
Sesampainya di mobil putih milik Andrew, Arabella hanya memasang wajah kesal. Ia kesal karena tak bisa mendengarkan lanjutan introgasi tadi karena Andrew datang tiba tiba dan menarik telinganya.
"Siang nanti, kita akan akan pergi makan bersama, kau ingat itu kan?", tanya Andrew memecah keheningan.
"Hm.."
"Kau jangan lupa untuk memakai kasual yang pernah kuberikan padamu", lanjut lelaki itu sambil terus fokus menyetir.
"Hm.."
"Kau mau kita pergi kemana siang ini? Restoran? Taman bunga? Mall?"
"Hm.."
Setelah menjawab ketiga pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, Andrew yang tadinya masih fokus menyetir kini menatap tajam ke arah Arabella.
"Jawab yang benar", ujar lelaki itu yang tampak mulai emosi.
"Hm.. terserah padamu tuan, semua yang kau pilih aku ikuti"
"Kalau ke ranjang?"
Arabella terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Andrew dengan tatapan mata membulat.
"Lihatlah, aku hanya baru mengucapkan tiga kata saja kau sudah terkejut bukan main"
"Tentu saja aku terkejut!", Arabella tanpa sadar menaikkan nada suaranya. Itu pertama kalinya ia berbicara dengan Andrew dengan sedikit membentak.
Tapi untungnya Andrew tidak marah, malah tertawa kecil.
"Baiklah, kembali ke topik. Kita akan kemana nanti siang?", tanya Andrew.
Drrtt.. Drrtt..
Tiba tiba handphone milik Arabella berbunyi. Gadis itu segera mengeluarkan ponsel nya dari sakunya, dan melihat nama Nael disitu.
"Halo?"
__ADS_1
"Arabella, aku minta kau untuk menanyakan tentang clue kedua yang kau temukan semalam pada orang itu langsung. Tanyakan dari mana ia mendapatkan itu, dan semacamnya. Aku harap kau bisa dapatkan informasi lebih banyak", jawab Nael diseberang sana.
"Baiklah, besok saat ke kampus akan aku cari tau", jawab Arabella sambil menutup telepon.
Andrew jelas mendengar dan mengenal suara lelaki yang menelepon Arabella tadi .
"Wah, aku tidak akan bisa tenang seumur hidup jika lelaki itu masih terus menelepon mu setelah kita telah menikah nanti", ujar Andrew tanpa jeda.
Arabella hanya menghela nafas panjang.
*
Ketika sampai di rumah kosnya, Arabella turun dari mobil Andrew. Lelaki itu memberinya sedikit pesan sebelum ia benar benar masuk ke dalam pintu rumahnya.
"Aku akan menunggu mu di depan halte pukul 4 sore"
Arabella mengangguk.
Dan tiba nya pukul 4 sore, Arabella sudah siap dengan pakaian kasual putihnya yang pernah diberikan Andrew. Setelah berpamitan dengan ibunya, ia segera keluar dari rumah kosnya dan segera berjalan menuju halte yang tak jauh dari rumah kosnya.
Sesampainya di halte, matanya menemukan seorang wanita muda berkasual pink duduk di bangku halte seorang diri. Arabella mendekat, dan tanpa melihat wajah wanita itu dengan jelas, Arabella bisa menebak siapa wanita itu.
Wanita berkasual pink itu menoleh.
Dia tersenyum.
Arabella mengerjapkan matanya, tak menyangka kalau Sophia memberikan senyum manis padanya. Sophia tak pernah melakukan itu sebelumnya.
"Lama tak berjumpa denganmu, Arabella", Sophia bangkit berdiri dari duduknya.
Dengan langkah bak model, ia berjalan mendekati Arabella. Setelah tepat berhadapan dengan Arabella, wanita itu melirik Arabella dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau semakin langsing. Perubahan yang bagus", puji Sophia.
Tapi Arabella tidak tau sebenarnya itu ialah pujian atau apa, karena Sophia mengucapkannya dengan wajah datar.
"Terimakasih", Arabella mencoba memasang senyum.
__ADS_1
"Hmm.. kau mau menghampiri seseorang kan? Seorang lelaki?", tebak Sophia dengan tepat.
"Ng.. dari mana kau tau?"
"Tentu saja. Biar ku tebak. Andrew bukan?", tebak Sophia lagi.
"Ng.. iya, benar", Arabella menaikkan sebelah alisnya, "Dari mana kau tau?"
"Kau tau Arabella? Baju yang kau pakai, itu dulunya akan didedikasikan padaku. Aku yang memilih baju itu saat kami berdua berjalan jalan di Paris. Andrew membelikannya untukku, aku yang meminta baju itu agar menjadi salah satu hadiah ulang tahunku di keesokan harinya. Tapi tepat di keesokan harinya, terjadi masalah dengan hubungan kami. Sebab itulah Andrew membatalkan untuk memberikan baju itu padaku", jelas Sophia tanpa jeda.
Arabella cukup kecewa mendengar itu, karena Arabella sempat berfikir kalau baju yang ia pakai ini ialah baju yang dibelikan Andrew khusus untuknya, ternyata ia salah.
"Kau kecewa bukan? Kalau aku jadi kau, tentu aku takkan mau memakai baju itu lagi", lanjut Sophia sambil tersenyum miring.
Arabella menggeleng.
"Aku suka hadiah apapun yang ia berikan. Baju ini sangat indah", ujar Arabella yang membuat senyum Sophia langsung memudar.
"Omong omong, kau tau tentang rahasia Andrew dan tuan Raymond? Kau tau kenapa Andrew lebih memilihmu dari pada aku?", tanya Sophia sedikit mengubah topik.
Arabella mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan bingung.
"Tidak. Memangnya rahasia apa?"
Sophia terkekeh kecil mendengar pertanyaan polos dari Arabella.
"Apa kau tidak berfikir kenapa Andrew bisa tiba tiba menyukaimu? Apa kau tidak ingat bahwa sebelumnya Andrew sangat mencintaiku? Apa kau tak berfikir pasti ada alasan kenapa lelaki itu bisa tiba tiba memilihmu?", tanya Sophia bertubi tubi.
Arabella meneguk saliva. Ia tidak tau apapun. Ia tidak tau apakah Andrew memang menyukainya atau tidak. Yang pasti jika Andrew memang menyukainya, ia akan melanjutkan hubungan nya dengan lelaki itu. Tapi jika lelaki itu nyatanya hanya pura pura menyukainya, tentu Arabella akan memutuskan hubungannya.
"Katakanlah, aku benar benar tidak tau"
"Andrew memilihmu karena kau adalah pilihan tuan Raymond, juga karena Andrew sedang mengejar harta warisan. Kau tau kan? Raymond Darian itu CEO kaya raya terkemuka, dan Andrew, ialah anak satu satunya lelaki itu. Tuan Raymond tak suka jika anaknya itu berhubungan denganku. Kalau Andrew lebih memilihku, tentu ia takkan mendapatkan harta warisan dari lelaki itu. Kau faham?"
Arabella membulatkan matanya. Tapi ia memang tak langsung percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu.
Tapi ketika Sophia mengatakan bahwa Andrew menyukainya secara tiba tiba, Arabella merasa itu memang benar. Lelaki itu seperti menerimanya dengan agak mendadak.
__ADS_1
"Aku... aku akan cari tau tentang itu", ujar Arabella lalu segera berjalan cepat menjauhi Sophia.
"Terserah padamu. Aku sudah memberi tahumu faktanya!", pekik Sophia dari belakang. Tapi Arabella tidak menggubris itu. Ia tetap berjalan berlawanan arah dari tempat Sophia berdiri tadi. Ia tak ingin Sophia melihat dirinya tengah menahan tangis.