
Setelah sepuluh menit didalam sana, Arabella dan yang lainnya keluar untuk pulang. Arabella melihat Vino menangis selama sepuluh menit tadi. Walaupun tangisannya bukan tangisan pecah, melainkan cenderung seperti menahan tangis, tapi Arabella malah ikut menangis melihatnya.
Vino sempat bercerita sedikit tentang kenangan terakhir dia dengan kakak lelakinya itu. Ia berkata, kemarin setelah pulang dari bertugas, kakak lelakinya itu membawa makanan kesukaannya. Itulah kenangan terkahir dia dengan Vano. Hanya karena cerita itu, Arabella sampai meneteskan air mata mendengarnya.
"Kau masih menangis Arabella?", tanya Rachel saat Arabella sudah keluar dari depan pintu.
Arabella cepat cepat menghapus air matanya.
"Ng.. t-tidak", jawab Arabella setelah menghapus air matanya sampai bersih.
"Hm.. kalian pulang naik apa? Aku duluan ya, aku mau naik taxi. Kalau kalian mau naik taxi juga, ayo kita pulang bersama", ujar Angel yang berdiri didepan Feny, Arabella, Tara, dan Rachel.
"Aku naik taxi", ujar Feny.
"Aku juga", ujar Rachel
"Sepertinya aku juga", sambung Tara.
Arabella berfikir sejenak. Tentu saja tak ada pilihan lain selain taxi, lagipula dia juga tak membawa kendaraan apapun. Tapi ia masih ingin bertanya Nael apa yang terjadi pada Vano. Mumpung Nael masih ada disini kan?
"Hm.. aku nanti saja, kalian pulang duluan saja", ujar Arabella.
"Hm.. oke", ujar Angel. Lalu mereka berempat pun segera berjalan keluar dari area rumah ini. Arabella hanya melihat kepergian mereka dengan berdiri di area teras.
__ADS_1
Setelah keempatnya telah menghilang dari pandangan Arabella, Arabella yang baru saja hendak berbalik badan dikagetkan dengan seorang lelaki berjanggut tebal yang tiba tiba muncul dibelakang nya.
"Kenapa kau terlihat sangat sedih?", tanya Nael, si lelaki dengan janggut tebal ini.
"Ng.. Aku.. tiba tiba ikut sedih mendengar cerita Vino tentang kenangan terakhirnya dengan kakak lelakinya", jawab Arabella sambil menahan air matanya yang baru saja hendak keluar lagi.
"Kau menangis lagi", ujar Nael. Arabella membiarkan air matanya menetes, lalu cepat cepat menghapusnya.
Baru saja Arabella hendak membuka mulut untuk bertanya tentang kematian Vano, pandangan nya teralihkan oleh sebuah mobil Lamborghini Aventador putih yang memasuki halaman depan rumah.
Arabella mengernyit kan dahi heran. Mobil itu seperti ia kenal.
Ketika mobil mewah itu berhenti dan pintunya dibuka, Arabella agak terkejut ternyata dugaannya benar. Di dalam mobil itu adalah Andrew.
Setelah membuka pintu mobil, pandangan Andrew langsung tertuju pada Arabella, dan... Nael.
Pandangan Lelaki itu tampak sangat tajam.
Di tambah dengan jas abu abunya, rambutnya yang klimis, sepatu hitamnya yang berkilau, dan cara berjalannya yang dingin, membuat dirinya terlihat seperti CEO kejam.
Arabella cukup panik karena saat ini ia berdiri cukup dekat dengan Nael. Arabella takut kalau lelaki itu langsung berfikir yang tidak tidak.
Arabella langsung menjauhkan dirinya dari Nael. Tapi beberapa saat kemudian Arabella baru mengingat bahwa Nael saat ini tengah menyamar. Dengan janggut tebal dan kumis tebal itu, Andrew tentu tak mengenal bahwa lelaki itu adalah Nael.
__ADS_1
Ketika Andrew sudah berdiri di hadapannya, tepat beberapa senti didepannya, Arabella hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menatap lelaki itu.
"Pulang"
Satu kata dari mulut Andrew berhasil membuat jantungnya berdetak cepat, entah kenapa.
Kenapa laki laki ini tiba tiba sedingin ini?, tanya Arabella dalam hati.
Ketika hendak berjalan menuju mobil lelaki itu, Arabella sempat melihat Andrew yang memberi tatapan serius pada lelaki berjanggut tebal itu, Nael.
Apakah tuan Andrew dapat mengenali Nael dengan janggut dan kumis yang sebesar itu?, tanya Arabella dalam hati.
"Saya minta izin untuk membawa dia pulang", ujar Andrew sambil menundukkan kepala sedikit kepada Nael.
"Oh, sepertinya dugaanku salah. Andrew cuma ingin minta izin untuk pulang", gumam Arabella pelan, lalu ia segera masuk ke dalam mobil Lamborghini Aventador putih itu.
"... Nael", lanjut Andrew. Nael menaikkan sebelah alisnya.
Mengabaikan keterkejutan Nael, Andrew hanya berbalik badan lalu berjalan masuk ke mobilnya.
Setelah mobil milik Andrew pergi dan menghilang dari pandangannya, Nael segera melepas janggut tebal yang dipakainya tadi karena tak tahan dengan rasa gatal yang menjalari dagunya.
"Lelaki itu masih dapat mengenaliku?", tanya Nael seorang diri.
__ADS_1