
Esoknya, Arabella masuk ke kampus seperti biasa. Saat baru saja ia masuk ke dalam kelas, ia langsung diberi pertanyaan mengerikan oleh Rachel.
"Kapan kau akan membantu ku mendekati Nael?"
Itulah yang ditanyakan oleh gadis itu. Arabella menggaruk kepalanya bingung.
"Ng.. aku sendiri tidak tau bagaimana memulainya. Karena kami.. tidak sedekat yang kau fikirkan", jawab Arabella pelan.
"Tidak mungkin, kau berbohong.", ujar Rachel sambil melipat kedua tangannya, lalu memasang wajah cemberut.
"Iya, iya, tapi kami dekat dalam hal pertemanan. Kami hanya dekat sebagai..", Arabella menjeda kalimatnya lalu menutup mulutnya.
"Sebagai apa?"
"Sebagai.. orang yang sama sama suka novel fantasi"
"Mana ada hubungan yang seperti itu. Intinya kalian berdua dekat, dan kau pasti tau perempuan seperti apa yang dilirik lelaki itu", ujar Rachel yang membuat Arabella semakin kebingungan.
"Kami tidak sedekat itu"
"Bohong"
"Sungguh, aku tak pernah melihatnya melirik perempuan", ujar Arabella jujur.
"Benarkah?", Rachel bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, benar", jawab Arabella sungguh sungguh.
Jangankan melirik perempuan, aku rasa lelaki dingin itu bahkan tidak pernah punya rasa terhadap perempuan, gumam Arabella dalam hati.
"Baiklah", Rachel menjeda. "Kalau begitu lain kali kau harus menanyakannya"
*
Nael baru saja pulang dari kampus. Setelah keluar dari gerbang kampus, ia segera menghampiri mobilnya di tempat parkir, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan standart untuk sampai ke sebuah tempat yang cukup jauh dari kampus itu.
Kuburan.
Ia ingin mengunjungi kuburan para orang orang terdekatnya yang akhir akhir ini tewas akibat 'pembunuhan'.
Sesampainya di area kuburan yang cukup ramai itu, Nael segera memarkirkan mobilnya di area yang masih kosong.
Tanpa membawa bunga atau apapun, ia keluar dari mobil lalu berjalan pelan menuju kuburan yang hendak ditujunya.
Sampailah dia di sebuah kuburan khusus yang dibatasi dengan dinding keramik seluas 6 kali 6 meter.
Di dalam area dinding keramik itu, terdapat 3 kuburan. Tuan Terry, tuan Reonald, dan Vano.
__ADS_1
Ia menatap sendu kearah tiga kuburan yang masih bersih dan terlihat baru itu. Di hadapan ketiga kuburan itu, ia menurunkan topi kepolisian yang dipakainya, lalu menundukkan kepala.
"Aku masih berusaha mencari sang pelaku", bisik Nael. Air matanya mulai menetes, tapi ia segera menghapusnya dengan cepat.
"Aku... aku berjanji tak akan mengecewakan kalian", lanjutnya, lalu kembali memakai topinya.
Saat ia baru saja hendak pergi meninggalkan ketiga kuburan itu, tiba tiba..
Tuk!
Nael mengelus pipinya yang seperti baru saja di lempar batu kecil. Ia lalu menoleh ke bawah. Ada sebuah batu kecil yang dibaluti kertas, kemudian diikat dengan karet.
Benda itulah yang terlempar ke arahnya tadi.
Nael segera mengambil benda itu dan membuka kertas tersebut.
Kau menangis? Ahahahah
Nael langsung meremas kertas itu. Satu kata yang dipikirkan nya tentang sosok yang melempar kertas ini ialah... pembunuh.
Menyadari itu, Nael langsung menoleh cepat ke arah dari mana kertas berisi batu ini dilempar ke arahnya.
Matanya langsung membulat ketika melihat sosok seorang lelaki berpakaian serba hitam langsung berlari cepat keluar dari area kuburan saat mata mereka bertemu.
Menyadari ada kecurigaan pada lelaki berpakaian serba hitam itu, Nael langsung berlari cepat menuju gerbang keluar area kuburan.
Nael melihat lelaki itu baru saja menaiki sebuah motor ninja hitam, lalu melaju menjauh dengan kecepatan tinggi. Bahkan lelaki gila itu tidak takut takutnya menyelip orang orang yang ramai ada di jalan itu.
Nael berfikir keras untuk mengejarnya. Kalau memakai mobilnya, sepertinya akan sulit. Karena jalan yang lewati pria itu ialah jalan dimana orang orang berjalan kaki menuju kuburan. Belum lagi mengingat mobil yang ia parkirkan cukup jauh dari tempatnya saat ini, tentunya akan membuang waktu banyak kalau harus mengambil kesana.
Jadi Nael memutuskan untuk berlari secepat mungkin untuk menghentikan lelaki itu.
Di tengah keramaian orang orang yang berjalan melintas, ia terus berusaha untuk menyelip agar tidak menabrak orang.
Setelah melewati jalan kecil yang ramai itu, Nael menemukan perempatan jalan, tapi untungnya disini hanyalah perempatan kecil, bukan perempatan jalan raya.
Ketika melihat ke arah kiri, Nael masih sempat melihat motor ninja itu.
Hanya dengan sekali lihat bagian belakang motor, Nael langsung mengingat play motor tersebut. Nael berusaha berlari secepat mungkin agar dapat menghentikan motor yang melaju gila itu.
"Tolong hentikan motor hitam itu!", Nael berteriak pada beberapa lelaki di pinggir jalan yang akan dilewati motor tersebut.
Mereka, keempat lelaki itu menoleh ke arah Nael yang berteriak dari jauh.
"Hah?", tanya keempat lelaki itu bersamaan.
Nael menepuk dahinya. Motor ninja hitam itu baru saja melewati mereka.
__ADS_1
Tapi kemudian Nael berfikir rasanya tidak mungkin orang orang tanpa senjata akan berani menghentikan motor yang dikendarai oleh orang gila itu.
Setelah mengejar selama tiga menit, Nael kehilangan jejak motor ninja hitam tersebut karena dia sudah mencapai jalan raya.
Dengan nafasnya yang masih tidak beraturan, ia membuka handphone di sakunya dan mencoba menelepon seseorang.
*
Disisi lain, Arabella baru saja sampai di kantor polisi utama New York. Ia mendapat panggilan dari tuan Hans untuk melihat lihat pembagian kelas detektif.
Ketika ia memasuki area gerbang masuk, ia sudah menemukan tuan tuan Steve di depan pintu masuk kantor.
"Silahkan masuk, Arabella. Di dalam ada tuan Hans dan beberapa anggota detektif yang akan menjelaskan tentang pembagian kelas ujian detektif ", ujar lelaki itu.
Ketika Arabella memasuki ruangan, yang pertama ia temukan adalah sebuah ruangan mirip tata usaha. Mungkin ini ialah ruangan untuk mengurus administrasi, fikir Arabella.
Ketika baru saja hendak memasuki area pintu selanjutnya, Arabella menemukan tuan Steve dan seorang lelaki bertubuh tinggi berjas hitam yang tak dikenalnya.
"Oh, kau sudah datang Arabella ", sapa tuan Steve.
"Kesini, aku akan memperkenalkan mu dengan teman teman barumu". Lanjut tuan Steve.
Arabella pun mengikuti lelaki itu untuk masuk. Di dalam ruangan itu, Arabella hanya melihat sebuah ruangan yang cukup besar dan ada banyak meja serta kursi, sama persis seperti bangku dan meja sekolah.
Di beberapa kursi, ada 1 orang wanita yang memakai jas hitam, 2 orang wanita berseragam putih, dan 5 orang ( 3 pria, dua wanita ) yang memakai pakaian biasa seperti Arabella.
"Perkenalkan, lelaki ini adalah Chriss, dan wanita berjas hitam itu, ialah Vilia. Mereka berdua adalah detektif disini", ujar tuan Steve. Arabella mengangguk angguk faham.
"Wanita berseragam putih itu ialah psikolog", ujar tuan Steve. Arabella mengangguk, lalu mencoba tersenyum kecil pada kedua wanita itu. Kelihatannya mereka ramah.
"Dan kelima orang yang tidak memakai jas, itu ialah peserta yang baru saja tes detektif. Semoga kau dan mereka semua berteman baik", ujar tuan Steve. Arabella mengangguk kan kepala sekali lagi.
"Tentu, tuan", Arabella tersenyum kecil.
"Baiklah, aku juga ingin.."
Drrtt.. drrtt..
Ucapan tuan Hans terhenti karena terdengar deringan handphone dari sakunya.
Lelaki itu segera mengeluarkan handphone dari saku celananya, dan mengangkat telepon tersebut.
"Halo?", tanya tuan Hans memulai percakapan.
"Tuan, tolong lacak nomor plat motor ini. JT 465 X ", terdengar suara lelaki dari sana.
Karena Arabella sedang berdiri didekat tuan Hans, jadi Arabella bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Baik"