
Tepat ketika waktu pulang kampus tiba, Arabella dan temannya Rachel segera pergi dengan sepeda untuk memulai perjalanan mereka mencari restoran yang sedang membutuhkan tenaga kerja.
Itu menjadi pertama kalinya arabella di boncengan sepeda dengan temannya itu. Mereka berdua tampak kebingungan untuk menentukan siapa yang akan duduk di bangku depan maupun yang di bangku belakang.
Saat Rachel menoleh kearah Arabella, Arabella justru menatap kearah tubuh sendiri. Tubuhnya yang gemuk kelebihan bobot bukan tidak mungkin akan menjungkirbalikkan sepeda jika ia duduk di bangku belakang. Belum lagi yang membonceng nya adalah Rachel, gadis yang hanya memiliki bobot 47 kilogram.
Menaiki sepeda pun menjadi masalah bagi Arabella, karena bobotnya yang berlebih itu.
"Aku yang bonceng?", tanya Rachel. Pertanyaan itulah yang membuat Arabella semakin ragu.
"Aku saja", jawab Arabella, lalu segera menaiki bangku depan sepeda yang tak terlalu besar itu.
"Baiklah", Rachel segera menaiki bangku belakang.
Sekitar beberapa menit, mereka berdua sampai di restoran Harmion. Arabella ingat ini adalah tempat pertama kalinya lelaki pujaan hatinya bekerja. Oh ralat, mantan lelaki pujaan hati lebih tepatnya.
"Nampaknya cafe ini sedang tidak membutuhkan tenaga kerja, Arabella. Tidak ada tulisan apapun di dindingnya", ujar Rachel.
Memang benar. Dinding hingga pintu depan
restoran tersebut kosong, tidak ada tempelan kertas atau apapun yang menuliskan bahwa tempat tersebut tengah membuka lowongan pekerjaan.
"Restoran yang kau katakan padaku tadi pagi, bagaimana?"
"Sudah dimasuki oleh tenaga kerja baru", jawab Rachel sedih. Arabella pun ikut menghela nafas sedih mendengarnya.
Saat mereka berdua tengah kebingungan memikirkan hal itu, mata Arabella terfokus pada sebuah restoran mewah mewah yang terletak agak jauh dari tempat mereka. Sebuah restoran besar dengan nuansa hitam yang bukannya tampak menyeramkan, malah tampak begitu elegan.
Meskipun jaraknya sejauh 25 meter dari tempat Arabella berdiri, tapi Bella dapat melihat restoran itu dengan jelas di bagian depan pintu juga terdapat sebuah papan berwarna putih yang bertuliskan bahwa restoran tersebut membuka lowongan pekerjaan.
"Lihat restoran itu, Rachel!", ucap Arabella sambil menunjuk ke arah restoran bernuansa hitam tadi.
"Ada tulisan butuh lowongan pekerjaan disana", lanjut Arabella.
"Oh, baiklah, ayo!"
Mereka berdua segera bergegas melajukan sepeda menuju restoran itu.
__ADS_1
"Raimond..", Rachel membaca nama restoran yang terletak di atas pintu masuk. Raimond, nama restoran itu.
"Hm.. kira kira kita akan menjadi apa disini ya?", tanya Arabella polos sambil ikut memandangi apa yang dipandang temannya itu.
"Tergantung apa yang mereka butuhkan. Ayo masuk!"
Mereka berdua segera memasuki pintu masuk restoran. Di dalam, mereka berdua mencoba menemui pemilik restoran, tapi informasi yang mereka dapatkan adalah, pemilik restoran tidak ada disitu.
"Pekerjaan apa yang sedang dibutuhkan, tuan?", tanya Arabella.
"Satu orang koki, dan satu orang penyaji makanan, nona", jawab salah seorang pelayan disitu.
Arabella dan Rachel lantas saling pandang.
"Aku memasak saja, ya? Hihi", ujar Arabella sambil nyengir.
Rachel menaikkan sebelah alisnya, "Eits, memangnya kau bisa masak?"
"Sebenarnya aku hanya bisa memasak air"
"Itu bukan memasak namanya!", ujar Rachel kesal.
Rachel menepuk jidat mendengar jawaban dari temannya itu, "Kalau kau harus melihat YouTube dulu, pelanggan akan menunggu lama"
"Nanti kan juga diajari, benar kan Pak?", tanya Arabella pada lelaki pelayan tadi.
"Benar, nona. Tapi, tentunya untuk menjadi seorang koki harus memiliki kemampuan memasak yang mumpuni dulu"
"Ah.. baiklah, kalau begitu aku jadi penyaji saja"
"Sepakat?"
"Oke, sepakat!"
*
Disisi lain, di sebuah ruangan tempat pemotongan rambut mewah, terlihat dua orang lelaki berjas hitam tengah duduk santai di dua kursi yang berbeda. Andrew duduk di kursi besar pelanggan, sementara Handry, asistennya itu duduk tak jauh darinya untuk sekedar menemaninya memangkas rambut.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang pria yang merupakan si pencukur rambut memasuki ruangan. Dengan gunting dan alat-alat lainnya yang ada di tangannya, ia segera mendekati tuan muda Andrew untuk memangkas rambut lelaki itu. Ide memangkas rambut, tepatnya mengganti style rambut itu adalah dari Handry.
"Dengan style ini, benar tuan?", tanya si lelaki pencukur sambil menunjukkan sebuah gambar pada selembar kertas pada Andrew. Andrew menjawab dengan anggukan.
"Kau yakin, tuan?", tanya Handry agak ragu. Karena itu adalah yang pertama kalinya ia lihat tuannya berniat sekali untuk mengganti style rambut. Selama bertahun tahun menjadi asistennya, ia belum pernah melihat tuannya itu mau berurusan dengan pangkas rambut.
"Iya,", jawab Andrew, "Sekalian rambut dan janggutku di cukur"
Handry menaikkan sebelah alisnya, seakan tak percaya dengan ucapan tuannya barusan.
Tampaknya tuan Andrew berniat sekali untuk mengubah penampilan nya, gumam Handry dalam hatinya.
Krieekk..
Tiba tiba pintu ruangan terbuka. Tampak seorang wanita cantik berambut coklat panjang yang indah, dan berusia sekitar 24 tahun masuk ke dalam ruangan. Andrew yang baru saja hendak dipangkas langsung menoleh ke arah wanita yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Sebaiknya kau ketuk pintu dulu", ujar Andrew dengan nada kesal.
Wanita itu tidak menjawab apapun, ia malah terfokus dengan rambut lelaki itu yang tengah digunting gunting.
"Hah? Kau pangkas, Andrew?", tanya wanita itu tampak tak percaya.
"Memangnya ada masalah?"
"Tidak, hanya saja.. atas dasar apa?", tanya wanita itu. Andrew melirik ke arah Handry dan memberi kode agar Handry tidak memberi tau wanita itu jawabannya.
"Ini kan rambutku, terserah mau kuapakan. Mau kubuat gundul juga tidak ada masalah kan?"
Wanita itu menautkan alisnya, "Hm.. apa ada sesuatu? Apa kau tengah ingin mendekati wanita lain?"
Andrew berdecak, wanita itu, yang sebenarnya adalah bernama Sophia, selalu saja mencari cari tau tentang urusannya. Padahal wanita itu hanya sebatas teman, bukan istri, tunangan, ataupun pacar Andrew Darian.
Sophia, sebenarnya wanita itu ialah teman masa lalu Andrew. Mereka yang telah berteman sejak usia lima tahun tentunya bisa dikatakan sangat dekat sekali. Bisa dikatakan sahabat lama. Bahkan kedua orang tua mereka sudah sangat saling kenal.
Hingga pada usia wanita itu yang ke 20, wanita itu mengakui bahwa ia jatuh cinta pada lelaki itu. Andrew menolaknya. Tapi yang terjadi hingga sekarang, ialah Sophia tetap tidak berhenti mengejar lelaki itu. Seperti yang tengah ia lakukan sekarang, ia masih saja sibuk tentang urusan lelaki itu, terutama jika lelaki itu berurusan dengan seorang wanita.
Wanita itu masih menunggu jawaban dari mulut lelaki yang ada disampingnya. Andrew justru menyuruh si tukang pangkas untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sophia menghela nafas sebal. Ia lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut, dan menutup pintu.
"Aku perlu mencari tau.."