
Setelah menelusuri rumah kediaman Edo, Arabella dengan yang lainnya keluar dan pergi ke rumah sakit forensik untuk melihat hasil otopsi pada jasad lelaki itu.
Ketika sampai di sana rabella benar-benar dibawa oleh Nael dan Tuan Steve untuk melihat langsung jasad Edo setelah otopsi dilakukan.
Tentunya Arabella benar-benar ketakutan, tapi kemudian karena ia menyadari tidak melihat adanya darah dibagian tubuh jasad lelaki itu, rasa takutnya memudar. Yang membuat dirinya takut sebenarnya ialah darah. Kalau tentang fisik jasad yang mengerikan itu, Arabella tidak terlalu menganggapnya mengerikan.
Jasad Edo bisa dibilang yang paling sadis dibandingkan dengan jasad jasad korban yang lainnya.
Mata lelaki itu keduanya menghilang, semua jarinya hilang ( ada di dalam kotak hadiah tadi ), kedua tangannya di potong, dan satu lagi yang lebih mengerikan. Alat kelaminnya di potong.
"Apa mungkin dia pernah melakukan kasus pemerkosaan?", tanya tuan Steve pada Nael dan tuan Hans.
Arabella menaikkan sebelah alisnya. Dia baru saja memikirkan tentang itu. Alat kelamin lelaki yang dipotong biasanya berhubungan dengan kasus seperti itu.
"Tapi.. berita tentang kasus pemerkosaannya belum pernah terdengar kan? Sebaiknya kita harus cek kasus kasus pemerkosaan mulai dari tahun tahun lalu", ujar Nael yang diangguki oleh kedua polisi itu.
"Bagaimana dengan hasil otopsi bagian dalam tubuh korban?", Lanjut Nael pada seorang dokter berjubah putih yang berdiri di seberangnya. Tentunya orang itu ialah dokter forensik.
"Tidak ada racun, atau hal apapun yang janggal didalam tubuh korban. Hanya ditemukan luka luar", jelasnya.
"Tuan, sebaiknya aku pergi sekarang untuk mencari kasus kasus pemerkosaan tahun tahun lalu. Mungkin saja kita pernah melewatkan kasus yang dilakukan lelaki ini", ujar Nael pada tuan Steve dan tuan Hans. Kedua polisi itu mengangguk.
"Aku boleh ikut?", tanya Arabella.
Nael yang baru saja hendak pergi dari ruangan segera menoleh ke belakang.
Dia tersenyum miring pada Arabella.
"Setelah melihat jasad ini, kau masih belum puas?", tanya lelaki itu.
Arabella pertama kalinya melihat seorang Nael tersenyum. Walaupun sebenarnya lelaki itu tidak tersenyum, tapi smirk terlihat seperti menantang.
"Aku bukan belum puas. Tapi.. aku penasaran bagaimana kau akan melakukannya", jawab Arabella.
"Oh, sebaiknya tidak dulu. Kalau ada waktu luang, atau setelah kasus ini selesai, aku akan mengajarimu bagaimana caranya", lelaki itu pun kemudian berlari keluar dari ruangan.
"Hhh.. Baiklah"
*
Arabella kembali ke rumahnya sekitar pukul setengah 4 sore. Setelah selesai membersihkan diri, ia merebahkan dirinya ke tempat tidur sejenak.
"Apa benar ada mahasiswa di kampus ku yang terlibat kasus pemerkosaan?", tanyanya seorang diri sambil menatap ke langit langit.
[ Ding! ]
__ADS_1
[ Misi ke tujuh kami luncurkan. Misinya adalah mencari pelaku pembunuhan dari Edo Frederick ]
Arabella refleks terbangun dari kasurnya. Dia juga sedang mencari cari tau tentang kasus itu.
"Wait, Queen System, apakah hadiah yang kudapatkan nanti akan disatukan dengan hadiah jika aku menyelesaikan misi sebelumnya? Maksudku, aku belum menyelesaikan misi kelima dan keenam. Pelaku belum ditemukan", jelas Arabella panjang.
[ Ding! ]
[ Tentu saja tidak, nona. Hadiah akan kami berikan sesuai dengan kerja keras anda untuk menyelesaikan misi ]
"Thanks, tapi.."
Arabella terdiam sejenak karena ia berfikir, pelaku dari semua pembunuhan yang ia temui akhir akhir ini, ialah hanya satu orang saja.
"Bagaimana jika ternyata pelaku atas kasus kelima, keenam, dan ketujuh ialah orang yang sama?"
[ Ding! ]
[ Tetap lakukan yang terbaik nona. Kami akan memberikan hadiah sesuai dengan kerja keras anda ]
"Eh? Dari mana kau tau kalau aku bekerja keras menyelesaikan misi ini? Apa kau bisa melihatku? Kau punya mata mata?"
Satu detik, dia detik, sepuluh detik, tak ada jawaban dari tuan sistem.
"Argh! Menyebalkan.."
*
Ketika Arabella baru saja memasuki mobil, lelaki itu menyodorkan sesuatu padanya. Sebuah bungkusan kecil berbentuk love.
Arabella mengernyit heran sambil mengambil bungkusan kecil itu.
"Apa ini?", tanya Arabella.
"Permen coklat", jawab Andrew sambil menyalakan mobilnya.
Arabella membulatkan matanya tak percaya.
"Tuan... Anda.. memberiku permen coklat?", tanya Arabella terbata sambil menatap kagum bungkusan permen coklat yang kelihatan mahal itu.
"Iya memangnya kenapa?"
"Ng.. t-terimakasih, tuan. Terimakasih banyak", ujar Arabella dengan mata yang masih membulat menatap ke arah permen coklat itu.
"Hmm", jawab Andrew singkat sambil terus fokus menyetir. Sesekali ia melirik ke arah wanita di sampingnya.
__ADS_1
"Baru saja di kasih permen coklat, sudah seterkejut itu. Kalau kuberikan kau cincin, sepertinya kau sudah pingsan", lanjut Andrew.
Arabella tak menjawab apapun, ia masih sibuk membuka perlahan bungkusan coklat itu.
"Oh, ya, apa di rumahmu sedang ada orang lain? Aku melihat sandal orang lain didepan pintumu tadi", ujar Andrew.
"Ibuku baru datang semalam siang"
"Benarkah? Kenapa tak memberitahuku?"
Untuk apa aku harus memberi tahumu?, tanya Arabella dalam hati.
"Memangnya untuk apa?"
"Wanita itu kan akan menjadi ibu mertua ku"
Arabella langsung membulatkan mata dan menoleh cepat ke arah lelaki di sebelahnya.
"Anda serius.. tuan?"
"Kau melihatku bercanda?", Andrew malah bertanya balik.
Arabella masih mengerjap ngerjapkan matanya.
"Jadi.. tentang pernikahan yang anda bahas akhir akhir ini.. itu serius? Itu akan menjadi kenyataan?", tanya Arabella masih tak percaya.
"Tentu saja, Arabella"
Arabella masih diam mematung di tempatnya.
"Benarkah?", tanya Arabella lagi. Andrew menepuk dahinya.
"Supaya kau percayai, siang ini, ajaklah ibumu untuk makan bersama di mansion ayahku. Kita akan langsung membahas tentang pernikahan",ujar lelaki itu dengan suara tegas.
Arabella meneguk salivanya.
Padahal ia yang dulu mengharapkan cintanya Andrew. Tapi kenapa sekarang ia jadi ragu?
"Ibuku sedang kurang sehat, jadi sepertinya dia tidak akan bisa pergi kesana hari ini", ujar Arabella.
"Oh, baiklah", Andrew menjeda ,"Kalau begitu, kita pergi berdua saja. Pilih tempat yang kau mau. Kita akan berbuka fikiran disana"
"Berbuka fikiran bagaimana?"
"Kau harus menjawab jujur apa yang kutanyakan, dan aku akan menjawab jujur apa yang kau tanyakan. Seperti main truth or dare", jawab Andrew.
__ADS_1
"Hm.. baiklah"