
"Ah..!", Arabella terkejut karena gelas yang dipegangnya jatuh ke lantai.
Crak!
Semua kopi yang ada didalam gelas tadi pun berceceran di lantai, juga sampai mengenai meja dan tas mewah wanita itu yang memang diletakkan di bawah kaki.
Wanita tadi lantas menatap Arabella dengan raut wajah emosi, nampaknya sedang bersiap siap untuk memarahi Arabella.
Arabella menjatuhkan itu bukan tanpa sebab. Tadi ada salah seorang pelanggan yang menabraknya dengan keras dari belakang.
"Kau! Kau menumpahkan kopi ke tasku! Juga bajuku!", pekik wanita itu sambil berdiri bangkit dari tempat duduknya.
Saat Arabella sedang kebingungan, seorang pelayan lelaki datang mendekat, "Maaf nona. Tadi ia tak sengaja, karena ada pelanggan yang menabraknya. Pelanggan itu berlari keluar dari restoran dengan terburu buru karena makan tanpa membayar"
Raut wajah wanita itu masih marah, "Aku tak peduli. Dia sudah menjatuhkan kopi ke tas ku! Kalian tau? Tas ku ini aku beli dari Prancis dengan harga yang sangat mahal. Bahkan termasuk salah satu merk paling mahal di dunia!"
Arabella semakin kebingungan dengan keadaan itu. Ia menelan salivanya takut ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan wanita rambut coklat panjang itu.
"Baiklah, nona, apa yang harus kami lakukan untuk tas anda?", tanya si pelayan lelaki yang tadi berdiri di dekat Arabella.
Wanita berambut coklat panjang itu masih memasang raut wajah marah, wajahnya juga mulai memerah, nampaknya ia memang semarah itu, "Aku mau kalian mengganti tas ku! Ganti dengan yang asli"
Arabella meneguk salivanya. Ia tentu tidak mampu mengganti tas itu. Meskipun harganya belum disebutkan, ia tentu tau kalau harganya akan melebihi jangkauannya.
Tak lama kemudian, beberapa orang dari dapur, termasuk Rachel, datang tergopoh gopoh dan menghampiri Arabella dengan wajah kebingungan.
"M-menggantinya, nona?", tanya si pelayan terbata.
"Iya, tentu saja"
Otak Arabella serasa memanas. Ini pertama kalinya ia merasa otaknya panas bukan disebabkan oleh pelajaran matematika.
Disaat si pelayan juga ikut kebingungan, Arabella mencoba untuk berbicara dengan lembut, "M-maaf, nona. Apa tidak ada cara yang lain? Saya.. tentu tidak mampu mengganti tas anda."
"Aku tidak peduli! Masalah kemiskinan kalian, masalah uang kalian, itu urusan kalian! Kalian tetap harus mengganti tasku!", suara wanita itu malah semakin meninggi.
Orang orang di sekitar memandangi mereka, mereka menjadi bahan tontonan sekarang. Tak lama kemudian, beberapa pelayan lain juga ketua koki datang menghampiri.
"Astaga.. ada apa ini berisik berisik?", tanya si ketua koki.
Semuanya menoleh, tapi gadis cantik berambut cokelat panjang tadi langsung angkat suara, "Lihat, nyonya, gadis ini menumpahkan kopi yang dibawanya ke tasku"
Arabella hanya bisa diam ketika si ketua koki menoleh ke arahnya dengan tatapan yang seakan hendak menerkamnya, "Arabella.. kau - "
__ADS_1
Krieekk..
Semuanya terdiam ketika pintu restoran dibuka. Seorang lelaki tampan bertubuh atletis, juga berjas hitam berjalan memasuki restoran. Tapi langkah kaki lelaki itu terhenti ketika melihat orang orang yang ada didalam tengah memandangnya secara bersamaan.
"Andrew?!", tiba tiba gadis berambut cokelat panjang tadi bersuara dengan nada terkejut.
Arabella juga terkejut melihat kedatangan lelaki itu.
Arabella awalnya tampak tak mengenalinya karena setau dia, lelaki bernama Andrew yang sering ia sebut ' om ' itu memiliki kumis dan janggut tebal. Sekarang yang ia lihat, lelaki itu tak berkumis atau berjanggut sama sekali, membuat Arabella baru tersadar bahwa sebenarnya lelaki itu sangat tampan. Eh..
Lelaki itu berjalan mendekat dan melewati Arabella. Arabella juga semua orang disekitar hanya diam ketika menyaksikan Andrew yang berdiri didepan wanita tadi dengan raut wajah emosi.
"Kau baru saja mencari masalah denganku. Sekarang kau mencari masalah baru?", raut wajah lelaki itu tampak menahan marah.
Raut wajah wanita berambut cokelat panjang tadi tampak berubah, "Tunggu dulu.. Wanita ini menumpahkan kopi ke tas ku, jadi wajar jika aku marah, Andrew!"
"Dengan mengatakan bahwa tasmu ini adalah jejeran brand paling mahal di dunia?"
Wanita itu tampak terkejut membulatkan mata. Ia terdiam beberapa saat, memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan menohok itu. Arabella, juga orang orang disekitar masih memperhatikan nya.
Sebenarnya ada apa sih?, tanya Arabella dalam hatinya.
Wanita itu tampak meneguk saliva, lalu mulai angkat bicara lagi, "Aku.. aku tidak-"
"Kau bahkan menyuruh mereka untuk mengganti tas mu itu? Wow, baiklah, betapa hebatnya dirimu.", Andrew memotong ucapan wanita itu.
"Kau mendengarnya? Kenapa kau bisa datang kesini tiba tiba? Bukankah kau bilang kau tidak jadi datang?", wanita tadi mengecilkan suaranya.
"Tidak perlu mengganti topik", Andrew berjalan mendekati Arabella. Lelaki itu melipat kedua tangannya didepan dada, lalu kembali menoleh ke arah wanita tadi, "Minta maaf pada gadis ini"
Wanita tadi tampak terkejut membulatkan matanya. Arabella juga sebenarnya agak terkejut karena om om itu, lebih tepatnya Andrew, seakan tengah membelanya.
"Tidak. Dia yang memulai masal-", ucapan wanita itu terhenti ketika Arabella mengulurkan tangan didepannya. Dengan senyuman kecil, Arabella membuka mulut, "Nona, mari kita saling minta maaf. Anda boleh meminta ganti rugi pada saya, atau menyuruh saya mencuci tas anda. Saya akan melakukan nya"
Wanita itu malah memandang Arabella dengan kesal. Sebenarnya wajah nya memang sudah tampak kesal sejak tadi. Sudah beberapa detik Arabella mengulurkan tangannya, wanita itu masih tidak menyambutnya.
"Maaf, itu tidak mungkin", ujar wanita itu pada akhirnya.
Wanita itu malah mengambil tas nya yang ketumpahan kopi tadi, dan pergi dari sana. Semua orang yang tadi masih menontonnya, kini kembali dengan makanan yang ada di meja masing masing.
Arabella memandang kepergian wanita itu dengan bingung, ia lalu menurunkan jabatan tangannya.
Andrew menoleh ke arah para pelayan restoran dan koki di sekitarnya, termasuk Arabella yang ada di antara mereka. Dengan wajah yang segan, lelaki itu berjalan mendekati Arabella yang masih tampak kebingungan, "Arabella, saya minta maaf atas gadis itu tadi. Apa yang dikatakannya itu tidak benar. Tas itu bukan brand termahal di dunia, kau tak perlu menggantinya"
__ADS_1
Dahi Arabella berkerut, "Tuan kenal perempuan tadi?", tanyanya polos.
Tentu saja, kalau aku tak mengenalnya untuk apa aku memarahinya?, ujar Andrew dalam hatinya.
Tapi Andrew refleks tersenyum tipis mendengar Arabella menyebutnya tuan, tidak seperti biasanya gadis itu menyebutnya dengan sebutan ' Om '.
"Ya. Dan.. sekali lagi, aku minta maaf atasnya"
Lelaki itu kemudian pergi menuju pintu keluar. Arabella masih terpaku di tempatnya.
.
.
.
Di sisi lain, tepat setelah Andrew keluar dari tempat itu menuju ke arah seorang wanita yang berdiri seorang diri di trotoar jalan didepan Restoran. Wanita itu langsung memasang wajah masam ketika melihat lelaki itu berdiri didepannya.
Lelaki itu awalnya ingin membuka suara, untuk membicarakan masalah barusan. Tapi ketika ia lihat wanita itu memalingkan muka, ia membatalkan niatnya, dan berjalan pergi dari situ sambil berkata, "Aku pulang"
Wanita itu membulatkan matanya terkejut, "Hei, kau tidak mengatakan apapun padaku?"
Tapi lelaki itu tetap berjalan pergi, tidak menoleh kebelakang sedikit pun. Wanita tadi segera berlari mengejar, "Hei.. kenapa kau malah membela wanita itu? Orang ceroboh seperti itu perlu diberi pelajaran bukan?"
Andrew langsung menoleh cepat, "Kau lah yang harus diberi pelajaran karena terlalu membesarkan masalah!", kemudian lelaki itu berjalan pergi, meninggalkan wanita rambut panjang tadi yang hanya terdiam di tempat.
*
Disisi lain, seorang pria permantel hitam baru saja memasuki mansion besar miliknya. Setelah menaruh mantel hitamnya di sofa, tak lama kemudian seorang bodyguard bertubuh besar menghampiri nya dengan langkah terburu buru.
"Ada apa?", tanya lelaki mantel hitam itu.
"Tuan, kami dengar terjadi perdebatan antara Sophia dengan Arabella di sebuah restoran. Andrew juga ikut kesana, dan membela gadis itu", jelas si Bodyguard.
Lelaki bermantel hitam itu mengangguk angguk, "Lalu.. bagaimana dengan gadis itu? Apa dia marah pada Sophia, atau Andrew?"
"Itu bukan rencana anda, tuan?", tanya si bodyguard heran sambil mengerutkan keningnya.
"Hm.. tidak tidak"
Si bodyguard tampak menaikkan sebelah alisnya, "Wow, akhir akhir ini mereka malah sering bertemu tanpa harus kita buat akur rencana"
"Hahaha.. benar, aku juga heran kenapa Andrew, dan gadis itu akhir akhir ini sering bertemu dengan kebetulan", ujar si lelaki mantel hitam.
__ADS_1
"Apa perlu kita selidiki, tuan?"
Si lelaki mantel hitam berfikir sejenak sambil mengelus pelan dagunya. Setelah itu, ia tersenyum miring menyadari sesuatu, "Bukankah satu satunya kemungkinan, adalah.. Andrew menyukai gadis itu?"