
"Vano diduga tewas bukan karena tabrak lari biasa", Nael menjeda sejenak.
"Dia dibunuh"
Arabella membulatkan matanya. Jantungnya mulai berdetak cepat.
"M-maksudmu.. ia memang sengaja di tabrak?", tanya Arabella dengan sedikit gemetar. Nael mengangguk.
"Nanti saja ceritanya. Aku boleh menumpang ke keretamu? Kau mau ke rumah lelaki itu kan?"
"Eh..Ng.. tapi ada teman temanku disitu", jawab Arabella cepat.
Nael terdiam sesaat.
"Aku rasa aku tak punya pilihan lain, aku sedang tidak bawa janggut palsuku. Aku akan bilang pada mereka bahwa aku anak salah seorang polisi di kantor polisi utama", ujar Nael.
Arabella mengangguk angguk kan kepala.
"Baiklah, aku jalan kaki saja", ujar Nael, kemudian lelaki itu berlari dengan cepat.
Arabella pun menyusulnya dengan motornya, karena saat ini Arabella memang ingin kembali ke rumah Vino.
Sesampainya di rumah Vino, Nael mengetuk pintu.
Ketika pintu terbuka, tampaklah Vino, Angel, Rachel dan Feny yang langsung menatap Nael dengan alis bertaut.
"Apakah anda atas nama Vino O'Brien, saudara dari Vano O'Brien?", tanya Nael pada Vino.
Vino terdiam sejenak sambil menatap lurus ke arah Nael.
__ADS_1
Begitu juga dengan Angel, Feny, dan Rachel, yang masih terbengong menatap ke arah lelaki itu.
"Anda ini.. Nael bukan? Sekampus saya kan? Kak Nael detektif?", Vino malah menanyakan hal lain.
"Bukan, hm.. iya, saya mahasiswa Columbia university. Tapi saya bukan detek.."
"Wahh.. Nael? Kau pasti detektif kan?!", tiba tiba Angel bertanya dengan sangat bersemangat. Nael langsung menggeleng cepat.
"Sudah saya katakan saya bukan detetif, saya.."
Kata kata Nael terhenti ketika melihat Arabella dengan sebuah motor matic baru saja memasuki gerbang rumah.
Setelah turun dari motor , Arabella berjalan masuk ke dalam rumah Vino pura pura tak mengenal Nael.
"Arabella... kenapa tadi kau tidak kesini dengan Nael saja? Kasian kan Nael harus jalan kaki dari ujung sana", ujar Angel tiba tiba.
Arabella hanya memasang senyum kecil padanya, lalu masuk ke dapur.
"Oh! Nael silahkan masuk! Omong omong, kau benar detektif bukan? Seandainya kau benar benar detektif, uh, pasti aku akan menjadi fans terberatmu. Sedangkan kalau kau bukan detektif pun aku tetap menjadi fans beratmu, hihi", Angel melanjutkan perkataannya dan diakhiri dengan tawa kecil.
Rachel segera menyikut lengannya.
"Kau ini", bisik Rachel dengan raut wajah kesal.
Nael tidak menghiraukan mereka berdua.
"Maaf, anda belum menjawab pertanyaan saya. Apakah anda Vino O'Brien?", tanya Nael pada Vino.
"Iya, itu saya"
__ADS_1
"Saya diminta untuk membawa tas ransel milik Tuan Vano yang sempat dibawa pulang oleh orang tua korban saat pihak kepolisian hendak melakukan autopsi", ujar Nael. Vino terlihat berfikir sebentar lalu segera masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Vino datang dengan membawa sebuah ransel hitam .
"Ini tasnya. Tapi.. kenapa bukan pihak kepolisian atau detektif kepolisian yang membawanya? Kak Nael bilang kakak bukan detektif kan? Kenapa harus kakak yang membawa nya kesana?", tanya Vino bertubi-tubi.
"Saya anak dari salah satu polisi disana, saya sering jadi asisten disana. Oh iya, kalau anda mau ikut dengan saya, silahkan saja. Kalau anda mau menyerahkan tas itu sendiri, juga tidak masalah. Intinya, pihak kepolisian membutuhkan tas itu secepatnya", jawab Nael agak panjang.
"Baiklah, kakak saja yang memberikannya, soalnya kami mau nobar", ujar Vino santai lalu memberikan tas itu pada Nael.
"Terimakasih", ujar Nael lalu segera pergi dari sana.
Arabella mengintip dari balik dinding. Ia tadinya ingin menanyakan tentang clue baru yang ia temukan didepan teras Vino tadi pada Nael. Ia yakin itu ialah surat dari si pembunuh. Kalau bocah atau orang usil di sekitar sini yang melakukan nya, rasanya tidak mungkin.
Tapi ia mengurungkan niatnya itu karena Nael terlihat terburu buru.
"Ya sudahlah, kalian jangan memikirkan hal itu, biar pihak kepolisian yang menyelesaikan nya", ujar Vino pada Angel, Feny, dan Rachel, karena mereka tadi terlihat serius sekali menatapi kepergian Nael.
"Ayo kita nonton bersama lagi", ujar Vino semangat. Angel, Feny, dan Rachel segera mengikutinya ke ruang tv.
"Eh, tapi aku penasaran kenapa tadi Arabella terlihat terburu buru", ujar Vino sambil berbalik ke belakang.
Angel, Feny dan Rachel refleks mengikuti pandangan Vino yang tertuju ke Arabella.
"Eh? Aku? Aku tadi cuma hanya ingin... mencari uangku yang hilang, makanya aku terburu buru, hehe", ujar Arabella.
"Sungguh? Jumlahnya berapa?", tanya Angel.
"Hanya 1 dollar ( 14 ribu rupiah ), kalian tidak perlu khawatir", jawab Arabella sambil memasang senyum.
__ADS_1
"Oh, baiklah", ujar Vino lalu kembali berjalan menuju ruang tv. Angel, Feny, dan Rachel mengikutinya dari belakang.
Sementara Arabella, ia diam diam mengeluarkan kertas bercak darah yang ia temukan di teras tadi, berfikir keras tentang maksud dari tulisan tulisan itu.