
Arabella baru saja keluar dari pintu restoran. Ia melirik ke arah jam tangannya. Pukul 5 sore. Ia sudah selesai dengan pekerjaan nya. Untuk bagian malam tugasnya akan diganti dengan pelayan lain. Saat ini ia tengah menunggu temannya sambil duduk di sebuah kursi yang ada didepan pintu restoran.
Tak lama kemudian, Rachel tampak keluar dari pintu itu. Setelah bertemu dengan mata Arabella, gadis itu memasang wajah intens dan melipat tangannya didepan dada, "Bagaimana tuan Andrew Darian bisa sangat mengenalmu, ya?"
Arabella mengerutkan keningnya tidak mengerti, "Maksudnya? Lelaki berjas tadi? Sangat mengenaliku?", tanya Arabella polos.
"Iya. Bagaimana bisa lelaki itu bisa tampak sangat mengenalimu? Tadi kau lihat sendiri kan Arabella, lelaki itu berjalan dan meminta maaf padamu seakan akan kau adalah teman dekatnya. Hm..", Rachel bergumam di akhir kalimatnya.
"Eh? Benarkah? Tapi yang aku lihat lelaki itu seperti ayah yang tengah meminta maaf pada anaknya", ujar Arabella polos.
Rachel menepuk jidat, "Kau melihat dari sisi mana, Arabella? Lelaki itu seakan tidak menganggap mu sebagai pelayan resto, ia memandangmu seperti kau adalah temannya, atau bahkan pacarnya. Buktinya saja tadi dia menyebut namamu saat minta maaf, bukannya menggunakan 'Nona' yang biasanya digunakan pelanggan untuk memanggil pelayan resto", jelas Rachel agak panjang.
Tapi semakin panjang yang dijelaskan, Arabella semakin tidak mengerti.
Rachel mendekat ke arahnya, lalu memandang intens ke arah wajahnya. Arabella mengerutkan dahinya heran, "Ada apa Rachel? Apa di wajahku ada kotor kotor?"
Rachel menepuk jidat lagi, "Aku sedang meneliti wajahmu Arabella, meneliti apa kah kau berbohong atau tidak"
"Eh? Berbohong tentang apa?"
Rachel melipat tangannya didepan dada, "Sebenarnya apa hubungan mu dengan Andrew Darian itu? Kau tau kan, Arabella? Dia itu pewaris CEO terkaya di kota ini. Tak mungkin dia bisa dekat denganmu tanpa suatu alasan"
Arabella menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan susah payah ia mencoba mencerna kalimat yang diucapkan temannya itu barusan.
"Hm.. sepertinya perempuan cantik tadi pacarnya om tadi deh", ujar Arabella tiba tiba.
Rachel menaikkan sebelah alisnya, "Aku tak peduli dengan yang satu itu. Yang ingin kutanyakan adalah hubungan mu dengan tuan Andrew"
"Eh.. aku tak ada hubungan apa apa kok dengan lelaki itu. Aku malah takut dengan nya, tau!", ujar Arabella kesal.
__ADS_1
Rachel tau kalau Arabella sebenarnya berucap jujur, terlihat dari raut wajah gadis itu. Tapi yang diherankannya adalah, kenapa Arabella takut dengan lelaki itu? Padahal lelaki itu tak berbuat kesalahan apapun.
"Hm.. baiklah", Rachel duduk di kursi yang bersebrangan dengan Arabella, "Omong omong, tadi kumis dan janggut tuan Andrew tidak ada. Mulus. Apa kau menyadarinya? Terakhir kali kita menjumpai dia kan dia berjanggut tebal", lanjut Rachel.
Arabella mengingat ingat sejenak wajah lelaki yang disebut gadis itu. Arabella sebenarnya sangat menyadari perubahan itu. Malah ketika lelaki itu masuk ke dalam restoran, hilangnya janggut dan kumis pada wajahnya itulah yang pertama kali dipertanyakan Arabella.
"Oh.. benar, aku ingat. Janggut nya tidak ada lagi. Lari kemana ya? Apa selama ini ia pakai janggut palsu, dan janggut palsu itu jatuh di jalan?"
"Arabella, itu adalah janggut dan kumis asli, mana mungkin jatuh di jalan", potong Rachel dengan raut wajah kesal.
"Lelaki itu pasti mencukurnya. Aku jadi penasaran apa yang membuatnya tiba tiba mencukur janggut dan kumisnya sampai sebersih itu", lanjut Rachel sambil tersenyum senyum sendiri.
"Mungkin karena dia capek aku panggil om", jawab Arabella polos.
"Hah? Ahahahah! Aku rasa itu ada benarnya. Omong omong, tuan Andrew tadi tampak sangat tampan kan, tanpa janggut?", tanya Rachel. Gadis itu masih tersenyum senyum.
"Wajah sesempurna itu masih kau katakan lumayan? Arabella, aku rasa kau perlu memeriksa matamu", ujar Rachel, "Dan aku rasa.. lebih baik kau mencari cinta dari lelaki seperti itu daripada harus mengejar lelaki sombong menyebalkan seperti Richard "
"Eh? Aku tak menyukai kak Richard lagi tau!", ujar Arabella kesal. Rachel sudah mengungkit dua kali tentang lelaki itu, padahal Arabella sudah mengatakan bahwa ia tak pernah memikirkan lelaki itu, terlebih lagi sejak kemunculan Queen System.
"Baiklah, baiklah, ayo kita pulang!", ajak Rachel sambil mengangkut tas nya, dan berjalan pergi.
"Iyaaa..", Arabella pun bangkit berdiri dan mengekori temannya itu berjalan menuju arah terbenam matahari.
*
Sesampainya di mansion raksasa miliknya, Andrew merebahkan dirinya di atas sofa yang pertama kali ia lihat setelah membuka pintu masuk.
Tak lama kemudian, Handry, asisten pribadi nya itu datang membawakan koper miliknya dari dalam mobil.
__ADS_1
"Disini saja", ujar Andrew sambil memberi kode agar Handry menaruh koper tersebut didekat kakinya.
Handry segera menaruh koper itu di sebelah kaki bosnya, "Ada lagi tuan?"
"Hm.. Handry, sebenarnya aku ingin curhat denganmu", ujar Andrew dengan jujur.
Apa lagi yang digalaukan tuanku ini?, tanya Handry dalam hatinya.
"Silahkan saja, tuan. Saya akan selalu mendengarkan"
Andrew menghela nafas panjang, "Aku telah mencukur kumis dan janggutku sampai habis..", Andrew mengelus dagu mulusnya dengan pelan, "Aku juga telah mengubah style rambutku seperti Zayn Malik ", lanjutnya sambil mengelus rambutnya yang cepak.
Sementara Handry, ia berusaha sekuat mungkin menahan tawa.
Astaga, Handry, tolong jangan tertawa, tahan.. tahan.., ujar Handry dalam hatinya, pelan pelan ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya supaya tidak keceplosan tertawa.
"Tapi kenapa gadis itu masih tidak tertarik padaku? Dia bahkan tidak melirikku atau memandangku", lanjut Andrew dengan raut wajah kebingungan.
Handry berfikir sejenak. Ia tau gadis yang dimaksud bos nya itu adalah Arabella. Mereka berdua sudah berusaha mencari cari berbagai cara untuk membuat gadis lugu itu tertarik, tapi tetap saja gadis itu tidak tertarik, entah kenapa. Handry pun jadi bingung dibuatnya. Tipe lelaki yang disukai gadis itu seakan tidak bisa ditebak oleh mereka berdua.
"Hm.. aku rasa kau perlu melakukan pendekatan secara langsung tuan, jadi ia bisa mengenalmu lebih dekat", usul Handry.
"Oh, percayalah, wanita itu bahkan merinding ketika melihat ku"
Handry lalu berfikir lagi, "Omong omong tuan, kalau anda sedang jatuh cinta pada seorang wanita, kenapa tidak memberitahu kepada tuan Raymond saja? Jadi ia bisa memberi saran, atau sesuatu untuk membantu anda, jika anda benar benar ingin serius mendekati wanita itu "
Andrew merasa perlu waktu lebih lama untuk melakukan itu, karena ia merasa bahwa orang tuanya, terutama ayahnya, akan sulit menerima wanita dari keluarga yang bukan pejabat. Tapi ayahnya memang tak pernah mengatakan itu, itu hanya analisisnya saja, contohnya Sophia yang terang terangan ditolak oleh lelaki parubaya itu karena bukan dari keluarga pejabat.
"Hm... mungkin lain kali"
__ADS_1