Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Tentang Ayah


__ADS_3

Setelah selesai dengan tugas wawancara nya bersama Nael tadi, Arabella pulang ke rumah sewanya dengan membawa banyak pelastik berisi burger. Mungkin ada sepuluh burger lebih yang dibawa nya di dalam pelastik itu.


"Ya ampun.. burger sebanyak ini mau ku taruh di mana? Apa perlu besok aku adakan arisan saja?", tanya Arabella seorang diri melihat banyak nya pelastik berisi burger di tangannya.


Srieek...


Kebetulan pintu depan terbuka sebelum Arabella mengetuk nya. Tampak wajah ibunya yang terlihat bertanya tanya dan juga tampak khawatir.


"Akhirnya kau pulang Arabella, kau baik baik saja?", wanita parubaya itu langsung memeluk anak nya itu dan mengusap usap kening Arabella untuk mengecek apakah Arabella demam atau tidak.


"Aku tidak apa apa ibu, aku tadi hanya disuruh untuk wawancara. Masa aku disuruh berbincang bincang saja langsung kena demam? Hehe"


Setelah itu gadis itu dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruang tamu. Arabella segera menaruh pelastik pelastik berisi burger yang ia pegang tadi ke atas meja.


"Arabella, mama khawatir sekali padamu, apalagi tadi kau langsung pergi keluar tanpa mama izinkan terlebih dahulu", ujar Irene, ibu Arabella.


"Ah, tapi kan aku sudah teriak minta izin mama, hehe"


"Hm.. kalau kamu seperti itu lagi, mama takkan izinkan kamu untuk menjadi detektif lagi", Irene memasang raut wajah tegas.


"J-jangan mama. Arabella suka pekerjaan ini, tolong jangan lakukan itu. Arabella janji, setelah ini kalau Arabella ingin pergi wawancara atau tugas lain, Arabella akan minta izin dulu pada mama", Arabella memasang senyum lalu mengangkat tangan kanannya ke udara, seakan akan dia benar benar berjanji atas nama Tuhan di langit.


"Hm..", tapi Irene malah tampak sedih. Ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu kembali menatap Arabella, anak satu satunya itu dengan tatapan sendu, "Arabella, kau tau kan, ayahmu meninggal saat menjadi detektif?"


Tiba tiba terjadi keheningan di antara mereka selama beberapa saat.


Arabella mengerut kan dahinya mendengar ibunya yang tiba tiba sedikit mengubah topik.


Ia tentu tau tentang hal itu, tentang ayahnya, yang merupakan seorang detektif intelijen yang gagah, tewas saat hendak mengejar seorang pelaku pembunuhan. Itu terjadi saat Arabella masih berusia lima tahun, dan Irene menceritakan lebih jelas tentang kejadian itu saat Arabella berusia sepuluh tahun.


Tampaknya kisah pilu itu masih membekas di ingatan Irene. Sejak lelaki gagah itu dikabarkan tewas, Irene tak pernah lagi menonton siaran tv yang berkaitan dengan kasus pembunuhan, bahkan mendengar kata 'pembunuhan' saja dia mungkin bisa pingsan.


Kabar pilu itu membuat Irene trauma, tapi untungnya tidak pada Arabella. Walaupun Arabella adalah gadis polos, pelupa dan menyebalkan, tapi ia malah justru tidak takut dengan hal hal yang berkaitan dengan itu.


Seorang Arabella Cathan lebih takut kalau dirinya digebet om om, atau ketika dosen George, dosen matematika di kelasnya datang mengajar.

__ADS_1


"Jangan fikirkan itu lagi ma, kalau mama terus berfikir tentang hal itu, rasa takut mama tidak akan hilang sampai kapanpun. Kalau mama seperti ini terus, ayah di atas sana juga akan sedih", ujar Arabella sambil mengelus tangan ibunya.


Irene mengangguk pelan, ia yang awalnya menundukkan kepala menahan tangis, kini mengangkat kepala dan menoleh ke arah anak gadisnya yang baru saja menyemangatinya.


"Kau benar, nak. Terimakasih sudah membuat mama lebih lega", wanita parubaya itu tersenyum hangat.


*


Sejak pukul 6, hingga malam pukul 8 saat ini, Andrew masih berada di ruangan pribadi ayahnya, di lantai tertinggi gedung Darian Group, pusat pengelolaan usaha properti milik ayahnya yang terbesar. Andrew yang dinobatkan sebagai direktur utama oleh ayahnya, tentunya selalu akan membantu tugas tugas dan permasalahan yang terjadi dengan usaha properti besar mereka.


Lelaki itu tampak sedang bingung menatap ke arah banyak berkas yang tersusun rapi di atas mejanya.


"Hhh..", ia menghela nafas sejenak.


Ia lalu berjalan pelan menuju ke arah jendela, dan membuka tingkap jendela sehingga udara malam yang sejuk masuk menerpa wajahnya yang tampan.


Lelaki itu memejamkan mata sejenak. Ia tampak sangat menikmati udara yang berhamburan masuk dari jendela. Sekitar beberapa menit kemudian, angin masuk semakin kencang. Saking kencangnya, membuat rambut lelaki itu terlihat acak acakan sedikit. Angin itu juga diselingi dengan datangnya beberapa titik titik air yang ikut menerpa wajah lelaki itu.


Dalam keheningan ruangan itu, Andrew masih menikmati angin bercampur gerimis yang menerpa wajahnya. Lelaki itu hampir tidak pernah merasakan ketenangan yang seperti itu. Ia selalu disibukkan dengan masalah kantor dan perusahaan.


Sriekk..


Andrew menoleh ke arah pintu, dan melihat Sophia yang tersenyum berjalan masuk ke arahnya.


Di tangan wanita itu ada sebuah bekal makanan sederhana. Tapi Andrew tak fokus ke bekal makanan itu, ia fokus ke arah Sophia yang tersenyum senyum kearahnya, seperti orang aneh menurutnya.


Andrew tak berniat untuk membalas senyum itu, ia malah memasang raut wajah serius.


"Kau mau apa kesini?", Andrew bertanya ketus.


Raut wajah Sophia langsung berubah masam, "Eh? Setiap aku mendatangi ruangan pribadimu kau pasti bertanya dengan muka masam!"


"Ini ruangan pribadi ayahku, bukan ruangan pribadiku. Dan satu lagi, ketuklah pintu sebelum membukanya"


Sophia memutar bola matanya, "Siapa suruh tidak kau kunci?"

__ADS_1


Andrew terdiam sejenak. Benar juga, fikirnya. Lelaki itu tidak sempat terfikir untuk mengunci pintu karena ketika memasuki ruangan itu, ia langsung sibuk dengan urusan kertas kertas berserakan yang ada di atas mejanya .


"Omong omong...", Sophia menaruh bekal makanan berwarna kuning yang dibawanya ke atas meja, lalu membuka tutup bekal makanan tersebut, "Ini untukmu", Sophia memasang senyum lebar.


Wanita itu masih memasang senyumnya yang terindah, menunggu sampai lelaki yang disukainya itu mendatanginya dan melihat makanan yang dibawanya dari dekat.


Andrew melakukan nya.


Ia berjalan mendekati Sophia, meninggalkan tingkap jendela yang masih terbuka, untuk melihat makanan yang dibawa gadis itu.


Dan ketika melihat isi sandwich yang tampak lezat itu, Andrew memasang wajah yang lebih masam.


"Kau makan saja, aku tidak berselera"


Sophia membelalakkan mata, "Eh? Andrew? Aku sudah lelah memasakkan ini untukmu..!"


"Kubilang kau makan saja, aku tidak mau memakannya!"


Sophia cepat cepat menutup bekal makanannya itu dengan tutup yang dipegangnya. Gadis itu lalu menatap lelaki yang ada didepannya dengan tatapan intens, "Kenapa kau menjadi seperti ini, Andrew? Apa karena ada wanita lain?!"


Andrew menaikkan sebelah alisnya.


Wanita lain? Kau fikir kau siapa? Kau berkata seakan akan kau adalah pacarku, dasar wanita aneh..


"Apa maksudmu?"


"Andrew, tolong jangan berbohong padamu. Beri tau aku siapa wanita itu!"


"Aku tidak mengerti maksudmu! Kita berdua bukan tunangan, bukan berpacaran, apalagi suami istri. Wanita lain? Apa yang kau maksudkan?!"


Sophia terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang lebih pantas, "Sebaiknya kau cepat cepat meminta pada tuan Raymond supaya kita bertunangan. Dan setelah kita bertunangan, kau takkan melihat wanita lain lagi, dan lama kelamaan kau akan jatuh cinta padaku!"


"Aku tak pernah mencintaimu. Jadi tutuplah omong kosong mu itu untuk dapat menikah denganku!", Andrew semakin meninggikan suaranya.


Mulut Sophia terkunci lagi. Tatapan mereka berdua beradu selama beberapa detik. Setelahnya, Andrew pergi keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sophia yang masih mematung di tempat.

__ADS_1


"Menyebalkan!", pekik Sophia yang masih berdiri di tempatnya, sambil mengacak acak rambutnya sendiri.


Bab seterusnya masih belum direvisi ya kakak kakak🙏🏻😊. Secepatnya akan direvisi


__ADS_2