
Seorang lelaki berjas hitam baru saja turun dari sebuah mobil Lamborghini berwarna abu. Mobil tersebut terparkir tak jauh dari area New York university, kampus tempat Arabella berada.
Lelaki jas hitam itu, yang tak lain adalah Andrew, segera berjalan menuju area pintu masuk gerbang kampus tanpa diiringi oleh bodyguard nya. Ia kali ini berjalan keluar dari mobil seorang diri, juga tanpa menutupi wajahnya atau melakukan penyamaran. Biasanya lelaki itu akan melakukan penyamaran setiap keluar dari mobil. Karena jika itu tak dilakukan nya, maka para wanita mulai para gadis hingga nenek nenek akan berlarian mengejarnya.
Entah apa yang membuatnya kali ini begitu berani keluar tanpa bodyguard. Mungkin karena area depan kampus itu sedang sepi.
Ketika sampai didekat gerbang utama, ia melirik ke arah posko kecil yang ada didekat pintu gerbang. Posko kecil itu tentunya ialah tempat si penjaga gerbang. Ketika melihat si penjaga gerbang, Andrew langsung memasang tatapan tajam.
Pria parubaya yang menjadi penjaga gerbang itu pun jadi kebingungan. Andrew berjalan mendekat, kemudian mengeluarkan secarik kertas dari saku jas hitamnya. Bukan secarik kertas, lebih tepatnya sebuah surat kecil.
"Berikan ini kepada gadis yang bernama Arabella Cathan. Kau faham?", tanya Andrew tajam sambil menyodorkan surat itu.
Pria parubaya itu mengambilnya dengan tangan agak gemetar. Tentu saja ia gemetar melihat seorang pewaris CEO yang tiba tiba memberinya tatapan tajam tanpa penjelasan.
"Baik lah, tuan"
"Bagus. Oh, omong omong, apa kau ingat dengan orang yang menitipkan sebuah bunga mawar padamu semalam?", tanya Andrew agak mengubah topik.
"Ng.. i-iya, tuan. Saya ingat"
"Hm.. aku dengar, kau memberi tahu ciri ciri di pengirim surat itu kepada Arabella. Benar?"
Si pria parubaya tampak meneguk saliva, "Benar, tuan "
"Itu adalah aku. Aku adalah orang yang menitipkan bunga mawar itu padamu, hanya saja aku memakai kumis dan janggut palsu untuk menyamar", ujar Andrew menekan suaranya. Andrew sengaja menekan kalimat awalnya, agar lelaki yang ada didepannya itu mengetahui kesalahan yang ia perbuat.
"M-maafkan saya, tuan. Saya terpaksa memberi tahunya karena gadis itu yang menanyakannya, tuan", jawab lelaki parubaya itu dengan menunduk malu.
Tapi amarah Andrew nampaknya tidak menurun, "Bukankah sudah kukatakan padamu untuk tidak memberitahukannya?!"
"M-maafkan saya, tuan. Sekali lagi, saya minta maaf.."
Andrew menghela nafas kesal. Ia mengeluarkan sebuah kantung kertas kecil dari saku celananya. Lalu ia menyodorkan kantung kertas itu kepada pria yang ada didepannya.
__ADS_1
"Ini 1000 dollar, untuk menutup mulutmu supaya tidak sembarangan bicara. Apa masih kurang?", Andrew menatap pria itu dengan tajam.
Sementara pria yang disodorkan uang ternganga sedikit, ia merasa jumlah itu banyak sekali, bahkan bisa ia gunakan untuk makan selama 5 bulan.
"T-tidak perlu, tuan. Itu tidak perlu"
"Ambil!"
Pria parubaya tadi buru buru mengambil kantung yang itu. Andrew tersenyum tipis, lalu ia melanjutkan bicaranya, "Kalau kau memberi tahu tentang ini pada orang lain, aku tak akan segan memenjarakanmu"
Si pria parubaya meneguk saliva lagi, "Baiklah tuan.."
Andrew mengangguk kecil tanda mengiyakan, "Bagus"
*
Ketika pulang kampus tiba, Arabella segera keluar dari kelasnya. Setelah berpisah dengan Rachel di halaman kampus, Arabella segera berjalan menuju pintu gerbang.
Gadis itu menoleh. Lelaki penjaga gerbang baru saja memanggil nya. Arabella segera menghampiri lelaki itu dengan raut wajah bingung, apalagi ketika melihat ada secarik surat di tangan kanan lelaki itu, yang Arabella duga nantinya akan diberikan padanya.
"Ada apa tuan?"
"Ini... ada seseorang yang menitipkan surat padamu tadi", jawab pria parubaya itu sambil menyodorkan secarik surat yang ada di tangan kanannya.
Arabella mengambil surat itu dengan raut yang masih terlihat kebingungan. Ia segera membuka surat itu dan membacanya.
Aku mengajakmu ke cafe Serrein untuk makan siang hari ini. Setelah pulang kampus,
kau bisa langsung ke cafe itu
"Eh? Hanya ini?", tanya Arabella keheranan.
Dahinya mengernyit. Ia lalu membolak-balik kertas kecil itu, tapi ia tak menemukan tulisan kain ataupun nama si pengirim.
__ADS_1
"Tuan, siapa yang menitipkan surat ini?", akhirnya Arabella bertanya pada si lelaki penjaga gerbang.
Tapi si lelaki penjaga gerbang memasang raut wajah segan, "Ng.. sebaiknya anda tidak perlu tau nona"
Arabella memasang wajah masam.
Kenapa tidak boleh tau ya? Apa jangan jangan ada seseorang yang ingin menculikku diam diam? Ih.. seram.., Arabella bergumam dalam hati.
"Baiklah, tuan. Terimakasih. Tapi.. boleh aku bertanya tentang ciri cirinya?"
Lelaki parubaya itu menggeleng, "Tidak nona, maaf"
Arabella memasang wajah cemberut, "Ya sudah, kalau begitu kita tidak berkawan deh..", ucapnya lalu segera berjalan pergi dari sana dengan wajah yang masih cemberut.
"Kenapa tidak diberi tahu, sih? Memangnya apa masalahnya jika diberi tahu? Huh!", gerutu Arabella di tengah jalan.
Drrtt.. drrtt..
Tak berapa lama kemudian hp nya berdering. Arabella segera mengeluarkan hp nya dan melihat tulisan 'Kak Nael' di layar.
"Halo, kak Nael ?", Arabella memulai percakapan.
"Kau jadi untuk melanjutkan tes masuk detektifmu?",
Arabella berfikir sejenak, "Ng.. kapan kak?"
"Sekarang"
Arabella mengerjapkan matanya. Ia barusan menerima surat bahwa ada yang mengajaknya untuk makan siang di sebuah cafe. Sekarang sudah pukul satu siang, artinya waktu untuk makan siang di cafe itu dengan tes detektif tentunya bertabrakan.
Arabella agak bingung harus memilih antara dua pilihan itu. Tapi ia merasa bahwa tidak mungkin ia akan pergi ke sebuah cafe atas ajakan orang yang bahkan tidak ia ketahui wujudnya. Jadi ia memilih untuk melakukan tes detektif ke kantor polisi.
"Ng.. baik kak, aku akan segera kesana"
__ADS_1