
Saat ini Arabella tengah berdiri tak jauh dari area teras kantor polisi tujuannya. Ia tengah menunggu lelaki yang tengah duduk santai di bangku teras itu menyapanya duluan. Tapi rasanya tidak mungkin karena sejak satu menit lalu, lebih tepatnya sejak Arabella sampai ke tempat itu, lelaki itu bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Lelaki itu hanya sibuk membaca sebuah buku tebal yang tebalnya melebihi kamus kamus yang selama ini pernah Arabella lihat.
Arabella masih menunggu selama beberapa saat. Menyadari kalau lelaki dingin itu tak mungkin menyapanya duluan, Arabella berdecak.
"Kak Nael ini sebenarnya melihatku atau tidak sih?", tanya Arabella pelan. Tapi nampaknya lelaki itu mendengarnya karena lelaki itu langsung menoleh ke arah Arabella.
"Kau mau masuk atau terus berpanas panasan disitu?"
"Eh?", Arabella mengerjap ngerjapkan matanya.
Eh astaga, harusnya bilang dari tadi, jadinya aku tak menunggu disini. Aku fikir kau lupa kalau kau yang mengundangku kesini, ujar Arabella kesal dalam hatinya.
Arabella berjalan memasuki ke area teras, lalu segera duduk di bangku panjang tempat lelaki itu duduk. Tapi Arabella memberi jarak 2 meter dari tempat lelaki itu berada.
Terjadi keheningan beberapa saat. Arabella melirik sejenak lelaki yang masih sibuk membaca buku itu.
Dia menyuruhku untuk masuk untuk tidak melakukan apapun ?, gumam Arabella dalam hati.
Ia menghela nafas sejenak, dengan mata yang masih tertuju ke arah lelaki itu.
Dari samping, terlihat hidungnya yang mancung, alis yang tebal, kulit yang putih bersih, mata sayu, rahang tajam, rambut yang cepak tapi klimis. Arabella tidak tau kenapa dirinya tidak bisa melepas pandangannya saat itu. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sudah memandangi lelaki itu sampai 2 menit.
"Hentikan itu"
Arabella agak tersentak, ia lalu membalikkan wajahnya pura pura tidak tau, "Eh? Hentikan apa kak? Hehe"
Lelaki itu menoleh, kemudian menaruh buku raksasa itu di bangku kosong sebelahnya. Tampaknya ia sudah selesai membaca buku. Nael berjalan mendekati Arabella. Tatapan lelaki itu yang begitu datar membuat Arabella kebingungan.
"Push up"
Arabella terbengong, "H-hah?"
"Aku bilang, push up"
Ih astaga, beri tau aku apa itu push up. Kalau kau hanya menyuruh seperti itu, bagaimana aku melakukannya?!
"Hah? Gimana kak maksudnya?", Arabella berusaha bertanya dengan sopan, meskipun ia sedang kesal sekarang.
__ADS_1
"Lakukan push up", Nael mengulang jawaban.
Arabella yang hampir seumur hidup tak pernah olahraga tentu tak tahu apa itu push up.
Ia hanya melakukan olahraga sejak Queen System muncul. Itupun hanya lari lari keliling rumah sewanya.
Meskipun masih tidak mengerti apapun dengan yang dimaksud lelaki itu, Arabella tetap menurutinya.
Arabella turun dari bangku dan duduk di lantai. Ia lalu menidurkan tubuhnya, menggenggam kedua telinganya dengan tangannya, dan menekuk kedua kakinya. Setelahnya, Arabella melakukan gerakan berulang ulang naik turun hingga kepalanya menyentuh lututnya yang ia tekukkan.
Meskipun bobotnya yang 65 kilo masih dikategorikan gemuk, tapi Arabella cukup mudah melakukan itu.
"Begini kan kak?", tanya Arabella dengan senyum paling lebar. Ia merasa bangga karena bisa melakukan gerakan itu berulang ulang tanpa hambatan.
"Itu sit up"
Senyum Arabella langsung memudar. Gadis itu lalu bangkit berdiri dan membersihkan roknya, "Jadi push up itu yang seperti apa kak?"
Tanpa menjawab, Nael langsung mempraktekkan apa itu push up. Lelaki itu langsung melakukan push up 20 kali selama 8 detik tanpa hambatan. Arabella menyadari kalau ia tak pernah melakukan itu sebelumnya. Ia sering melihat orang orang melakukan itu, tapi ia tak pernah tau nama nya apa.
"Sekarang giliranmu"
Arabella mengangguk mantap, lalu segera memposisikan tubuhnya sebelum melakukan gerakan yang barusan dipraktekkan lelaki tadi. Dan nyatanya, Arabella langsung lemas saat hendak menaikkan beban tubuhnya. Sekali push up pun belum dilakukan nya.
Arabella mencoba melakukan nya sekali lagi, tapi tetap saja ia keberatan untuk menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya. Ia langsung pasrah dan membiarkan dirinya tertidur di lantai.
"Lemas kak", ujar Arabella polos. Ya, Arabella memang sering mengucapkan kata kata ambigu, karena saking sucinya otaknya, ia tidak berfikir bahwa kalimat kalimat yang diucapkan nya bisa membuat fikiran orang traveling.
"Bangun"
Arabella langsung bangkit berdiri ketika mendengar aba aba dari Nael. Lelaki itu melipat tangannya didepan dada, dan memasang wajah datar ke arah Arabella. Arabella menggaruk kepala yang tidak gatal, tidak mengerti kenapa Nael tiba tiba memasang wajah datar kearahnya.
"Kau perlu diet dan juga olahraga, untuk bisa melakukan tes ini dengan mudah"
Arabella menundukkan kepalanya. Ia sadar bahwa tubuhnya ini benar benar kelebihan bobot. Ia tentu susah untuk melakukan Push up.
Mereka berdua terdiam lagi selama beberapa saat. Arabella tiba tiba teringat sesuatu, tentang bunga mawar yang diberikan oleh penjaga kampus padanya semalam.
__ADS_1
"Oh iya kak, apa bunga mawar yang dititipkan ke pak penjaga gerbang itu dari kakak?", tanya Arabella.
Dahi lelaki yang ada didepannya itu tampak mengernyit heran, "Bunga apa maksudmu?"
"Hm.. kalau bukan kakak, siapa lagi ya?", tanya Arabella bingung.
Nael menaikkan sebelah alisnya, "Seseorang menitipkan mu bunga?"
"Iya kak. Aku tidak tau siapa pemberinya sampai sekarang"
Nael berdeham kecil, "Sepertinya.. kau perlu mencari tau tentang itu "
"Benar sekali kak, sampai sekarang aku penasaran. Tapi aku tak bisa mencari sosok pengirimnya "
Nael mengangguk angguk. Gadis polos seperti Arabella tentu tak tau cara dan langkah langkah untuk menyelidiki kasus seperti itu.
"Aku akan membantumu"
*
Disisi lain, Andrew baru saja sampai di mansion raksasanya. Setelah keluar dari mobil Lamborghini mewah miliknya, ia memasuki pintu mansion nya dengan kesal. Sesampainya di dalam mansion, ia duduk sofa dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.
Ketika menyadari bahwa tuan mereka sedang kesal, para pelayan disana langsung menyediakan berbagai minuman untuk tuannya.
"Ada apa tuan? Kenapa wajahmu terlihat kesal?", tiba tiba Handry muncul. Lelaki itu memang diminta oleh Andrew untuk datang ke mansionnya untuk mengurus sesuatu.
"Gadis itu tidak menjawab apapun. Dia mengabaikan pesanku!"
Handry mengangguk angguk faham. Ia lalu berjalan mendekati bosnya itu, dan mencoba mencari cara untuk menenangkan hatinya.
"Aku rasa.. kau perlu cari berbagai cara yang lain tuan", usulnya.
Andrew menatap asistennya itu dengan dahi mengernyit, "Aku harus melakukan apa lagi? Melihat wajahku saja dia sudah tampak takut"
Mendengar itu, Handry terdiam beberapa saat, "Hm.. aku rasa, kau perlu mencari tau karakter lelaki seperti apa yang disukainya "
Andrew memikirkan cukup lama tentang kalimat dari asistennya itu, "Benar.. karakter.."
__ADS_1