Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Makan Bersama


__ADS_3

"Tuan, apa tidak masalah jika aku pergi ke restoran dengan pakaian sekolah begini? Mungkin.. lain kali saja, tuan", ujar Arabella, berusaha menolak dengan halus.


"Kalau begitu aku belikan kau gaun saja"


"Eh.. tidak begitu tuan,"


"Kalau begitu ya sudah, kau pergi dengan seragam kampusmu juga tidak masalah ", ujar Andrew.


Arabella berfikir sejenak. Ia takut kalau orang orang nantinya akan berfikir bahwa mereka seperti om dengan gadis remaja.


"Tuan.. bukankah nanti kita terlihat seperti om dan anak?", tanya Arabella, Andrew langsung menoleh cepat.


"Aku setua itu dimatamu? Kita hanya selisih 4 tahun", ujar Andrew agak galak.


"Kalau ada orang disana yang mengatakan seperti itu, akan kusumpal mulutnya dengan uang. Kau tenang saja", lanjut Andrew yang masih fokus menyetir.


Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sampai di sebuah restoran desain mewah bernama 'Per Se'.


Di area parkir pun sudah terlihat mewah, belum lagi isi restoran ini.


Andrew yang telah turun dari mobil segera menyodorkan tangannya pada gadis itu. Arabella refleks menghindarinya, membuat lelaki itu memelototinya.


"Apa kau tak mau tanganmu di genggam oleh seorang Andrew Darian?", tanya lelaki itu dengan nada menyebalkan.


"Ng.. baiklah", ujar Arabella pelan, dan terpaksa dia genggam tangan kanan lelaki itu.


Mereka berdua berjalan bersama memasuki pintu masuk restoran. Di dalam restoran, ternyata tidak sebesar dilihat dari luar. Ternyata jumlah pengunjung restoran ini dibatasi setiap harinya. Satu hari hanya menerima 34 orang, dan kebetulan sekali mereka berdua ialah pengunjung yang ke 33 dan 34.


Di dalam, terlihat ada bermacam macam bentuk meja. Tapi Andrew memilih meja persegi yang dimana hanya muat untuk dua orang.


Andrew duduk di kursi dekat meja itu, dan satu satunya bangku yang tersisa adalah bangku yang bersebrangan dengan Andrew. Andrew memberi kode agar Arabella duduk di bangku itu. Arabella mau tak mau ikut duduk di bangku kosong itu.


Arabella menatap ke sekeliling nya dengan segan. Semuanya serba mewah, mulai dari isi restoran, hingga pengunjung nya juga berpakaian serba mewah.

__ADS_1


Yang Arabella suka dari tempat itu ialah suasana yang tidak berisik, dan ada alunan biola yang merdu yang dimainkan oleh beberapa lelaki berjas hitam di sudut ruangan. Suasana yang klasik dan indah.


Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang pelayan restoran dengan membawa dia piring kecil yang entah berisi apa.



Arabella benar benar tidak tau disebut apa makanan itu.


"Ini makanan pembuka", ujar Andrew yang menyadari keheranan Arabella.


"Ng.. kalau saya boleh tau, harganya berapa, tuan?", tanya Arabella.


Andrew tersenyum kecil.


"Jangan tanyakan harganya, Arabella. Kau makan saja dengan tenang", jawab lelaki itu.


Arabella tentu tidak tenang. Karena saat melewati area pintu tadi, terdapat tulisan 'Minimal Harga per orang ialah 150 dollar ( Rp. 2.155.000 )'


Bisa saja harga kue kecil ini lebih dari harga itu kan?


Ketika Andrew mulai menyantap makanan kecil tersebut, Arabella masih diam di tempatnya. Lelaki itu menggunakan pisau dan garpu untuk memakan kue kecil itu, sementara Arabella yang selama ini makan pakai tangan agak kebingungan.


"Arabella, apa kau berniat untuk lepas dari pekerjaan detektif mu?", tanya Andrew tiba tiba.


"Ng.. sepertinya tidak"


"Bukankah menjadi detektif itu.. merepotkan?", tanya lelaki itu lagi.


Arabella juga merasa seperti itu pada awalnya. Tapi selain karena misi dari sistem, ia juga sudah terlalu jauh masuk ke dalam dunia detektif. Lagipula tugas yang diberikan kepada Arabella tidak semerepotkan tugas yang dibebankan oleh para detektif lain seperti Nael contohnya.


"Tidak"


"Apa tidak mengerikan?", lelaki itu bertanya lagi. Arabella menggeleng.

__ADS_1


"Tidak, tuan"


Andrew terkekeh kecil mendengar jawaban Arabella.


"Karena kau belum lama", ujar lelaki itu, dan Arabella langsung mengernyitkan dahi heran.


Arabella tidak menjawab apapun. Ia hanya memperhatikan lelaki itu yang tengah melanjutkan makannya.


"Tapi..", Andrew menjeda kalimatnya, "Aku ingin kau lepas dari detektif jika kita jadi menikah nanti", lanjut Andrew yang membuat Arabella terbatuk.


*


Ketika pulang dari restoran itu, Arabella di antar pulang oleh Andrew. Sesampainya di dalam rumah kosnya, ia teringat kembali kata kata Andrew tentang pernikahan mereka.


Setelah Andrew mengatakan bahwa dia ingin Arabella lepas dari detektif saat mereka menikah, Arabella tidak menanyakan apapun.


"Apa lelaki sombong itu sudah berubah fikiran? Kenapa dia tiba tiba jadi membahas pernikahan?", tanya Arabella seorang diri.


Arabella ingat saat pertama kali dirinya dipertemukan dengan Andrew, 4 bulan yang lalu. Lelaki itu langsung menolak dirinya, bahkan itu terjadi saat Arabella baru masuk ke dalam pintu rumahnya.


Arabella tiba tiba berfikir tentang hal lain, apa kira kira yang membuat tuan Andrew berubah fikiran.


Ia mencoba menimbang berat badannya. 64 kg. Sudah turun 4 kg selama dua Minggu. Arabella tersenyum senang.


"Tapi.. aku kan masih gemuk. Apa mungkin saat di restoran tadi, tuan Andrew membahas pernikahan dengan serius? Lagipula, wanita wanita yang menjadi temannya banyak sekali yang lebih cantik dari pada aku", gumam Arabella seorang diri. Sosok yang difikirkannya tidak jauh jauh, Sophia contohnya. Wanita itu memiliki kecantikan bak model.


Setelah Arabella merebahkan diri sejenak di atas tempat tidurnya, matanya terarah pada t shirt putih nya yang tergantung di dinding. Itu baju yang ia pakai saat berkunjung ke rumah Vino beberapa hari lalu.


"Oh! Surat itu!", pekik Arabella. Ia tiba tiba teringat dengan sebuah surat bercak darah yang ia temukan di teras rumah Vino.


Ia menaruhnya di saku t-shirt putih itu. Arabella segera mengambilnya, dan membaca kembali isi surat mengerikan itu.


Arabella kemudian memotret surat itu, dan mengirimkannya pada seseorang.

__ADS_1


__ADS_2