
Disisi lain..
Pukul 12.33, tepat dua puluh lima menit sebelum Vano tewas akibat tabrak lari, Nael baru saja mendapatkan bantuan untuk mobilnya yang kehabisan bensin. Dia meminta bantuan dari temannya yang kebetulan sedang berada di daerah situ, meminta untuk membawa bensin dengan botol.
Setah mobilnya kembali menyala, Nael terlebih dahulu mengeluarkan hp nya dari sakunya untuk menelepon tuan Hans.
"Tuan, kau masih ada di wisata hutan Pinus itu?"
"Iya. Dan kau? Bagaimana? Kau sudah dapat bantuan?", tanya tuan Hans di seberang sana.
"Sudah, tuan", jawab Nael, " Apa di rekaman cctv itu terlihat jejak terakhir si pelaku saat keluar dari area wisata?"
"Iya. Kami melihat di rekaman CCTV di kedai permen yang ada di ujung jalan besar. Lelaki itu awalnya berjalan ke arah kiri, kemudian dia berbalik lagi dan berjalan ke arah kanan"
Nael menaikkan sebelah alisnya.
"Dia tidak menggunakan mobil?"
"Tidak. Bahkan anehnya, dia berjalan dengan membawa kapak bercak darah di tangannya. Dia seakan akan tidak takut terancam tuduhan apapun", ujar tuan Hans.
Aneh, gumam Nael dalam hati.
Bagaimana mungkin dia tidak berniat untuk bersembunyi sedikitpun setelah baru saja membunuh orang? Itu aneh, kecuali yang melakukan nya itu adalah orang gila. Tapi, rasanya tidak mungkin yang membunuh Tuan Reonald adalah orang gila. Membunuh dengan rapi tanpa jejak bahkan sempat meninggalkanku clue, tentu bukan orang gila yang melakukannya.
"Tolong kirimkan kepada saya rekamannya tuan", ujar Nael.
Beberapa saat kemudian, Nael membuka chat dari tuan Hans. Dia mengirimkan sebuah video yang berdurasi satu jam.
Itu rekaman didepan kedai permen, mulai dari pukul 12 malam hingga pukul 1 pagi. Pada pukul 00.14, terlihat Jeep hijau tua yang Nael dan Vano duga adalah mobil si pembunuh, melintas didepan kedai permen tersebut dan berjalan ke arah kiri.
Nael melihat video dengan teliti, tepat pada pukul 00.16, terlihat seorang lelaki yang mondar-mandir di depan kedai permen tersebut. Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam, dan juga kain penutup wajah berwarna hitam menutupi seluruh wajahnya kecuali mata dan hidungnya. Lelaki itu awalnya berjalan ke arah kiri dan beberapa detik kemudian ia balik lagi dan berjalan ke arah kanan.
Hanya itu saja.
Setelah melihat video singkat itu, Nael kembali menyambung kan teleponnya dengan tuan Hans.
"Halo Nael? Bagaimana menurutmu?"
"Apa mungkin salah satu dari mereka hanyalah sebagai pengalihan saja? Atau mungkin kedua-duanya adalah pembunuhnya? Aku merasa bahwa salah satu dari mereka hanyalah pengalihan saja", ujar Nael.
"Benar. Aku juga merasa begitu. Si pembunuh membuat pengalihan supaya kita akan sibuk mencari keduanya dan itu akan menghabiskan waktu kita cukup banyak "
"Menurut anda, yang manakah si pengalihan itu? Jeep hijau atau lelaki pemegang kapak?", tanya Nael.
"Hm.. tebakan yang menarik. Aku mau kita menjawab secara bersamaan", ujar Tuan Hans. Nael mengangguk.
__ADS_1
"Oke", ujar Nael.
"Satu.. dua .. tiga"
"Lelaki pemegang kapak", ujar Nael dan tuan Han secara bersamaan.
"Ternyata yang kita fikirkan sama", ujar Nael.
"Baiklah, Nael. Lebih baik sekarang kau coba telepon Vano saja. Kalau bisa, susul dia. Kami yang akan menuntaskan ini", ujar tuan Hans.
"Baik", Nael lalu mematikan telepon.
Setelah itu nael membuka kontak Vano dan mencoba menelpon lelaki itu.
Telepon berdering.
Tapi setelah menunggu beberapa saat, telepon tak kunjung diangkat.
Nael lalu mencoba menelepon lagi, tidak diangkat juga.
Coba sekali lagi, tidak diangkat juga.
"Lalu bagaimana aku bisa menyusul nya kalau dia tak mengangkat telepon ku?", tanya Nael seorang diri.
"Tuan, Vano bahkan tidak mengangkat telepon ku. Bagaimana aku harus menyusulnya?"
"Hm.. mungkin dia sedang sibuk. Kalau begitu sekarang kau kesini saja, kita selesaikan yang satu ini", ujar tuan Hans
"Oke," Nael lalu mematikan telepon.
Setelah mematikan telepon, Nael segera melajukan mobilnya dengan kecepatan 140km/jam untuk menuju wisata hutan Pinus itu.
*
Dalam waktu 25 menit lebih, Nael akhirnya sampai didepan kedai permen yang disebut tuan Hans tadi. Dia melihat mobil tuan Hans terparkir di samping kedai permen tersebut.
Ketika Nael memasuki kedai, ia langsung menemui tuan Hans yang baru saja keluar dari pintu masuk.
"Oh, akhirnya kau sampai", ujar tuan Hans pada Nael.
Wajah Nael terlihat agak murung.
"Aku merasa apa yang kulakukan hari ini.. sangat sia sia. Aku tak menemukan apapun", ujar Nael, lelaki itu menghela nafas panjang.
"Tenang, Nael. Tidak mudah untuk menyelesaikan kasus yang satu ini. Si pelaku sangat ahli, kita pasti butuh yang tidak cepat untuk berhasil menangkapnya", ujar tuan Hans sambil menepuk pelan bahunya.
__ADS_1
"Aku rasa kita juga harus mencari jejak lelaki pemegang kapak itu, walaupun dia kelihatan sebagai pengalihan, tapi.."
Selamat datang di kabar utama, saat ini kami sedang berada di area hutan Queenstown. Disini kami ingin mengabarkan kembali tentang kasus kematian seorang detektif di kantor polisi utama New York, yang diduga akibat tabrak lari..
Nael dan tuan Hans langsung saling pandang. Tatapan keduanya sama sama terlihat seperti membeku.
"Vano?", tanya Nael dengan suara pelan.
"Sebaiknya coba kau telepon lagi lelaki itu!", ujar tuan Hans dengan agak memburu.
Nael cepat cepat mengeluarkan hp nya, mencoba memastikan apakah yang dimaksud oleh si penyiar berita itu adalah Vano atau bukan.
Drrtt... Drrtt...
Satu detik, dua detik, sepuluh detik..
Tidak dijawab.
"Saya rasa..", Nael menjeda kalimatnya.
Tuan Hans mengangguk, dia memandang Nael dengan tatapan yang seperti sudah faham apa yang ingin dikatakan Nael.
"Saya rasa itu memang Vano", ujar Nael pelan.
"Benar. Karena tak ada detektif lain yang kami tugaskan untuk bertugas hari ini selain kalian berdua", ujar tuan Hans. Nael mengangguk faham.
Tuan Hans menurunkan topinya, lalu menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat kepada Vano yang baru saja dikabarkan tewas.
Nael sendiri mengecek ngecek WhatsApp nya. Ia melihat ada dua notifikasi dari Arabella. Ia melihat gadis itu memberi pesan pada pukul 10.12, semalam. Ia bahkan tak sempat membaca pesan itu sejak semalam karena ia sangat sibuk.
Arabella
Nael, maaf mengganggu
Arabella
Hari ini teman temanku akan pergi ke kantor polisi untuk wawancara. Kami akan wawancarai tuan Vano, dia abangnya temanku. Itu saja
Nael menaikkan sebelah alisnya melihat pesan tersebut.
Vano baru saja tewas, hari ini.
Rasa bersalah mulai menjalari otaknya. Harusnya.. ia tidak meninggalkan Vano sendirian bertugas..
"Aku minta maaf. Ini semua salahku.."
__ADS_1