
Arabella berniat untuk kembali ke tempat sampah tadi, tapi para mahasiswa sudah mulai ramai di daerah situ.
"Para mahasiswa yang telah hadir, jangan berkerumun di depan kelas itu, anda bisa pergi ke kelas masing masing", ujar seorang dosen lelaki dengan suara besar kepada para mahasiswa yang mengerumuni pintu depan kelas ekonomi 1.
"Ayo ayo, kita pergi saja", ujar seorang mahasiswa lelaki yang membubarkan beberapa mahasiswa di situ.
"Mayat yang sangat mengerikan!"
"Kalian semua kembali lah ke kelas masing masing!"
"Jangan berkerumun lagi.. ayo kita naik ke atas saja"
Arabella yang sedang berdiri di atas anak tangga, terikut terdorong oleh para mahasiswa yang beranjak naik ke atas tangga.
Dan di tangga, kebetulan Arabella melihat Nael berjalan dari arah berlawanan. Ketika mata mereka bertemu, Nael menggelengkan kepala kepada gadis itu. Arabella mengernyit heran apa maksud dari gelengan kepala itu.
*
"Apa kau sempat melihat mayat tadi?", tanya Rachel saat dia baru tiba di dalam kelas.
"Belum. Aku terhalang", jawab Arabella. Rachel mengangguk angguk.
"Eh, tapi kenapa kau datang cepat sekali Arabella? Biasanya kau datang lebih lama dari aku", ujar Rachel.
"Eh? Iya ya, hehe"
__ADS_1
Krieekk..
Pintu kelas terbuka, tampak seorang dosen lelaki masuk kelas.
"Semuanya, hari kita mendapat kabar duka. Seorang mahasiswa bernama Edo, kelas matematika 1, ditemukan tewas di dalam kelas Ekonomi 1. Para dosen yang lain sedang mencoba menelepon polisi. Semoga pelaku atas pembunuh nya segera ditemukan", ujar dosen itu, para mahasiswa sekelas mengangguk angguk kan kepala.
Semoga saja..
"Oh ya, mungkin sebagian dari kalian sudah ada yang diberi tau tentang ujian akhir semester yang akan dilakukan besok", lanjut dosen mengubah topik.
Ada beberapa mahasiswa yang saling pandang karena tak mengetahuinya, ada juga yang mengangguk angguk faham.
"Besok pagi pukul setengah delapan, sudah dilaksanakan ujian. Untuk proses ujiannya, dibedakan sesuai jadwal, kelas tempat ujian juga dibedakan. Kalian bisa melihat info seterusnya di Mading", lanjut dosen.
"Baik sir"
*
"Sepertinya dia juga tak menjemput ku kali ini", ujar Arabella seorang diri. Lalu pandangannya teralihkan oleh sebuah mobil merah yang tak jauh dari pagar area masuk parkir.
Terlihat Nael sedang membuka pintu mobil. Arabella segera menghampiri lelaki itu.
"Nael, aku menemukan sebuah surat dari tong sampah", ujar Arabella pada lelaki itu.
"Aku tau", ujarnya datar sambil mengambil surat kecil dari tangan Arabella.
__ADS_1
"Oh, omong omong, apa maksud gelengan kepala tadi?", tanya Arabella. Nael menoleh.
"Supaya kau tidak memberikan ku surat ini saat di tangga tadi"
"Oh, aku baru faham", ujar Arabella.
"Kau baru faham?", tanya Nael,"Kau ingat ketika aku mengedipkan mata saat di pemakaman Vano waktu itu? Apa kau tau apa artinya?", lanjut Nael.
"Ng.. apa ya? Tidak"
Nael menepuk dahi.
"Tentu saja supaya kau berpura pura tidak mengenalku. Kau kan tau aku sedang menyamar"
"Oh.. baiklah", Arabella menundukkan kepalanya.
Setelah beberapa saat saling diam, Nael kembali membuka suara.
"Surat ini tak ada artinya. Kita tak bisa menemukan petunjuk apapun. Tapi yang pasti, tulisan tegak bersambung ini terlihat sama persis dengan surat surat dari pembunuh yang akhir akhir ini mengirimi kita surat", ujar Nael. Arabella mengangguk setuju.
"Satu satunya cara untuk mencari petunjuknya..", Arabella menjeda kalimatnya, "Ialah melihat hubungan Edo dengan keempat korban pembunuhan sebelumnya"
Nael mengangguk.
"Iya. Aku akan segera membahasnya dengan tuan Steve. Pihak kampus juga sudah menelepon nya, mungkin hari ini atau besok, tuan Steve akan kesini untuk melanjutkan penyelidikan", ujar Nael.
__ADS_1
"Hm.. apa ada tugas untukku, mungkin?", tanya Arabella.
"Sepertinya belum ada, karena kita belum menemukan clue apapun. Jika telah ditemukan petunjuk lain, aku akan memberi tahunya padamu"