
Ketika pulang dari kampus, Nael langsung pergi ke area parkir untuk mengambil mobilnya. Baru saja melaju selama satu menit, tiba tiba ia mendapat telepon dari tuan Steve.
Drrtt... Drrtt..
Nael pun segera mengangkat telepon dari tuan Steve itu.
"Halo?"
"Halo, Nael. Maaf baru mengabarkanmu. Kami telah mengecek nomor plat yang kemarin kau berikan. Nomor plat motor itu palsu", ujar tuan Steve.
Nael langsung mematikan telepon nya.
Rasa kesal mulai melajari dirinya.
"Pembunuh yang menyebalkan", ujarnya yang masih fokus menyetir.
"Tapi sampai kapanpun, aku akan tetap berusaha untuk mendapat kanmu"
*
Ketika Arabella pulang dari kampus, ia segera pergi ke area parkir untuk menemui Andrew. Mobil Lamborghini lelaki itu sudah terparkir disana.
Ketika Arabella sampai ke dalam mobil, ia tidak melihat keberadaan Sophia atau gadis cantik lain di dalam mobil itu. Akhir akhir ini, Arabella melihat Andrew tidak membawa gadis gadis cantik lagi.
Hm.. apa lelaki ini sudah mulai tobat?, gumam Arabella dalam hati.
"Cepat naik", ujar lelaki itu karena melihat Arabella yang hanya diam di depan pintu mobil yang terbuka.
Ketika Arabella masuk ke mobil, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari sisi kirinya. Sebuah pakaian berwarna putih yang dibungkus pelastik tembus pandang.
__ADS_1
"Ini untukmu", ujar Andrew sambil menyodorkan pakaian itu. Arabella menatapnya heran.
"Pakai ini ketika aku mengajakmu makan ke restoran, atau pergi ke suatu acara", lanjut lelaki itu. Arabella mengambil bungkusan cantik itu masih dengan wajah heran.
"Pergi ke restoran? Acara? Acara seperti apa tuan? Acara keluarga tuan Raymond?", tanya Arabella.
Arabella tentu heran, karena setau dia, waktu dia dengan Andrew hanya dua Minggu lagi. Setelah itu, hubungan Arabella dengan keluarga Raymond akan berakhir. Dan otomatis Arabella tentu tak mungkin akan pergi ke pesta keluarga Raymond, atau bahkan untuk sekedar bertemu dengan Andrew.
"Karena mungkin.. mungkin..", Andrew menjeda kalimatnya, dia tampak gugup.
"... Mungkin saja aku berubah fikiran dan menikah denganmu", lanjutnya yang membuat Arabella menaikkan sebelah alisnya.
"Apa anda sungguh sungguh tuan?"
"Tentu saja. Sebab itu lah, kalau aku mengajakmu pergi ke restoran untuk berbincang bincang, jangan menolak. Aku hanya ingin kenal dirimu lebih dekat", ujar Andrew.
"Tapi..", Arabella menjeda kalimatnya, "Apa aku harus lepas dari pekerjaan detektif ku?"
Arabella berani bersumpah bahwa dia tak memiliki rasa terhadap lelaki dingin itu sedikpun. Dia dengan Nael hanyalah sebatas partner detektif.
"Aku akan fikirkan lagi", ujar Arabella pelan.
*
Nael sudah sampai di area kuburan yang ia kunjungi beberapa hari lalu. Di tempat ini lah ia menemukan surat kecil dari lelaki berpakaian serba hitam yang ia duga ialah sang pembunuhan.
Nael sudah mengenakan janggut tebal, kaca mata, topi hitam, dan jaket tebalnya untuk menyamar, mana tau si pembunuh itu masih berkeliaran disini.
Hari ini area kuburan terlihat ramai pengunjung. Nael memarkirkan mobilnya tak jauh dari ujung pasar. Di ujung pasar, ada perempatan kecil. Disitu lah waktu itu Nael mengejar ngejar si lelaki yang memakai ninja hitam itu.
__ADS_1
Ia ke tempat itu untuk melihat lihat CCTV di sana.
Tempat pertama yang Nael kunjungi ialah sebuah kedai kecil penjual vas bunga. Ada sebuah cctv yang terletak di bagian atas kedai, berhadapan langsung dengan jalan raya.
Dia pun meminta izin pada penjual di toko itu untuk melihat cctv. Ketika sudah diizinkan, ia pun meminta rekaman cctv di waktu yang ia tentukan.
Di rekaman CCTV itu, terlihat si motor ninja hitam melaju ke arah kiri. Ke jalan raya. Cuplikan motor ninja hitam yang terlihat disitu hanyalah beberapa detik saja. Setelah itu Nael tak melihat apa apa lagi karena cctv tidak menjangkau sampai ke jalan seterusnya.
"Terimakasih tuan", ujar Nael pada lelaki si penjual vas bunga.
Dia bersyukur, setidaknya ia mendapatkan jejak terakhir lelaki dengan ninja hitam itu.
Saat Nael baru saja hendak kembali ke mobilnya, tiba tiba ada seorang wanita parubaya bertubuh gemuk yang mengejarnya.
"Nael!!", teriak wanita itu sambil melambaikan tangan dari jauh.
Wanita itu ialah seorang wanita yang pernah diintrogasi Nael beberapa tahun lalu, sebab itulah mereka saling kenal.
"Nael, ini.. ada seorang lelaki yang memberi surat ini padaku kemarin. Ia menyuruhku untuk memberikannya padamu", ujar wanita parubaya itu sambil menyodorkan sebuah surat putih bersih.
Nael mengambil surat itu. Surat tersebut masih belum dibuka sama sekali.
"Saya belum membukanya sama sekali, Nael. Tenang saja", ujar wanita parubaya itu sambil tersenyum.
Nael mengangguk.
"Apa anda masih mengingat wajah lelaki yang memberi surat ini, nyonya?", tanya Nael.
"Ng... dia pakai kain penutup wajah Nael, saya tak bisa melihat wajahnya sama sekali.", Jawab wanita parubaya itu yang membuat Nael langsung terfikir satu hal.
__ADS_1
Nael segera membuka nya dengan sekali sobekan, dan membaca kalimat singkat dengan tulisan tegak bersambung disitu.
Kau takkan bisa menangkap ku! Permainan ku belum selesai! Kau lihat saja nanti!