."
maaf Niel aku tak mau ada perdebatan lagi.. maaf jika aku langsung masuk rumah tanpa menghiraukanmu. Maafkan aku meninggalkanmu berlalu begitu saja. Bukan maksudku untuk membuatmu kecewa, tapi aku rasa memang ini bukan waktu yang tepat untuk kita membicarakan semuanya.
Andai aku bisa mengatur waktu hari ini ingin sekali aku mengaturnya sedemikian rupa agar kejadian seperti ini tak terjadi. Bukan aku tak sayangimu Niel bukan, bukan pula aku ingin mengahncurkan semua rasa sayangmu bukan... Aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini sendiri dulu.. karna memang pada awalnya ini adalah masalahku dengan Arin dan merembet pada hubungan kita. Andai saja kamu tahu yang terjadi Niel kamu tak kan tega jika aku berjuang sendirian. Ahh... kenapa semua ini bisa ada dalam hubungan kita.
Kulihat dari jendela masih ada Daniel yang berdiri memaku di teras rumahku, aku tak tega sebenarnya jika melihatnya begitu. Tapi aku tak mau bertengkar dan aku tak ingin berlarut, aku tak ingin jika kamu menyalahkan mas Arta terus menerus. Mas Arta hanya membantu kita, walau dia memang masih ada rasa tapi dia tak mau menaruh harapan lebih padaku Niel. Mas Arta tak mau aku kenapa napa hanya itu saja Niel.. Dan ku harap nanti jika waktunya sudah tepat kamu akan mengerti semuanya kamu tak kan salah paham, kamu akan tetap selalu jadi matahariku. Aku tak kan peenah mundur Niel... Kita akan tetap baik baik saja, namun untuk saat ini ku harap kamu mengerti.... kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat saja...
__ADS_1