Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Wawancara Pertama


__ADS_3

Arabella baru saja sampai di sebuah kantor polisi besar, tempat biasanya ia datangi untuk melakukan tes detektif. Yeah, lagipula dia juga bekerja disitu. Memang seharusnya ia pergi kesana ketika ada panggilan.


Ketika sampai di halaman depan, gadis itu menoleh ke arah Nael yang baru saja hendak memasuki mobil. Ketika Arabella mendekat, lelaki itu tidak menoleh sama sekali. Lantas gadis itu mengerutkan keningnya.


Kak Nael ini menyuruhku datang tapi kenapa dia pura pura tidak melihatku?


"Kau bisa mengendarai mobil?", tanya lelaki itu tiba tiba.


"Eh.. Ng.. tidak kak, hehe"


"Kalau begitu, masuk"


Arabella menoleh ke kanan dan ke kiri, "Masuk ke mana kak?"


Nael berdecak, "Masuk ke mobil, tentu saja"


"Eh? Kakak mau membawaku kemana?", tanya Arabella polos.


Lelaki itu menghela nafas, "Tentu saja untuk wawancara"


"Oh, baiklah baiklah!", Arabella langsung membuka pintu mobil berwarna merah tersebut, dan masuk ke dalamnya.


Lelaki tadi geleng geleng kepala, lalu berjalan memutar dan memasuki pintu bagian supir.


*


Sekitar 5 menit perjalanan mereka lalui berdua, mobil yang dikendarai Nael berhenti di sebuah parkiran kecil di pinggir jalan, tepatnya di depan sebuah ruko kosong.


Setelah melepas seat belt nya, Nael mengambil sesuatu dari tas nya yang ia letakkan di bangku sebelahnya. Sebuah rambut keriting palsu, kaca mata bulat, dan juga sebuah voice Rekorder kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari sebuah guli.


"Pakai rambut dan kacamata ini", ujar lelaki itu lalu menyodorkan rambut keriting dan kaca mata tadi pada Arabella.


Arabella menatap heran ke arah rambut palsu yang seperti sapi ijuk itu. Tapi beberapa saat kemudian, ia menyadari sesuatu, "Wah.. ini mirip seperti rambutku yang dulu kak!", ujarnya polos dan gembira.


Nael berdecak kecil, "Segera pakai. Pakai dengan bagus, karena wawancara ini perlu dilakukan penyamaran. Aku tak mau jika rambut palsu itu jatuh ketika kau melakukan wawancara "


Arabella berdeham, "Kalau terjadi kak? Kita mana tau rencana tuhan"


Nael memberinya tatapan datar.


Rambut palsu jatuh, kau bilang rencana tuhan? Apa yang difikirkan gadis ini?, batin Nael heran.


"Kalau itu terjadi, aku akan langsung memecatmu"


"Oh, astaga, baik kak baik kak. Ini, sedang aku pakai", Arabella memasang senyum lebar, lalu cepat cepat memasang rambut palsu itu ke atas kepalanya.


Terlebih dahulu ia mengikat rambut nya. Sebisa mungkin ia buat agar tidak terlihat menggembung. Kemudian ia pasangkan rambut palsu itu. Rambut palsu itu memiliki perekat yang kuat, Arabella yakin kalau itu tidak akan jatuh dari kepalanya.


"Kaca mata juga, kak?", tanya Arabella, Nael mengangguki.

__ADS_1


Setelah selesai memakai kaca mata itu, ia mengambil sebuah cermin kecil dari balik kursi mobil. Ia tersenyum lebar melihat dirinya yang sudah terlihat berbeda.


"Dan satu lagi..", Nael menyodorkan voice Rekorder yang tadi ia pegang kepada Arabella, "Letakkan ini di saku bajumu"


Arabella mengambil benda kecil itu, dan mengamatinya sejenak, "Ini bukan bom kan, kak?"


Nael berdecak, "Tentu saja bukan. Untuk apa aku mengebom mu?"


Arabella mengangguk anggukkan kepalanya. Walaupun dia masih keheranan, tapi ia tetap memasukkan benda kecil itu ke saku bajunya.


"Baiklah, kau masih ingat dengan dialog yang kukatakan tadi kan?"


Arabella mengangguk mantap, "Ingat kak!"


"Baiklah, nyonya si penjual burger ada di depan ruko ini. Yang perlu kau lakukan, adalah mengajaknya berbincang saat setelah memesan burgernya. Kau faham kan?"


"Faham kak!"


"Baiklah kalau begitu..", Nael menjeda sambil melihat lihat situasi di luar mobilnya, "Mulai"


*


Setelah lima menit kemudian, Arabella kembali ke dalam mobil dengan wajah senyum ceria, membuat Nael terheran heran. Lelaki itu melirik ke arah beberapa pelastik yang dibawa gadis itu. Banyak sekali, fikirnya.


"Kau tak lupa melakukan wawancara nya kan?", tanya Nael setelah Arabella memasuki pintu mobil di bagian penumpang.


Baguslah kalau kau masih ingat, gumam Nael dalam hatinya.


"Baguslah. Aku fikir kau hanya fokus membeli burger"


Arabella tak menjawab. Ia sibuk mengeluarkan dan memisahkan burger burger berbagai jenis yang dibelinya. Melihat burger sebanyak itu membuat Nael geleng geleng kepala.


Gadis ini di suruh membeli burger untuk percobaan, malah dibeli sekarung, batinnya.


"Aduh, burgernya banyak sekali kak. Ini kak, dimakan", Arabella menyodorkan salah satu plastik burger yang ada di tangannya.


"Tidak. Salahmu membeli banyak. Aku tak menyuruhmu membeli banyak"


"Ng.. tapi kak, kalau beli nya cuma satu, akan hanya ada sedikit waktu untuk mewawancarai nya. Jadi saya beli banyak kak, hehe", jawab Arabella.


Hm.. benar juga ya. Kenapa aku tak berfikir sampai ke situ?, tanya Nael dalam hatinya.


"Baiklah sini", Nael mengambil burger yang disodorkan Arabella tadi.


Selagi lelaki itu menikmati burger tadi, Arabella mengeluarkan voice Rekorder yang ia taruh di saku bajunya tadi sebelum keluar dari mobil. Ia kembali mengamati benda kecil itu. Ada sebuah titik sinar merah menyala nyala di bagian atasnya.


"Bagaimana cara kerja benda ini?", tanya Arabella penasaran.


"Itu perekam suara dari jauh. Dan suara yang terekam akan langsung tersimpan di ponsel ku", jawab Nael.

__ADS_1


Arabella membulatkan matanya, "Berarti suaraku juga kak?"


"Tentu saja"


"Wah.. kakak kenapa tidak bilang kalau akan merekam suara?"


Nael mengernyitkan keningnya, "Memangnya kenapa harus dibilang?"


Arabella terlihat ragu menjawab, "Ng.. maaf kak, apa ini bisa merekam suara.. kentut?"


"Kalau suaranya deras, tentu saja bisa"


Arabella langsung terlihat agak panik.


Astaga, tadi aku sempat buang angin setelah keluar mobil, dan bunyinya cukup deras, batin Arabella takut.


Mana ada voice Rekorder yang bisa merekam suara kentut, dasar aneh, batin Nael sambil menahan tawanya.


"Hm.. omong omong kak, yang aku dapat dari wawancara tadi, kelihatannya nyonya Liana dengan suaminya sangat romantis", ujar Arabella mengalihkan topik.


Nael tidak menjawab, lelaki itu malah merebut voice Rekorder yang masih di genggaman Arabella. Kemudian lelaki itu membuka ponselnya, dan mengeraskan sedikit volume suaranya.


Dan benar saja, hasil rekaman dari voice Rekorder itu langsung terdengar melalui ponsel Nael.


Ah iya, suami saya itu.. lelaki yang baik. Dia tidak pernah marah marah..


Terdengar salah satu ucapan dari nyonya Liana di ponsel itu, dari rekaman voice Rekorder tadi tentunya.


Hm.. penjualan burger ini ide siapa nyonya, kalau boleh saya tau?


Sebenarnya ide kami berdua. Kami sudah sering berganti ganti ide jualan


Wah, burger nya enak sekali, hot dog nya juga. Terimakasih banyak ya nyonya!


Sama sama


Tuut.. Rekaman selesai.


"Bagus"


Arabella menaikkan sebelah alisnya dengan terbengong, "Hah?"


"Bagus. Kau mewawancarai nya tanpa gugup, dan terdengar natural sekali"


Arabella tersenyum lebar, bangga atas pujian lelaki itu.


"Ng.. ada tugas lain, kak?", tanya Arabella mengalihkan topik.


"Tidak ada. Untuk hari ini, cukup segitu dulu. Kita harus pulang dan mengantarkan hasil rekaman ini kepada tuan Steve", jawab Nael sambil menyalakan mobilnya, bersiap siap untuk kembali ke kantor polisi utama.

__ADS_1


__ADS_2