
Sesampainya di kampus, Arabella melihat pemandangan di halaman depan seperti biasa. Yeah, walaupun kemarin ada kasus pembunuhan disitu, tapi nampaknya proses pembelajaran masih berlangsung dengan normal.
Ketika baru saja memasuki gerbang, Arabella melihat seorang gadis berseragam putih yang cukup ia kenal. Itu Vilia. Ketika mata mereka kebetulan bertemu, Vilia mengedipkan sebelah matanya, seakan memberi kode agar Arabella pura pura tidak mengenalnya.
"Hei! Arabella!"
Arabella sedikit terkejut karena ada yang menepuk bahunya dari belakang. Ternyata Rachel. Gadis itu memang sering usil.
"Kau membuatku terkejut saja, ada apa?"
"Tidak ada apa apa, aku hanya memang ingin membuatmu terkejut", gadis itu lalu cegengesan.
"Eh! Bukan bukan! Aku hampir lupa. Aku tadinya mau minta kau untuk menemaniku memberikan sesuatu pada cintaku, hehe", gadis itu cengengesan lagi.
Arabella menaikkan sebelah alisnya,"Cintamu?"
"Nael! Hihihi"
Arabella mengangguk angguk kan kepala.
__ADS_1
"Apa yang mau kau berikan padanya?", tanya Arabella. Rachel terlihat menahan senyumnya. Lalu, gadis itu mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil berwarna hitam.
"Aku sudah membelikan jam tangan untuknya. Aku harap ia mau menerimanya. Mahal pula harganya", ujar Rachel.
Arabella membelalakkan mata mendengarnya.
"Nael.. sudah punya jam tangan", ujar Arabella mengingatkan.
"Iya aku tau", ujarnya,"Awalnya aku hendak memberikannya sebuah surat cinta. Tapi aku takut kalau surat cintaku nantinya akan berakhir tragis seperti bunga mawar yang kita lihat waktu itu", ujar Rachel mulai lebay.
"Maksudku, kalau aku memberikan laki laki itu barang murah, dia pasti tak segan membuangnya. Tapi kalau jam tangan ini? Dia tak mungkin Setega itu untuk membuangnya kan? Sebab itulah aku belikan dia jam tangan ", lanjut Rachel.
Arabella mengangguk faham.
"Sekarang. Ayo!"
*
Arabella dan Rachel sedang mengintip intip dari depan pintu kelas Hukum 3. Mereka belum melihat sosok Nael di dalam kelas itu. Lelaki itu sepertinya belum datang.
__ADS_1
"Menurutmu, lebih bagus aku letakkan namaku di atas kotak ini, atau didalam?", tanya Rachel.
"Keduanya sama saja. Yang penting ia tau bahwa hadiah itu ialah darimu", jawab Arabella.
Setelahnya, Rachel langsung memberanikan diri untuk memasuki kelas, lalu berjalan pelan pelan menuju bangku yang biasa diduduki Nael. Rachel menaruh kotak kecil itu ke dalam laci meja. Tapi baru saja hendak memasukkan kotak itu ke dalam laci meja tersebut, ia tampak mengernyitkan dahi heran.
"Kenapa kau tampak ragu memasukkannya tadi?", tanya Arabella setelah Rachel selesai memasukkan kotak kecil itu.
"Ini gila, Arabella. Kau tau? Ternyata ada banyak yang memberi bingkisan bingkisan seperti tadi pada Nael, bukan aku saja. Surat cinta juga banyak. Aku melihatnya tadi di laci meja lelaki itu!", jawab Rachel dengan mata membulat.
Arabella menaikkan sebelah alisnya mendengarnya. Ia tak menyangka kalau Nael punya fans sebanyak itu.
"Itu luar biasa", ujar Arabella.
"Itu mengerikan, Arabella! Aku bisa kalah saing..", ujar Rachel dengan wajah cemberut.
"Tenanglah, dia pasti akan melihat hadiah darimu.", ujar Arabella.
"Kau tau Arabella? Kalau Nael mau memakai jam tangan yang kubelikan, maka aku akan membayari mu untuk makan di sebuah restoran", ujar Rachel. Arabella terkekeh geli mendengarnya.
__ADS_1
"Kau baik sekali. Kau harus menepati janjimu itu, oke?"
"Tentu saja", jawab Rachel percaya diri, lalu mereka berdua tertawa bersama.