Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Kedatangan Ibu


__ADS_3

Arabella tak melihat chat apapun dari Andrew. Jadi ia berfikir bahwa lelaki itu takkan menjemputnya. Arabella pun pergi ke halte depan kampus untuk mencari Taxi.


Tapi saat hendak mencari taxi itulah, tiba tiba mobil Andrew muncul. Kebetulan sekali.


"Wajahmu tampak ketakutan", ujar Andrew saat Arabella baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.


"Ng.. benarkah?", tanya Arabella lalu mencoba melihat wajahnya sendiri di cermin mobil.


"Juga pucat sedikit. Kau kenapa? Kau sakit?", tanya lelaki itu sambil menatapnya serius.


Arabella menguk salivanya. Ini baru pertama kalinya ia ditatap serius oleh lelaki itu.


"Eng...tidak, tidak. Aku mungkin.. pucat karena baru saja selesai ujian", jawab Arabella sambil memasang senyum kecil.


Andrew membuat huruf o dibibir nya, lalu segera menyalakan mobilnya.


Selama perjalanan selama dua menit, mereka tidak membuka suara sama sekali. Hingga pada akhirnya, Arabella teringat sesuatu. Ia tak melihat adanya wanita cantik di dalam mobil. Ia juga tak melihat Sophia akhir akhir ini, itulah yang sedang dipertanyakan oleh otaknya.


"Tuan Andrew, boleh aku bertanya tentang Sophia?", tanya Arabella memecah keheningan.


"Tentu"


"Kenapa.. dia tak terlihat akhir akhir ini?", tanya Arabella.


"Kenapa? Kau merindukannya?", Andrew malah bertanya balik.


"Bukan begitu. Tapi.. kenapa kau tidak membawanya ikut bersamamu akhir akhir ini? Biasanya kan dia akan selalu ikut denganmu saat kau menjemputku. Atau mungkin, kau menjemputnya setelah selesai mengantarku pulang?", tanya Arabella agak panjang.


Andrew malah terkekeh.


"Tidak. Aku tak melakukan itu. Aku juga sudah tak bertemu dengannya selama satu minggu", jelas Andrew.


"Kenapa?"


"Aku... sudah berjanji pada ayahku untuk lebih fokus padamu"


Arabella mengangguk angguk kan kepalanya.


"Aku juga sudah memblokir nomor Sophia ", lanjut Andrew yang membuat Arabella membulatkan matanya tak percaya.


"Kenapa?"


"Kan sudah kubilang aku ingin fokus padamu. Kalau aku tak memblokir nomor wanita itu, ia akan menelepon ku setiap hari", ujar Andrew agak galak. Arabella terdiam selama beberapa saat.


"Nah, sekarang giliran mu untuk memblokir nomor lelaki detektif itu", lanjut Andrew yang membuat Arabella membulatkan mata.

__ADS_1


"Tentu saja tidak bisa", jawab Arabella. Andrew spontan memelototkan mata nya.


"Kenapa tidak bisa? Kalau tentang panggilan untuk bertugas, kau bisa meminta nya dari detektif lain. Pasti ada detektif perempuan lain kan disana?"


"Iya, tapi aku dan Andrew ialah detektif rahasia disitu. Hanya kami berdua. Detektif yang lain tugasnya berbeda", jawab Arabella.


"Benarkah? Itu bukan alasanmu saja kan?", tanya Andrew yang mulai mengada ngada.


"Tidak, tuan. Aku tidak berbohong", jawab Arabella jujur.


Lagipula aku juga tidak punya rasa pada Nael, kenapa lelaki galak ini posesif sekali?, tanya Arabella dalam hati.


"Baiklah", Andrew menjeda, matanya masih fokus ke depan, "Tapi aku akan memperhatikan gerak gerik kalian"


*


Setelah pulang dari kampus, Arabella langsung memberi tahu pada Nael tentang surat yang ia temukan di tas milik Bram tadi.


^^^Nael^^^


^^^Baiklah, sebuah kebetulan yang bagus^^^


^^^Nael^^^


Itulah balasan dari lelaki itu.


Setelah itu, Arabella menutup hp nya.


"Hm.. kenapa akhir akhir ini tuan Andrew terlihat posesif padaku ya? Apa mungkin sifat posesif itu bisa dibuat buat?", tanya Arabella seorang diri.


Ia membayangkan perilaku Andrew akhir akhir ini padanya. Lelaki itu mulai sering menanyakan tentang Nael darinya, seakan akan takut sekali kalau Arabella akan jatuh cinta pada manusia cuek dan tak pernah tersenyum seperti Nael.


"Atau karena hanya disuruh ayahnya?", lanjut Arabella bertanya pada dirinya sendiri.


"Hfft.. lupakan saja."


Arabella kemudian berjalan menuju ruang tv. Ia membuka tv dan langsung menemukan siaran yang mengabarkan berita pembunuhan. Tepatnya pembunuhan Edo, mahasiswa sekampus Arabella yang tewas semalam.


Arabella mencoba mengganti stasiun tv. Tapi cukup banyak berita tentang kasus kematian Edo yang disiarkan.


"Kasus kematian nya bahkan sampai masuk tv. Aku rasa jasad Edo pasti sangat mengerikan", ujar Arabella pelan. Ia merasa menyesal karena tak sempat melihat jasadnya waktu itu.


Ding dong!


Tiba tiba lonceng pintu depan rumah nya dibunyikan. Arabella menaruh remot yang ia pegang ke atas meja, lalu mengintip dari jendela untuk melihat siapa yang membunyikan lonceng tersebut.

__ADS_1


"Mama?", tanyanya sambil membulatkan mata.


Arabella tanpa basa basi segera membuka pintunya, lalu segera memeluk sosok yang ada didepan pintu dengan senyum bahagia.


"Arabella, kau terlihat semakin cantik. Kau diet?", tanya wanita parubaya itu.


"Iya, ma. Mama tau? Timbangan ku sudah turun 8 kilo dalam satu bulan ini. Sekarang sudah 60 kg!", ujar Arabella senang.


Setelah itu, ia membiarkan ibunya masuk ke dalam rumah kos kecilnya.


"Ibu melihat kemajuan pesat pada dirimu. Bagaimana kau bisa membeli alat alat olahraga ini?", tanya wanita parubaya itu lagi.


"Oh, aku sudah punya toko kue sendiri, ma. Uangnya dari penjualan kue itu", jawab Arabella.


Walaupun jawabannya ada benarnya, tapi Arabella membeli semua alat alat olahraga dan skincare mahalnya dari uang yang diberikan oleh Queen System.


Saat ibunya berjalan menuju kamarnya, Arabella mendengar suara teriakan kecil.


"Mama ... Ada apa?", tanya Arabella sambil berjalan menghampiri wanita itu.


Di dalam kamarnya, wanita parubaya itu menunjuk ke arah meja belajar Arabella dimana ada sebuah foto kecil yang berisi gambar jasad tuan Terry disitu.


Jasad tuan Terry memang sangat mengerikan, wajar ibunya berteriak.


Arabella menutup mulutnya tak percaya atas kebodohan yang ia lakukan.


Astaga, aku lupa untuk menaruh foto itu ke dalam tas, ujar Arabella dalam hati, lalu segera mengutip foto itu dan menaruhnya ke tempat lain.


"Sudah mah, mama tidak perlu takut.."


"Arabella, itu tadi foto apa? Kenapa bisa ada di kamar kamu?", tanya ibunya dengan wajah panik. Arabella pun ikut panik.


"Itu.."


"Arabella, ini mengerikan. Kau seperti psikopat menyimpan foto foto seperti ini", ujar ibunya masih dengan wajah ketakutan.


"T-tapi.. ibu, aku.."


"Apa? Kau apa?"


"Aku.. astaga, aku harap mama tidak marah mendengarnya", ujar Arabella tercicit. Ibunya mengernyitkan dahi heran.


"Marah? Memangnya kenapa?"


"Aku.. aku sudah masuk Detektif, ma"

__ADS_1


__ADS_2