
Pagi pukul 7, Andrew sudah sampai di sebuah rumah sakit besar tempat dulu ia bekerja. Dia ke tempat itu untuk menemui seorang perawat wanita yang dulu pernah menjadi teman dekatnya dua tahun lalu. Sebenarnya wanita itu juga sering ia ajak makan siang bersama.
Ketika lelaki itu sampai di lantai dua, di sebuah lorong yang cukup sepi, ia menemukan wanita yang dicarinya itu dengan memegang sebuah nampan yang telah kosong.
"Hai, tuan Andrew!", sapa wanita itu sambil tersenyum lebar.
Andrew membalasnya dengan tawa kecil.
"Kau tak perlu memanggil ku dengan sebutan tuan. Panggil saja aku Andrew", ujar Andrew yang membuat wanita itu tersipu malu.
"Tapi tetap saja kau atasan ku. Rasanya kalau menyebut namamu saja, aku merasa tidak sopan", ujar wanita itu.
"Hm.. omong omong, kau terlihat semakin cantik. Apa kau melakukan diet?", tanya Andrew. Wanita itu menggeleng sambil tersenyum.
"Ah, tidak, kok"
"Oh, kau.. mau makan siang bersamaku?", tanya Andrew. Si wanita yang ada didepan lelaki itu masih diam.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua orang suster yang melirik mereka berdua sambil geleng geleng kepala.
"Biasalah, tuan Andrew memang playboy", ujar salah seorang dari suster itu.
"Iya, rasanya, tiap minggu, pasti ada saja wanita baru yang diajaknya makan siang", cibir suster yang lain. Tapi nampaknya Andrew dan wanita itu tak mendnegarnya.
Lalu kedua suster itu pun pergi dari sana.
"Baiklah, terimakasih ya", jawab wanita tadi dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih padaku, aku lah yang harusnya berterima kasih padamu karena sudah mau menemaniku", ujar Andrew sambil memasang senyum, lalu ia menyodorkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan perempuan itu.
Wanita itu tanpa basa basi segera menggenggam tangan Andrew, dan mereka berjalan bersama keluar dari tempat itu.
Tujuan mereka adalah sebuah restoran yang tak jauh dari rumah sakit.
Tapi ketika mereka baru saja sampai di lantai satu, tepatnya di area sebelum pintu keluar, Andrew melihat ayahnya duduk di ruang tunggu.
Ketika tuan Raymond, ayahnya itu menoleh, Andrew gelagapan dan langsung melepas tangan wanita yang digenggam nya itu.
Tuan Raymond hanya menggelengkan kepala melihat anak lelaki nya itu, kemudian ia berjalan mendekati Andrew.
"Kau masih saja mendekati perempuan lain", tegur tuan Raymond.
"Maafkan aku, ayah, tadi.. aku hanya mengajak dia makan siang", ujar Andrew.
"Aku harap, mulai sekarang kau berhenti untuk mengajak para wanita lain untuk makan siang, untuk berkencan, bahkan untuk sekedar menjadi teman bicara", ujar tuan Raymond. Andrew membulatkan matanya.
"Tentu tidak bisa, ayah. Setiap manusia pasti butuh teman bicara", ujar Andrew protes.
"Kan bisa dengan lelaki, kenapa harus dengan perempuan?", tanya tuan Raymond yang membuat lelaki itu terdiam.
Kemudian tuan Andrew menoleh ke arah wanita yang disebelah Andrew tadi. Dengan sekali memberi tatapan tajam, wanita itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ayah, kalau teman bicara hanya satu, itu tentu membosankan", ujar Andrew.
Tuan Raymond menggelengkan kepalanya sekali lagi. Ia tau itu hanya alasan lelaki play boy seperti Andrew.
__ADS_1
"Kalau kau mau punya teman bicara wanita, ajaklah Arabella. Gadis itu cocok diajak sebagai teman bicara"
"Arabella? Astaga, wanita itu pasti tak tau apapun tentang diriku, dan.."
"Kau bisa bercerita tentang dirimu padanya. Dia bukan tipe gadis yang banyak bicara, dan dia juga bukan tipe yang suka membocorkan rahasia. Ayah mengenalnya sangat baik", ujar tuan Raymond yang membuat Andrew menghela nafas panjang.
"Baiklah, lain kali akan kucoba", ujar Andrew.
"Baguslah", Tuan Raymond menjeda, "Lain kali ajaklah dia makan bersama, atau hanya untuk sekedar berbincang bincang. Selama 4 bulan ini, ayah belum pernah dengar bahwa kau mengajaknya makan bersama", lanjut tuan Andrew.
"Memang tidak pernah. Aku biasanya mengajak Sophia, atau Shea, atau Mikha, atau.. entahlah, banyak", ujar Andrew jujur. Dari kalimat itu saja sudah terlihat begitu banyaknya wanita yang menjadi teman dekatnya, atau bahkan bisa dibilang teman kencannya.
Tuan Raymond berdecak.
"Baiklah, ayah akan menunggu kabar kalian makan bersama. Kau sebagai lelaki, ajaklah dia duluan. Kalian bisa berbincang bincang hangat. Dan dari situ, kau akan lebih mengenal Arabella. Bagaimana kau bisa mengenal Arabella kalau kau hampir tidak pernah mengajaknya bicara?", ujar tuan Raymond.
Andrew menatap dalam ayahnya, lalu ia mengangguk angguk.
"Aku.. sebenarnya juga mulai penasaran dengan gadis itu"
**Maaf baru muncul lagi🤧**
__ADS_1
**3 hari berturut turut saya revisi dari bab 1 sampai 50🤧😂**