Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
POV Korban ke Lima


__ADS_3

Saat pukul 9 malam, aku sedang duduk santai diatas sofa depan tv. Sedangkan orang tuaku sedang sibuk menyiapkan koper koper untuk dibawa masuk ke mobil. Ayah dan ibuku akan pergi ke rumah nenekku, hanya untuk sekedar mengunjungi dan makan bersama disana. Tapi kata mereka, mereka baru akan pulang dua hari lagi.


Aku malas ikut. Selain karena besok harus sekolah, aku juga benci dengan orang orang disana. Jadi lebih baik aku di rumah sendiri saja.


"Edo, tolong kunci semua pintu ketika ayah dan ibu sudah keluar ya", pesan ibu dari dalam kamar yang tak terlalu kudengarkan.


Aku masih sibuk rebahan di sofa sambil menukar nukar channel tv. Aku tak menemukan film kesukaan ku kali ini, sepertinya karena memang bukan jadwal tayangnya.


Sekitar lima menit kemudian, tanpa kusadari aku tertidur karena sejak tadi aku memang sedang menahan kantuk.


"Edo, cepat kunci pintu rumah. Ini ayah dan ibumu sudah mau pergi", tiba tiba ayahku membangunkan ku.


Aku mengangguk anggukan kepala dengan malas, lalu berjalan menuju pintu depan.


Lagipula mana ada maling yang mau masuk ke rumah jelek ini, ujarku dalam hati.


Ketika ayah dan ibuku sudah masuk ke mobil dan melambaikan tangan mereka dari balik kaca mobil, aku tidak membalas lambaian itu sama sekali karena aku sudah sangat mengantuk.


Setelah mobil mereka sudah menghilang, aku menutup pintu depan dengan asal, lalu menguncinya.


Setelah itu aku cepat cepat kembali ke sofa dan tertidur.


Yeah, aku memang lebih sering tidur di sofa depan tv ini daripada di kamarku. Karena Sofanya sangat empuk dibanding kasur kamarku.


Krieekk..


Aku mendengar suara pintu dibuka. Tapi tidak mendengarnya terlalu jelas karena tv masih menyala. Aku malas mematikan tv. Aku sudah sangat mengantuk.


Tap... Tap..


Aku mendengar suara langkah kaki seseorang mendekati ku. Aku sedang tidur di balik sofa yang membelakangi sumber langkah kaki tersebut.


Tapi walaupun begitu, aku masih tak membuka mata. Karena seingatki, pintu depan sudah ku kunci. Sepertinya aku sedang menginggau.


"Halo.."

__ADS_1


Deg!


Aku refleks membuka mataku perlahan ketika mendengar suara baraton seorang pria yang sangat dekat dari ku.


Ketika aku membuka mata, aku terbelalak melihat seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai pakaian serba hitam tengah berdiri di balik sofa yang kutiduri.


Aku refleks mundur beberapa langkah darinya. Aku tak bisa melihat wajahnya karena ia memakai kain berwarna hitam penutup wajah, aku hanya bisa melihat mata dan hidung nya saja.


"Hei! Maling! Jangan ganggu aku! Kalau kau mau maling, maling saja sana! Ambillah barang yang ada di rumah ini sesuka hatimu!", teriakku pada lelaki bertubuh besar itu.


Tapi dia masih diam di tempatnya. Dan kemudian, ia mengeluarkan sebuah kapak tajam dan sebuah tali tambang dari balik punggungnya.


Aku tertegun, menyadari kalau lelaki ini sepertinya bukan maling biasa.


"Kau ini penculik? Atau maling? Hei, dengar! Kau boleh maling apapun di rumah ini, asalkan jangan ganggu aku!", teriakku sambil terus melangkah mundur.


Lelaki itu malah melangkah maju mendekatiku. Aku bisa merasakan dia menyengir di balik kain penutup wajah nya.


"Aku..", lelaki bersuara baraton itu menjeda kalimatnya, "Aku tak menginginkan sepeserpun harta di rumah ini.."


Lanjutnya yang membuatku lagi lagi tertegun. Dia pasti menginginkanku. Tapi.. menginginkanku untuk apa?


Sial memang, karena hp itu letaknya jauh lebih dekat dengan si lelaki pemegang kapak itu daripada aku.


Saat aku baru saja berlari beberapa langkah mendekati hp itu..


Brak!


Lelaki pemegang kapak itu membelah dua hp ku dengan kapaknya!


Itu sungguh gila!


Hp ku benar benar terbelah dua dibuatnya! Aku tak tau harus melakukan apa lagi!


"Kau gila! Memangnya apa mau mu hah?!", teriakku lagi.

__ADS_1


Lelaki itu malah terkekeh.


"Edo.."


Aku tertegun ketika lelaki itu menyebut namaku. Dari mana ia tau namaku? Aku bahkan tak ingat kalau aku pernah mengenal lelaki ini. Bahkan dari suaranya pun, juga belum pernah kudengar.


"Anggaplah aku sebagai penembus doesamu. Aku hanya ingin menembus dosamu. Kau tau dosa apa.yang kumaksud?", Tanyanya. Lalu lelaki itu terkekeh lagi.


Aku menegeny dahi heran atas kata katanya. Lalu kemudian, aku teringat sesuatu.


Sebuah dosa besar yang kubuat 4 tahun yang lalu.


Tunggu, kenapa aku malah berfikir tentang 4 tahun yang lalu? Entahlah, tiba tiba naluriku langsung mengarah kesitu.


Karena waktu itu, aku merasa dosa itulah dosa terbesar yang pernah kubuat.


Tapi pertanyaan nya, dia ini siapa? Dan bagaimana ia bisa mengenaliku?


"Aku tau.. aku tau kau sering terngiang ngiang atas dosa besar yang kau lakukan itu. Kalau kau menyerahkan dirimu, aku akan mempermudah kematianmu", ujar lelaki itu, nadanya terdengar serius.


Aku.. aku masih membeku di tempatku berdiri. Jarak ku hanya 3 meter darinya. Aku masih tertegun menatapnya. Aku tertegun dengan kalimat kalimatnya tadi.


Aku berfikir keras, mengingat ingat apakah kami saling kenal atau tidak. Kalau lelaki ini tak mengenalku, tak mungkin ia tau bahwa aku sering terngiang ngiang oleh dosa besar yang kuperbuat bertahun tahun lalu.


Tapi.. aku masih tak bisa mengingat siapa lelaki ini.


Apa mungkin dia..


"Kau..", aku menjeda sejenak sambil menatap matanya, "Kau..."


Slash!


Lelaki itu tiba tiba melemparkan kapaknya ke arahku. Menancap tepat di leherku!


"Akh!!", nafasku sontak tertahan. Aku langsung terduduk lemas, lalu berusaha mencabut kapak tadi dari leherku.

__ADS_1


Tanganku juga mendadak lemas, darah mengalir sangat deras dari leher bekas tertancap kapak tadi. Tancapannya sangat dalam, aku bahkan merasa kepalaku hampir putus. Setelah beberapa saat kemudian, aku menutup mataku.


Lelaki itu mengelus kepalaku sebelum aku benar benar menutup mata, itulah yang kulihat terkahir kali.


__ADS_2