Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Kecerobohan


__ADS_3

Tepat saat waktu istirahat tiba Arabella segera keluar kelas dan berjalan menuju area tempat olahraga. Dia teringat dengan permintaan naik yang menyuruhnya untuk mengurangi bobot badannya. Selain itu, mempercantik diri juga menjadi misi dari tuan sistem kan? Tidak ada salahnya Arabella mungkin mencoba coba olahraga berat untuk menguruskan badannya.


Kali ini ia tidak bisa Rachel untuk menemaninya karena gadis itu memang tidak hadir hari ini. Tanpa berjalan dengan gadis itu, rasanya Arabella sedikit hampa, karena ia tak punya teman bicara yang lain. Ia berjalan orang diri ke ruang olahraga dengan langkah linglung.


Sesampainya di depan pintu ruangan olahraga yang terbuka, Arabella terhenti sejenak sambil melihat orang-orang lalu-lalang di dalam sana.


"Ramai sekali", gumamnya.


Ia lalu berjalan masuk dengan mata yang memutar ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan terbagi bagi menjadi beberapa bagian, ada ruangan khusus untuk olahraga berat, ada ruangan khusus untuk olahraga ringan.


Arabella berjalan memasuki area ruangan olahraga berat. Kebanyakan lelaki di tempat itu. Para lelaki terlihat tampak sibuk menggunakan barbel hingga menampakkan otot otot mereka, melakukan push up dengan tanpa atasan, dan melakukan sit up juga tanpa atasan. Entah para lelaki itu sengaja membuka baju untuk memamerkan otot otot perut mereka atau karena kepanasan, Arabella tidak tau.


Ia hanya memilih untuk mencoba coba alat olahraga yang ada didekat para wanita. Ada beberapa orang wanita yang membentuk kelompok tak jauh dari tempat para lelaki tadi berada. Mereka juga tengah berolahraga dengan barbel.


Arabella mencoba mengambil salah satu barbel. Dengan berat 20 kilogram.


"Argh.. berat sekali!", ujarnya lalu melepaskan barbel itu.


Setelah meletakkan kembali barbel seberat 20 kg tadi ke tempat asalnya, Arabella kembali berkeliling ruangan untuk mencari bahan lain yang bisa ia gunakan untuk berolahraga.


Tapi matanya malah fokus ke sosok anak kecil yang tengah bermain hulahup. Sepertinya anak kecil itu adalah anak salah seorang dosen, ia dibiarkan bermain di area olahraga ringan.


Dahi Arabella mengernyit memikirkan sesuatu. Ia lalu bertanya pada seorang wanita yang tengah sibuk mengangkat barbel didekatnya, "Kak, kalau bermain hulahup bisa membuat kurus tidak, ya?"


Wanita yang tengah mengangkat barbel itu ikut menoleh ke arah anak kecil yang tengah dilihat Arabella, "Wah.. sepertinya kurang berpengaruh untuk mengurangi bobot badan. Memangnya kamu ingin mencari olahraga untuk menguruskan badan ya?"


"Iya kak, hihi", Arabella menyengir hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


"Biar apa?"


"Biar cantik, kak"


"Kau tak perlu kurus untuk jadi cantik"


"Eh?", Arabella menoleh ke arah belakangnya. Tiba tiba ada Richard disitu. "Eh? Kak Richard? Mengangetkan saja"


Richard tidak menjawab, ia tampak serius menatap ke arah gadis yang ada didepannya. "Kau berniat untuk menjadi kurus?"


"Tentu saja kak!", jawab Arabella tampak senang hati.


Richard memutar bola matanya malas. Saat gadis itu malah menatapnya bingung, Richard memasang wajah serius, "Apa itu karena kau ingin mendekati lelaki lain?"

__ADS_1


Eh? Dari mana kak Richard tau?, gumam Arabella dalam hati nya.


"Ng.. tidak kok kak, jangan sembarang menuduh. Aku ingin menjadi kurus, karena.. aku ingin menjadi kurus!"


Richard mengangguk angguk kan kepalanya, "Oh, lalu, apa hubungan mu dengan Nael?"


Arabella mengerutkan dahinya, "Maksud kakak? Aku tak punya hubungan apa apa dengannya"


Richard melipat kedua tangan didepan dada sambil menyenderkan bahunya ke dinding, "Dan bagaimana tentang dirimu yang menembak lelaki yang berbeda setiap harinya? Apa itu benar?"


Arabella membulatkan matanya, satu rahasia nya terbongkar.


Eh? Siapa pula yang memberi tahu kak Richard tentang itu?, tanya Arabella dalam hati dengan panik.


"Eh? Siapa yang memberi tahu kakak?"


"Temanmu itu, Rachel"


"Eh? Sungguh, kak?", tanya Arabella. Richard tak menjawab, ia hanya memberi tatapan datar.


"Eh, omong omong kak, itu sudah lama tidak aku lakukan kak, aku bukan bad girl lagi", ujar Arabella polos dan jujur.


"Baguslah. Sekarang jawab pertanyaan ku yang pertama. Apa hubungan mu dengan Nael?"


"Jawab saja pertanyaan ku"


"Ng.. tidak ada sungg-"


"Lelaki itu paling malas berbicara dan berdekatan dengan makhluk yang bernama wanita. Dia tidak pernah berteman dengan perempuan sejak SMP. Jadi suatu keanehan jika lelaki itu mau memberikan nomornya secara cuma cuma padamu ", potong Richard.


Arabella mengernyitkan dahinya mendengar ucapan lelaki itu, "Kalau kak Nael malas berbicara dengan perempuan, lantas nanti dia menikah dengan siapa kak?"


"Entahlah"


"Ng.. dan kalau misalnya kak Nael punya istri dan anak perempuan bagaimana, kak? Apa mereka akan pakai bahasa isyarat?", tanya Arabella polos.


"Jawab saja pertanyaan ku yang pertama"


"Ih, kak Richard bertanya tanya terus. Sudah aku jawab, kami tak punya hubungan apa apa tau!", Arabella memasang wajah kecut, lalu gadis itu pergi keluar dari sana dengan raut wajah kesal.


Setelah keluar dari pintu ruangan olahraga, Arabella menoleh kebelakang sejenak. Richard tidak mengejarnya. Arabella kemudian berfikir, kenapa Richard tiba tiba ingin tahu hubungan nya dengan lelaki lain. Kenapa lelaki itu tiba tiba sangat ingin tau?

__ADS_1


Aneh aneh saja kak Richard, kena sawan apa dia tadi?, tanya Arabella dalam hatinya.


*


Tepat ketika pulang kampus tiba, Arabella segera pergi menuju restoran  yang akan menjadi tempat barunya untuk bekerja. Seperti dengan yang telah dijanjikan bersama Rachel semalam , Arabella akan menjadi penyaji makanan, dan Rachel akan menjadi koki masak.


Sesampainya di pintu masuk restoran itu, Arabella cukup dikagetkan oleh Rachel yang menyambutnya.


"Eh? Rachel? Tadi pagi kau tak datang ke kampus dengan alasan demam. Aku fikir kau takkan pergi kesini", ujar Arabella.


Rachel terkekeh kecil, "Tentu saja aku semangat datang kesini. Ada koki tampan yang satu dapur denganku"


Arabella menepuk jidat, "Wah.. sekarang kau lebih fakgirl dariku, Rachel"


"Ahahah..", Rachel tertawa pecah mendengar ucapan Arabella saat mengucapkan kata bahasa Inggris itu dengan nada lokal.


"Halo, nona nona", tiba tiba seorang pelayan restoran muncul. Arabella dan temannya itu menoleh.


"Kalian sudah di panggil untuk mulai bekerja", lanjut lelaki pelayan itu.


"Oh, baiklah. Ayo, Rachel!"


Keduanya pun pergi memasuki dapur. Di area dapur ada banyak orang yang tengah melakukan bermacam macam pekerjaan. Area untuk memasak memang diberi jarak yang cukup jauh dengan area khusus tempat makanan yang baru dimasak akan disajikan.


Rachel melihat lihat ke sekeliling, "Apa yang harus kumulai?", tanyanya.


"Ada sebuah pesanan minuman, nona. Segelas ice capuccino di meja nomor 04", jawab si pelayan lelaki tadi.


Rachel mengangguk angguk faham, "Baiklah"


"Nanti aku yang akan menyajikannya kan?", tanya Arabella.


"Iya, tentu saja"


Rachel kemudian segera melakukan pekerjaan nya, dituntun oleh beberapa penyaji makanan yang sudah ahli. Setelah pesanan minuman itu selesai dibuat, Rachel langsung memberikannya pada Arabella dengan membawa nampan.


Arabella pun segera keluar membawa minuman itu ke meja yang dituju, meja 04. Arabella bisa melihat nomor meja itu dari kejauhan. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang wanita cantik berambut cokelat panjang duduk seorang diri disitu. Ia mengingat wanita itu. Wanita itu adalah wanita yang tak sengaja menabraknya saat hendak masuk pintu bis. Tapi anehnya walaupun tak sengaja, wanita itu bahkan tidak meminta maaf.


Arabella berjalan mendekat. Dilihat dari pakaiannya, wanita itu tentunya tampak seperti orang kaya raya. Walaupun Arabella agak segan, dan merasa kalau wanita itu kemungkinan mengingat dirinya, Arabella tetap berjalan mendekat.


Hingga ketika tepat didekat meja..

__ADS_1


Bruk!


"Ah..!"


__ADS_2