
Arabella baru saja selesai dari kamarnya dan bersiap siap untuk keluar rumah. Pergi ke kampus lebih tepatnya. Saat ia sudah keluar dari pintu depan, ia langsung melihat sebuah mobil Lamborghini putih yang terparkir di halaman depan.
Andrew membuka kaca mobil, wajahnya terlihat sangat datar, membuat Arabella agak heran.
Masih pagi begini, kenapa wajah lelaki itu datar sekali?, gumam Arabella dalam hati.
Ia jadi segan masuk ke dalam mobil itu karena wajah pemilik mobil terlihat sangat datar.
Setelah Arabella masuk ke dalam mobil, lelaki itu menyalakan mobilnya lalu melaju dengan kecepatan standar.
Arabella sesekali melirik ke arah lelaki yang masih fokus menyetir itu.
Wajahnya kelihatan marah, apa dia sedang marah padaku? Atau marah dengan orang lain mungkin?, tanya Arabella dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Andrew balas meliriknya, membuat Arabella terkejut dan langsung gelagapan.
"Apa saja yang kau bahas tentang lelaki detektif itu semalam?", tanya Andrew tiba tiba.
Pandangan lelaki itu masih fokus menyetir.
Arabella yang mendengar pertanyaan itu mengernyitkan dahi heran.
Tuan Andrew tau penyamaran Nael? Apa aku tidak salah dengar?, tanya Arabella dalam hati.
"M-maaf?", tanya Arabella, mencoba menyuruh Andrew untuk mengulang pertanyaan nya.
"Apa saja yang kau bahas tentang lelaki detektif itu semalam?", Andrew mengulang pertanyaan.
Astaga, ternyata mata tuan Andrew jeli sekali. Dia langsung mengenali Nael padahal lelaki itu sudah berpakaian seperti badut semalam, gumam Arabella dalam hati.
"Lelaki detektif yang mana?", tanya Arabella pura pura tidak tau.
__ADS_1
"Jangan pura pura tidak tau"
Arabella tak berkutik ketika menyadari bahwa Andrew mengetahui isi otaknya.
"Aku benar benar tidak tau apa yang anda maksud, tuan. Detektif yang mana? Lelaki berbaju polisi, atau si lelaki yang berjanggut tebal?", tanya Arabella.
"Yang berjanggut tebal, tentu saja. Kau tau lelaki itu", jawab Andrew dengan nada datar.
"Oh.. kami tidak membahas apapun, tuan. Memangnya.. k-kenapa tuan tiba tiba bertanya seperti itu?", tanya Arabella, masih pura pura tidak tau.
"Sudah kubilang jangan pura pura tidak tau. Jangan memancing emosiku, Arabella", ujar Andrew, masih dengan nada datar.
Arabella langsung meneguk saliva nya.
Kenapa lelaki ini marah kalau aku berbincang bincang dengan Nael? Apa yang sedang merasukinya?, tanya Arabella dalam hati.
"Maksud nya... Nael?", tanya Arabella pelan.
"Kami tidak membicarakan apapun, tuan. Sungguh", ujar Arabella dengan serius.
Tapi memang benar kan? Arabella dengan Nael tidak membicarakan tentang apapun semalam. Hanya saja...
"Terakhir kali aku melihat lelaki itu berdiri di dekatmu. Tidak mungkin dia tiba tiba berdiri di dekatmu tanpa mengatakan apapun. Pasti kalian membicarakan sesuatu, setidaknya satu kata. Apapun yang kalian bicarakan, katakan padaku.", ujar Andrew agak panjang.
"Ooh.. dia hanya bertanya kenapa aku terlihat sangat sedih, itu saja tuan", jawab Arabella jujur.
Andrew diam sejenak meresapi kata kata tersebut.
"Baiklah, aku percaya padamu", ujar Andrew.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti karena mereka sudah sampai di halaman parkir kampus Arabella.
__ADS_1
Arabella turun dari mobil, lalu dia berjalan menuju kaca mobil Andrew sebentar untuk memberi lambaian tangan singkat.
"Jangan terlalu dekat dengan lelaki itu lagi", ujar Andrew, Arabella sontak mengernyit heran.
Setelah Andrew pergi, Arabella masih terngiang ngiang dengan kalimat yang diucapkan Andrew tadi.
"Tuan Andrew cemburu padaku?", tanya Arabella seorang diri sambil meratapi perginya mobil Lamborghini putih itu.
"Apa hanya perasaanku saja?"
*
Ketika Arabella sampai di kelasnya, ia langsung menemukan Angel, Feny, Rachel dan Vino berkumpul di area mejanya. Pasti sedang membahas tentang tugas kelompok waktu itu, atau mungkin membahas tentang..
"Arabella, pulang sekolah nanti kita langsung ke kantor polisi utama New York untuk wawancara ya?", ujar Angel saat Arabella baru saja menaruh tas nya.
"Oke, Angel. Tapi.. wawancarai siapa?", tanya Arabella.
"Itu... wawancarai salah satu polisi disana, atau detektif lain yang ada disana. ", jawab Angel.
Arabella awalnya jantungan karena yang terfikir di otaknya adalah Nael. Tidak ada mahasiswa di sekolah ini yang boleh tau identitas Nael. Jadi Arabella langsung terfikir untuk mengabarkan Nael tentang hal ini untuk berjaga jaga.
"Oh.. oke", ujar Arabella lalu duduk di sebuah kursi kosong di sebelah Angel.
Di sebelah kirinya ada Vino yang terlihat berwajah murung. Arabella menyadari bahwa vino melamun sejak tadi. Pasti dia sedang memikirkan kematian kakak lelakinya.
"Vino, jangan sedih lagi ya? Aku lihat sejak semalam kau murung terus", ujar Angel. Vino terdiam beberapa saat.
"Lucu sekali bukan? Semalam kita baru saja pergi ke kantor polisi untuk mewawancarai dia, hari ini, kita pergi lagi ke kantor polisi itu untuk mewawancarai orang lain atas atas kematian dia", ujar Vino lesu.
"Jadi.. kalian ingin mewawancarai tentang penyebab meninggalnya Vano?", tanya Arabella. Angel dan yang lainnya mengangguk.
__ADS_1
Arabella kemudian langsung memberi tau rencana mereka untuk pergi ke kantor polisi itu pada Nael.