Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Kejanggalan Introgasi dan Unknown POV


__ADS_3

Setelah lonceng tanda pulang tiba, Arabella harus melakukan piket kelas. Setelah selesai piket, ia keluar dari kelas dan berjalan turun di anak tangga yang sudah kosong.


Karena di daerah situ sudah benar benar sepi, Arabella bahkan sampai mendengar suara seseorang berbicara dari dinding sebelahnya. Terdengar suara orang marah marah. Dan yang membuat Arabella penasaran, ialah ketika salah seorang dari mereka bertanya 'Apa hubunganmu dengan Edo?' dengan suara tinggi.


"Apa mereka sedang mengintrogasi orang orang mengenai jasad Edo Frederick?", tanya Arabella seorang diri.


Karena rasa penasaran yang tinggi, Arabella berjalan pelan pelan mendekati dinding tersebut. Ia menguping di dekat pintu ruangan yang terbuka sedikit.


Ia melihat ada Vilia, tuan Steve, beberapa mahasiswa lelaki yang tak dikenalnya, dan Angel.


"Nona Angel, jawab pertanyaan saya sekali lagi. Kemarin saat pulang sekolah, kalian berdua berbincang bincang di dalam kelas Ekonomi 1. Benar?", tanya tuan Steve.


"Benar", Arabella menjawab dengan wajah gugup.


"Lalu, apa hubungan anda dengan Edo?", tanya tuan Steve. Wajah Angel terlihat ketakutan.


"Yang dibentak tadi ialah Angel?", tanya Arabella seorang diri.


"Tuan... maaf, saya tak mengenal lelaki itu. Sungguh. Kami juga tidak pernah berteman. Kemarin saya hanya berbincang dengannya karena untuk berkenalan dengannya. Saya tak pernah mengenalnya sebelumnya", jawab Angel.


Arabella merasa ada kejanggalan dengan ucapan gadis tersebut. Kemarin, Angel bilang bahwa ia ingin berbincang bincang dengan Edo di kelas ekonomi 1 karena kelas tersebut sedang kosong. Kemungkinan besar yang mereka bahas itu ialah sebuah rahasia, bukan untuk melakukan perkenalan.


Jika untuk melakukan perkenalan, untuk apa dilakukan di ruang kelas yan kosong? Bahkan kelas ekonomi 1 bukan kelas mereka berdua, ujar Arabella dalam hati.


Arabella kemudian kembali fokus untuk memperhatikan introgasi itu. Tapi tiba tiba ada seseorang dari belakang yang menarik telinga Arabella.


"Aw.. astaga.. sia...", Arabella menahan kalimatnya ketika melihat sosok yang menarik telinganya ternyata ialah Andrew.

__ADS_1


Arabella membulatkan mata tak percaya melihat Andrew yang telah berani memasuki area kampus.


"Tuan? Apa yang anda lakukan disini?"


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini? Aku sudah menunggumu di halaman parkir seperti cacing kepanasan. Ayo pulang!", ujar lelaki itu lalu berjalan pergi, Arabella pun cepat cepat menyusulnya dengan malas.


*


Disisi lain..


Unknown POV


Aku baru saja melepaskan pakaian serba hitam ku, dan menaruhnya asal ke atas tempat tidur. Para polisi dan detektif itu semakin giat untuk mencari ku.


Aku sudah memberi tahu mereka bahwa aku tak segan segan membunuh orang yang menggangguku. Aku bahkan sudah membunuh Vano, salah satu detektif mereka yang harus nya tidak masuk list untuk kubunuh.


Tapi mereka tetap saja tidak berhenti mengejarku!


Tapi aku tak masalah.


Hahah! Aku justru suka kalau mereka berlari kesana kemari seperti orang idiot hanya untuk bisa menangkap ku.


Yeah, sebenarnya aku memang semakin cukup kesusahan untuk keluar dari bentengku. Aku harus memakai masker dan kaca mata setiap keluar rumah agar orang orang tak dapat mengenaliku. Bahkan untuk membeli minuman di kedai sebelah pun mulai sulit kulakukan. Aku harus berjaga jaga dengan ketat.


Oh ya, aku punya banyak pesuruh.


Para polisi dan detektif bodoh itu pasti akan semakin pusing, karena mereka akan melihat sosok lelaki berpakaian serba hitam dimana mana.

__ADS_1


Aku kemudian mengambil sebuah foto kecil dari album yang kuletak kan dibawah bantalku. Aku mengambil foto seorang wanita cantik berambut lurus panjang. Di foto itu, wanita itu terlihat sedang menulis di atas meja.


Itu ialah Arabella Cathan.


Ia cantik menurutku. Aku suka pipi chubby nya.


Nah, pasti kalian bertanya tanya bagaimana aku bisa mendapatkan foto gadis itu saat di dalam kelas? Bagaimana caranya aku memotretnya?


Tentu bukan aku yang melakukannya, tapi salah satu pesuruh ku.


Angel.


Ah, gadis itu hanya seorang pela*ur. Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah club' malam. Kemudian, aku melihat Arabella dan gadis itu pergi ke rumah kediaman Vano. Dari situ aku tau kalau gadis pela*ur itu sekelas dengan Arabella.


Dari situlah aku mulai mendekati Angel, memberinya sedikit uang agar ia mau membantuku mendekati Arabella. Mulai dari nomor handphone, hingga alamat rumah, semuanya.


Aku tentunya tak menanyakan tentang Nael padanya. Ia bisa langsung mencurigai ku. Aku tentu tidak bodoh.


Dan tentu saja, gadis pela*ur itu tidak tau bahwa aku ialah seorang pembunuh. Ia sama bodohnya dengan yang lain.


Kalau kalian mau tau, list yang ingin kubunuh hanya tinggal sedikit lagi. Pemainan akan segera berakhir.


Tapi jika para detektif dan polisi bodoh itu tak berhenti mengejarku, aku rasa aku terpaksa menaruh nama mereka satu persatu ke dalam list kematian!


Aku sudah membunuh 5 orang dan tak meninggalkan kesalahan sedikitpun. Sampai sekarang, para polisi bodoh itu tak berhasil menemukanku. Padahal aku sudah sering memunculkan diri didepan mereka, tapi mereka selalu gagal untuk mengejarku.


"Lemah..", ujarku pelan.

__ADS_1


Setelah itu, aku memikirkan rencana selanjutnya agar aku bisa menghancurkan sisa orang yang berada dalam list ku.


Rencana ku sempurna, akan selalu sempurna..


__ADS_2