Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Menolak Panggilan


__ADS_3

Andrew baru saja sampai ke sebuah mansion mewah dari seorang temannya bernama Hans, seorang designer terkenal.


Lelaki itu baru saja memasuki sebuah ruangan yang ditujukan padanya, bersama dengan Handry. Ruangan itu nantinya tempat untuk nya memilah milah pakaian yang sengaja di desain Hans khusus untuknya.


"Bagaimana dengan jas ini menurutmu, Handry?", tanya Andrew pada Handry yang ada di sampingnya. Lelaki itu mencocokkan baju kemeja yang dipegangnya ke bagian tubuhnya. Ia sudah hampir seperti enak emak saat coba coba baju di toko baju.


"Sangat bagus tuan. Semuanya cocok untukmu", ujar Handry jujur tak dibuat buat. Tentu saja, dengan wajah tampan, tubuh tinggi proposional, kulit yang bersih, membuat Andrew cocok memakai pakaian apa saja dengan baik. Jika Andrew memakai baju rombeng seperti yang sering dipakai orang jalanan pun, rasanya ia tetap tampan.


"Haha, terimakasih atas pujiannya", ujar Andrew terkekeh kecil.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan tiba tiba diketuk dari luar. Seorang lelaki yang merupakan salah satu asistennya memasuki ruangan.


"Tuan Andrew, ada seorang wanita yang hendak menemui anda"


Tanpa basa basi, Andrew langsung berkata, "Silahkan dia masuk"


Tak lama kemudian, seorang wanita dengan dress pink yang indah memasuki ruangan itu.


Dengan sepatu high heels yang dipakainya, juga dengan kaki jenjangnya yang terlihat karena wanita itu memang memakai rok pendek, membuat wanita itu semakin tampak anggun.


Wanita itu tak lain adalah Sophia. Nampaknya Andrew sudah bisa menebak wanita yang dimaksud asistennya tadi adalah Sophia, sehingga ia langsung mengizinkan wanita itu untuk masuk.


"Bagaimana kau bisa tau aku ada disini?", tanya Andrew heran.


"Sesuatu. Aku mendapat informasi dari salah seorang bodyguard mu", jawab Sophia sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Andrew berdecak, karena merasa ada bodyguard nya yang bermain main dengannya.


Walaupun tidak ada bahaya sekali atas kedatangan Sophia ke tempat itu, tapi tetap saja Andrew tidak suka kalau ada bodyguard nya yang memberi tahu gerak geriknya pada orang lain, meskipun itu pada orang terdekatnya.


"Untuk apa kau datang kesini?", tanya Andrew.


Sophia langsung memasang wajah cemberut, "Memangnya kenapa? Kau merasa terganggu?"


"Yeah..", Andrew mengangguk angguk, "Meskipun bukan sekarang, tapi sebentar lagi kau pasti akan menggangguku"


Sophia berdecak kesal, keningnya terlihat berkerut dalam, "Aku bukan ingin mengganggumu. Aku kesini hanya untuk menanyakan padamu tentang itu. Kenapa kau memesan baju pada tuan Hans? Apa kau sedang ingin menghadiri suatu acara?"


"Sudah kubilang kan, kau akan menggangguku", ujar Andrew tanpa melihat ke arah Sophia. Ia masih sibuk mencocok cocokkan pakaian pakaian yang ada di depannya.


"Ck, Andrew jawab aku!"


"Tidak, aku tidak ingin menghadiri acara apapun ", jawab Andrew pada akhirnya.


"Tidak ada apa apa "


"Ck, jangan berbohong!", ujar Sophia dengan suara tinggi.


"Aku sedang ingin menemui gadis yang kusuka", jawab Andrew serius, membuat Sophia membulatkan matanya.


Siapa gadis yang dimaksud lelaki ini?, tanyanya dalam hati.


*

__ADS_1


Saat sore hari, tepatnya pukul 5 sore, Arabella baru saja selesai membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia melirik sekilas ke arah sofa dimana ibunya tengah tertidur. Ibunya itu sebenarnya bukan tidur, ia pingsan setelah Arabella berkata bahwa ia telah menjadi detektif.


"Ckckck.. kalau hanya dengan mengatakan itu saja mama sudah pingsan, bagaimana kalau mama melihatku nanti pegang pegang pistol ya? Bisa pingsan tiap hari mama", gumam Arabella seorang diri sambil terus memperhatikan ibunya fair kejauhan.


Drrtt.. Drrtt..


Tiba tiba terdengar suara dering telepon. Arabella langsung mengenal bahwa itu suara dering telepon nya. Ketika ia menghampiri kamarnya untuk mengambil ponselnya itu, ia mengerutkan dahi karena melihat tulisan 'Om tidak dikenal' di layar ponselnya.


Sebenarnya itu adalah nomor ponsel Andrew - nomor ponsel yang dipakai Andrew khusus untuk diberikan kepada Arabella - . Arabella sendiri menuliskan nama itu setelah Andrew memberikan nomor itu padanya.


Tapi Arabella tampak kebingungan melihat tulisan itu, "Om tidak dikenal? Ini siapa ya?", tanya Arabella.


Arabella bukan hanya polos, tapi juga pelupa.


Arabella mencoba untuk mengingat siapa sosok yang ia beri nama 'Om tidak dikenal' itu. Ia terlihat benar benar lupa, padahal Andrew memberikan nomor ponselnya itu tak lebih dari dua Minggu yang lalu.


"Matikan aja deh, tidak mungkin aku pernah menyimpan nomor om om", ujar Arabella sambil mematikan panggilan.


"Hm.. tapi kalau aku tak pernah menyimpan nomor ini, kenapa bisa ada di ponsel ku ya?", tanya Arabella polos pada dirinya sendiri.


Drrtt.. drrtt..


Nomor telepon yang barusan ditolaknya tadi memanggilnya lagi.


"Eh? Orang ini memanggilku lagi?", tanya Arabella kesal, tanpa basa basi ia langsung mematikan kembali panggilan tersebut.


[ Ding! ]

__ADS_1


Tiba tiba muncul suara notifikasi dari Queen System.


[ Nona, anda tidak boleh menolak panggilan dari Andrew Darian! ]


__ADS_2