
Arabella berjalan pelan menuju jalan kembali ke rumah sewanya. Dia sebenarnya tidak berniat untuk pulang, tapi hanya menghindari Sophia karena Sophia masih ada di halte tadi.
"Kenapa aku tiba tiba menangis ya? Aneh", ujar Arabella pada dirinya sendiri sambil mengusap air matanya.
Drrtt.. drrtt..
Ia merasakan handphone nya berdering. Andrew menelepon nya. Arabella segera mengangkat telepon itu.
"Halo?"
"Arabella, maaf aku tak bisa pergi denganmu hari ini. Kita tunda saja dulu. Aku baru saja dapat tugas mendadak. Lain kali saja, ya?"
"B-baik lah tuan, tidak masalah"
Setelah itu, telepon ditutup.
Arabella menghela nafas panjang, lalu melanjutkan berjalan menuju rumah kosnya.
*
Keesokan nya, Arabella seperti biasa sudah bersiap siap untuk pergi ke kampus pukul 7 pagi.
Ia sudah melihat mobil Andrew di halaman depan rumahnya.
"Arabella, maafkan aku. Aku membatalkan jalan jalan kita semalam", ujar Andrew saat Arabella baru saja memasuki pintu mobil.
"Ng.. tidak apa apa, tuan. Aku tidak masalah", Arabella tersenyum kikuk.
Lelaki itu menatapnya intens, dan beberapa saat kemudian, lelaki itu memasang senyum kecil.
"Kau tak marah kan?", tanya Andrew sambil mendekatkan dirinya pada Arabella.
Arabella refleks menjauh sedikit. Tapi ia tetap memasang senyum kecil.
"Ng.. tidak kok"
"Kau takkan menjauhiku hanya karena ini kan?"
"Tidak, tuan. Tidak"
"Janji?", Andrew menyodorkan jari kelingking nya didepan Arabella. Arabella segera membalas jari kelingking itu dengan jari kelingking nya juga.
"Iya, janji"
*
Ketika sampai di halaman depan kampusnya yang terlihat masih kosong, Arabella berjalan perlahan menuju tangga lantai dua. Tapi sebelum ia benar benar sampai di tangga, telepon nya berdering.
Nael menelepon. Arabella segera mengangkat telepon itu.
"Halo?"
"Arabella, sebaiknya kau tanya tentang clue kedua itu sekarang juga pada orang yang pertama kali menemukannya", ujar lelaki itu dari seberang sana.
"Baiklah"
Telepon ditutup.
Arabella kemudian berfikir sejenak. Ia bahkan tidak tau lelaki yang pertama kali menemukan clue kedua itu kelas berapa.
Arabella mengingat ingat sejenak namanya. Bram William.
"Braw William, aku harus segera mencarinya"
__ADS_1
*
Pukul 09.30, tepatnya saat waktu istirahat tiba, Arabella kembali keluar dari kelas untuk mewawancarai Bram William, lelaki yang pertama kali menemukan clue kedua itu.
Ia berhasil menemukannya saat tadi pagi setelah mencari cari nama Bram William di Mading berbagai kelas. Tapi ia tak sempat menemui lelaki itu.
Hingga saat jam istirahat tiba, Arabella mengajak lelaki itu untuk berbincang bincang di kursi istirahat di halaman depan kampus.
"Sebelumnya, maaf karena aku tiba tiba mengajak anda untuk berbincang bincang disini. Saya ingin menanyak beberapa hal tentang...", Arabella menjeda kalimatnya sejenak, karena Bram menatapnya dengan intens, yang membuatnya sedikit grogi.
"Kau tau? Tentang surat kecil yang ada di tas mu. Aku.. menemukan sebuah surat kecil di tasmu, dan aku menduga sesuatu tentang surat kecil itu. Aku ingin tau darimana kau mendapatkan nya", lanjut Arabella.
Lelaki itu tampak menaikkan sebelah alisnya.
"Memangnya kau siapa? Kenapa kau tiba tiba ingin tau tentang surat itu? Aku hanya menjawabnya pada polisi atau detektif"
"Benarkah? Jadi.. kau berniat untuk memberikan surat itu ke kantor polisi?"
"Hm... sepertinya iya"
Lalu terjadi keheningan sesaat.
"Apa kau mendapatkan surat itu dari tong sampah?", tanya Arabella yang membuat lelaki gondrong itu tampak terkejut.
"Eh? Dari mana kau tau?"
"Hanya menebak".
Lelaki itu tampak mengerutkan dahinya, lalu terjadi keheningan lagi di antara mereka berdua.
"Baiklah, pulang dari kampus ini. Aku akan menunggumu untuk mengantar surat itu ke kantor polisi utama New York"
*
Ketika waktu pulang kampus tiba, Arabella segera keluar dari kampus menuju halte depan kampus. Tapi sebelum Arabella sampai menuju halte, kebetulan lewat mobil Andrew yang baru saja hendak menjemput gadis itu.
"Hm.. untuk bertemu dengan lelaki detektif itu?", tanya Andrew.
Arabella sudah menduga, jika Arabella berbincang tentang kantor polisi, pasti Andrew akan menanyainya tentang Nael.
"Tidak tuan, ada sesuatu yang penting, sungguh", jawab Arabella serius.
"Baiklah, aku antar saja"
Akhirnya Andrew mau berbaik hati untuk mengantar Arabella.
Sesampainya di kantor polisi, Arabella langsung melihat Bram yang sudah masuk ke dalam gerbang. Ternyata lelaki itu menepati janjinya tentang clue tadi.
Arabella menghela nafas lega karena ia merasa bahwa clue kedua itu jatuh di tangan orang yang jujur dan penurut.
"Terimakasih sudah mau datang kesini", ujar Arabella pada lelaki gondrong itu.
Lelaki gondrong itu menoleh, ia menatap heran ke arah Arabella.
"Kau berbicara seakan akan kau adalah salah satu penjaga gerbang disini", ujar Bram.
"Bukan, bukan, aku bukan penjaga gerbang. Aku hanya mengucapkan terimakasih karena kau menepati janjimu untuk datang kesini. Kau akan memberi tahuku tentang clue itu kan?"
"Eh? Memangnya kau siapa? Bukan polisi kan?", tanya lelaki itu.
"Ng.. sebaiknya kita segera masuk saja ke dalam", ujar Arabella.
Ketika Arabella berjalan memasuki pintu masuk kantor polisi, lelaki itu mengekor dari belakang.
__ADS_1
Ketika memasuki ruangan pertama, Arabella langsung menemukan tuan Hans, tuan Steve, dan Vilia.
"Oh, Arabella? Ada apa datang kemari?", tanya tuan Hans sambil bangkit berdiri dari kursinya.
Bram menoleh sekilas ke arah Arabella.
"Polisi itu mengenalmu?", tanya Bram dengan berbisik. Arabella hanya mengangguk.
"Apa dia ayahmu?", tanya Bram lagi.
"Tentu saja bukan", jawab Arabella berbisik.
"Maaf mengganggu, tuan Hans. Aku dan lelaki ini ingin memberi tau anda, tentang sebuah clue baru dari kasus kematian Edo tiga hari lalu", Arabella menjawab pertanyaan dari tuan Hans.
"Bram, keluarkan kertas kecil itu", ujar Arabella. Bram dengan agak terburu buru segera mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam tas nya.
Lalu lelaki itu meletakkan surat kecil itu di atas meja didepan tuan Hans dan tuan Steve.
Tuan Hans membuka kertas kecil itu, dan membacanya dengan serius.
"Dari mana anda mendapat kan surat ini?", tanya tuan Hans.
"Ng.. dari tempat sampah, tuan"
Tuan Hans kembali meneliti surat kecil itu.
"Anda kelas dan jurusan apa?", kali ini, tuan Steve yang betanya.
"Matematika 1"
Arabella, tuan Steve, dan tuan Hans langsung saling pandang.
"Satu kelas dengan Edo Frederick?"
"Benar, tuan"
"Hm.. apa anda memiliki hubungan dengan Edo?"
"Ada, tuan."
"Seperti apa? Bisa dijelaskan secara rinci?"
"Hm.. sebenarnya bukan hubungan teman. Dia sering membully saya.", Jawab Bram.
Arabella, tuan Steve, dan tuan Hans kembali saling menoleh.
"Tenanglah, tuan. Bukan saya pembunuhnya, sungguh. Kalau saya pembunuh nya, tak mungkin saya berani datang ke kantor polisi ini", lanjut Bram dengan raut wajah serius.
Tuan Hans mengangguk angguk.
"Tentu, saya bisa lihat anda mengatakannya dengan jujur"
"Edo sering membully anda sejak kapan? Apa ada alasan tertentu atas itu?"
"Ng.. sejak awal saya masuk kampus, ia dan teman temannya mulai mengejek ejek penampilan saya. Dan waktu itu, ialah waktu pertama kali saya kenal dia. Saya tidak mengerti dengan jelas alasan dia membully saya. Tapi saya rasa, mungkin karena saya paling culun dan pendiam di kelas", kelas Bram.
Tuan Hans mengangguk anggukan kepala.
"Baiklah. Bagaimana dengan.."
"Permisi semua!"
Ucapan tuan Hans terhenti oleh Christ yang masuk ke dalam ruangan tiba tiba. Arabella dan yang lainnya refleks menoleh ke arah lelaki itu.
__ADS_1
"Ada pembunuhan... lagi.. ", ujar Christ dengan nafas yang tidak beraturan.
Setelah mendengar kabar itu, semuanya spontan membulatkan mata.