
Arabella terkejut karena tiba tiba mendengar suara dari tuan sistemnya. Apalagi tuan sistemnya berkata aneh seperti itu.
"Tuan Andrew?", tanyanya polos.
"Maksudnya apa tuan sistem?"
[ Itu adalah panggilan dari Andrew Darian. Anda harus menjawabnya ]
Arabella menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu bertanya polos, "Kalau aku menolaknya, kau akan marah atau tidak, tuan?"
[ Tentu saja, nona! ]
"Oh, baiklah baiklah", jawab Arabella buru buru dan segera mengangguk kembali nomor telepon yang ia tolak panggilan nya barusan.
Nomor telepon berdering.
Telepon diangkat.
"Halo?", terdengar suara baraton seorang lelaki dari sana. Tidak terlalu berat sebenarnya, tapi terdengar tegas. Arabella bukannya langsung menjawab, ia malah gelagapan.
"Ng.. h-h-halo? Tuan Andrew Darian?"
"Iya. Oh, akhirnya kau mengangkat telepon ku Arabella! Setelah ratusan kali aku menelepon"
Arabella menyengir kecil, lalu mencoba terkekeh agar lawan bicaranya tidak merasa canggung, walaupun dalam hatinya, ia sangat kebingungan untuk menjawab lelaki itu.
"Ng.. om sedang apa menelepon saya?"
"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan om?"
"Oh, baik tuan. Maaf saya agak lupa, hehe"
Terjadi keheningan lagi antara mereka berdua.
__ADS_1
"Tuan.. Andrew?"
"Oh.. Arabella, aku ingin mengajakmu untuk bertemu. Maksudnya, aku berniat untuk mengenal mu lebih dekat. Kita bisa bertemu di suatu tempat, misalnya restoran, taman bunga, atau apapun. Terserah padamu"
Arabella berpikir sejenak. Ia sendiri tak terlalu mengenal lelaki yang tengah di telepon nya ini. Yang difikirkan oleh otak polosnya itu, Andrew akan menculiknya. Kalau difikir fikir, rasanya tidak ada gunanya Andrew yang merupakan anak seorang CEO paling kaya di kota mereka, akan menculik gadis yang susah mudeng seperti Arabella.
"Ng.. ", Arabella melirik sejenak ke arah ibunya yang masih tertidur di sofa, "Oke, tuan. Saya mau"
Di seberang sana, Andrew tersenyum , "Baiklah. Terimakasih karena telah menerima ajakan ku. Nanti, kita akan bertemu dimana? Kau bisa pilih tempat yang kau suka"
"Ng..", Arabella berfikir sejenak. Butuh satu menit atau bahkan lebih untuk nya berfikir tentang tempat apa yang ia suka. Karena faktanya, Arabella hampir tak pernah keluar rumah. Kalau bukan ke kampus, pasti hanya ke kedai untuk membeli garam.
Dan di saat yang bersamaan..
Ting!
Tiba tiba muncul sebuah notifikasi chat . Arabella segera membukanya, ternyata itu dari Rachel.
Rachel
Rachel
Ada lowongan pekerjaan sebagai juru masak disini. Segera kesini saja
Setelahnya Arabella kembali ke telepon Andrew tadi, "Tapi... Maaf tuan, hari ini.. saya ada pekerjaan penting. Saya tidak jadi pergi, maafkan saya tuan", Arabella sekuat mungkin berusaha membuat nada sedih, meskipun dalam hati dia merasa senang karena bisa terhindar dari ajakan lelaki itu.
"Hm.. baiklah Arabella, mungkin kita bisa bertemu lain kali", ujar Andrew dari seberang sana, lalu lelaki itu mematikan telepon.
Arabella tadinya hendak meminta maaf sekali lagi, tapi lelaki itu tiba tiba mematikan telepon, membuatnya bertanya tanya apakah lelaki itu ngambek padanya atau tidak.
*
Arabella baru saja sampai di sebuah restoran cukup mewah bernama Paradise. Restoran inilah yang di katakan Rachel bahwa terdapat lowongan pekerjaan disitu.
__ADS_1
Ya, sejak pertemuannya dengan Andrew di restoran tempat biasa ia bekerja, Arabella merasa khawatir. Ia khawatir kalau berjumpa terus terusan dengan lelaki itu. Meskipun tuan sistemnya suruh dirinya untuk mendekati lelaki itu, meskipun rasa takutnya terhadap lelaki itu sudah berkurang ( karena Andrew sudah memangkas seluruh kumis dan jenggotnya) , tapi ia masih khawatir jika orang-orang akan menanyakan hubungan mereka.
Jadi sebab itulah Arabella berniat untuk pindah bekerja ke restoran lain. Beruntung sekali ia dan temannya, Rachel, dengan cepat menemukan restoran baru yang membutuhkan lowongan pekerjaan.
"Apa yang membuatmu berfikir untuk pindah tiba tiba, Arabella?", tanya Rachel saat mereka berdua mendapatkan sebuah meja kosong di area pelanggan.
"Ng.. itu.. aku takut om om yang waktu itu datang ke restoran kita, akan bertemu lagi denganku", jawab Arabella jujur.
Rachel malah menahan tawanya, "Ah, kau ini berbicara seakan akan kau sedang dikejar kejar olehnya"
Tapi memang iya kan aku dikejar kejar olehnya?
Menurut firasat Arabella, memang seperti itu. Kalau bukan karena ingin mendekati Arabella, kenapa lelaki itu mengajaknya untuk bertemu agar bisa lebih dekat? Selain itu, anak CEO itu juga memberikan nomor telepon nya kepada Arabella secara cuma cuma. Itu artinya lelaki itu memang ingin mendekati Arabella kan?
Tapi Arabella yang lugu nan polos itu masih tidak peka kenapa lelaki itu berusaha mendekati nya. Yang fikirkannya, lelaki itu berusaha mendekatinya karena ingin menculik nya.
"Ng.. tapi itu memang benar, Rachel. Om om itu mulai sering datang ke restoran untuk.."
Ting!
Arabella menghentikan kalimatnya ketika mendengar suara notifikasi dari ponselnya yang ia letakkan di atas meja didepannya. Ia segera membuka chat nya itu. Dahinya berkerut karena melihat sebuah chat dari sebuah nomor yang sebelumnya tak pernah ia buka chatnya.
Om tidak Dikenal
Arabella, kau dimana saat ini? Apa pekerjaan mu itu membutuhkan waktu yang lama? Maksudku, setelah pekerjaan mu selesai, kita bisa pergi makan bersama.
Arabella menggaruk kepalanya bingung, "Hm.. ", ia bergumam seorang diri, wajahnya tampak benar benar bingung.
"Ini.. siapa ya?"
Ia mencoba mengingat ingat siapa sosok 'Om Tidak Dikenal' itu. Arabella memang seperti itu, selain polos, ia juga sering pelupa bagaikan orang yang terkena amnesia.
"Abaikan saja lah", ujarnya pada akhirnya lalu mematikan ponselnya.
__ADS_1