
Malam pukul 9.
Arabella sedang menyusun sheet mask yang baru dibelinya tadi sore ke dalam sebuah rak kecil.
Selain itu, dia juga menyusun berbagai skincare yang berantakan. Hm.. sebenarnya skincare atau krim pencerah wajah milik Arabella tidak banyak, hanya sheet mask nya yang banyak. Karena setahu dia kalau sering berganti skincare justru bisa menimbulkan jerawat.
Seusai memakai sheet mask, ia mengambil buku novel detektif di rak bukunya, lalu duduk di atas tempat tidur untuk mulai membaca.
[ Ding! ]
Tiba tiba terdengar suara notifikasi dari Queen System.
[ Selamat nona! Anda mendapatkan hadiah sebesar 200 dollar ( Rp. 2.873.350 ) dari kami ]
Arabella langsung tersenyum senang.
"Apa itu karena aku membeli 10 sheet mask ini?", tanya Arabella.
[ Iya nona ]
"Terimakasih sekali!", ujar Arabella senang. Tapi kemudian ia terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
"Omong omong, sebenarnya bagaimana sosok dirimu? Aku jadi penasaran. Kau laki laki kan?", tanya Arabella seorang diri.
Satu detik.. dua detik.. tak ada jawaban dari tuan sistem.
"Ah, sudahlah, aku mau baca buku saja", ujar Arabella lalu kembali melanjutkan baca bukunya.
*
Disisi lain, Andrew baru saja pulang dari rumah sakit tadi. Setelah ayahnya datang kesana dan menegurnya, ia membatalkan rencana makan siangnya dengan perawat cantik tadi.
Jadi setelah pulang dari rumah sakit itu saat malam hari, Andrew segera pergi ke rumah kediaman Sophia.
__ADS_1
Yeah, laki laki itu memang tidak tahan jika tidak ditemani wanita cantik satu hari saja.
Ketika sampai di depan rumah Sophia, lelaki itu langsung disambut hangat oleh wanita cantik dengan dress soft pink yang baru keluar dari pintu rumah.
"Oh, hai Andrew sayang", ujar Sophia senang.
"Iya, hai juga", balas Andrew dengan senyum.
"Kau.. mau menginap disini kah? Kalau iya, aku akan sangat senang sekali!", ujar Sophia. Andrew menggeleng.
"Sebenarnya bukan menginap. Aku.. hanya sedang butuh teman cerita", jawab lelaki itu. Lalu ketika Sophia menarik lengannya untuk masuk, ia pun mengikutinya.
Setelah duduk santai di ruang tamu, Sophia kebali membuka percakapan dengan lelaki itu.
"Andrew sayang, kapan kau akan menginap di rumahku?", tanya Sophia dengan wajah cemberut.
"Hm.. tidak, tidak"
Andrew menaikkan sebelah alisnya. Walaupun dia playboy sejati, tapi nyatanya dirinya masih perjaka. Dia tak pernah berhubungan intim dengan wanita manapun. Jangankan berhubungan intim, berciuman saja dia juga tidak pernah. Andrew jamin bibirnya masih suci.
Tapi ajakan Sophia barusan membuat otaknya berkontraksi. Otaknya mulai kacau.
Ia menundukkan pandangannya dari Sophia, lalu kemudian megelus elus kepalanya sendiri.
"Tidak, tidak, aku akan merasakannya setelah menikah saja", gumam Andrew seorang diri. Tapi nampaknya gumaman itu terdengar oleh Sophia karena di rumah itu memang sedang kosong.
"Kalau begitu kau menikah denganku saja", ujar Sophia sambil memasang senyum lebar.
Andrew berfikir sejenak.
Walaupun ia playboy, tapi tentunya ia akan mencari istri yang baik sifatnya. Jujur saja, Andrew tentunya tidak mau kalau menikah dengan seorang wanita yang suka berkeliaran dengan pria, walaupun dia sendiri suka berkeliaran dengan wanita.
Yeah, memang egois.
__ADS_1
"Hm.. nanti aku fikirkan", ujar nya.
"Omong omong, ayahku bilang aku harus mengajak Arabella makan bersama, atau berbincang bincang hangat. Aku rasa aku terpaksa melakukan nya, karena aku yakin nanti ayahku akan menanyakan hal itu pada Arabella ", lanjut Andrew yang membuat Sophia mengerutkan dahi.
"Benarkah? Astaga, padahal tinggal satu bulan lagi waktu mu untuk mengantar dan menjemput gadis itu kan? Setelah itu perjodohan mu dengan Arabella batal kan? Kenapa tuan Raymond harus repot repot mendekatkan mu lagi dengan Arabella?", tanya Sophia dengan nada kesal.
"Hm.. kalau seandainya itu aku lakukan, apa kau akan marah padaku?", tanya Andrew.
"Sejujurnya aku marah. Tapi ya sudahlah, demi membuat ayahmu percaya bahwa kau sudah berusaha mendekati gadis kampung itu.", jawab Sophia sambil melipat tangannya didepan dada.
Andrew mengangguk. Ia tengah berfikir sejenak bagaimana nanti yang akan terjadi jika ia akan makan bersama dengan gadis yang disebut Sophia 'gadis kampung' itu.
"Andrew", panggil Sophia, memecah lamunan lelaki itu, "Kau janji kan.. setelah satu bulan ini, kalian berdua akan pisah? Itu perjanjian nya kan?", tanya Sophia.
Andrew mengangguk.
Ayahnya memberinya waktu lima bulan untuk mengantar dan menjemput Arabella ke kampus setiap hari. Itu perjanjian nya. Hal itu juga bertujuan untuk mendekatkan Andrew dengan Arabella, karena saat pertama kali dilakukan perjodohan, Andrew langsung menolak gadis itu.
Selama empat bulan waktu yang diberikan tuan Raymond untuk Andrew agar mendekati Arabella, tidak digunakan lelaki itu dengan baik sama sekali. Ia benar benar tidak pernah 'berbincang bincang' dengan gadis itu. Semuanya ia biarkan lewat begitu saja.
"Kecuali..", Andrew menjeda kalimatnya, membuat Sophia menoleh.
"Kecuali jika aku berubah fikiran"
**Maaf baru muncul lagi🤧**
**Tiga hari berturut-turut saya revisi bab 1 sampai 50. Jadi dari bab awal sampai 50 ada yang berubah, soalnya alurnya dipercepat juga. Terimakasih🙏🏻😁**
__ADS_1